Tag Archives: traveling tips

Traveling

Saya hampir selalu punya masalah dengan traveling. Keinginan traveling itu biasanya datang secara tiba-tiba, di siang hari bolong atau di malam hari bengong, dan bisa dicetuskan oleh apa saja.

Pencetus yang cukup sering adalah mendengar informasi tentang teman yang traveling ke suatu tempat (ini sebenarnya ngiri.com tapi saya nggak mau ngaku). Tidak semua tempat bisa memicu keinginan traveling saya, dan ketika keinginan itu terpicu pun, tempat yang dipilih tidak berarti sama dengan tempat yang dikunjungi teman tersebut. Sampai detik ini, mendengar kata “Bali” akan membuat saya kelimpungan, walaupun pada akhirnya belum tentu saya pergi ke Bali (bahkan, belum tentu juga akhirnya pergi).

Pencetus lain adalah foto-foto indah seputar tempat pariwisata. Di toko buku, rak bagian traveling adalah musuh besar saya, terlebih bila dipenuhi panduan keluaran DK, Lonely Planet, Frommers, atau buku impor lainnya. Sampul depan buku-buku itu hampir selalu membuat saya ingin menggaruk kepala, dan akhirnya jadi menggaruk aspal begitu ingat biaya yang harus dikeluarkan. Dan ujung-ujungnya, bila saya memutuskan pergi, biasanya pilihan akan jatuh ke ….. Bali.

Masih banyak lagi pencetus traveling bagi saya: melihat baju renang yang dipajang di konter toko (yang sudah pasti akan mengingatkan saya pada Bali), mendengar tukang sayur bicara dengan logat jawa yang kental (beli tiket ke Yogya), melihat desain rumah yang mengambil tema khusus seperti mediterania atau Bali, memandang wajah orang yang identik dengan tempat tertentu, melihat logo penerbangan, beres-beres lemari dan menemukan paspor, melihat tulisan ‘Bandara Soekarno-Hatta’ di papan penunjuk jalan, atau bahkan melihat isi dompet. Anehnya, untuk yang terakhir ini, jumlah yang ada di dompet malah tidak berbanding lurus dengan keinginan; semakin sedikit isi dompet, keinginan untuk traveling biasanya malah lebih kencang, dan tempatnya jadi semakin jauh.

Bila keinginan traveling sudah muncul, biasanya yang terjadi adalah sebuah sikap membabi-buta seperti seorang teroris yang penuh kemarahan dan harus menemukan pelampiasan. Dimulailah berjam-jam waktu di depan komputer untuk mengebrowse tiket, yang jeleknya lagi, belum tentu dimulai dari tempat yang ingin dikunjungi. Rasa penasaran saya seringkali tak berdasar, seperti, “Mau cari tiket ke Yogya, tapi penasaran berapa sih sekarang harga tiket ke Eropa atau Amerika Selatan? Dengan tiket langsung? Dengan transit? Dengan airline A, B, atau C?……..” Pffff, bisa dibayangkan berapa lama waktu yang dihabiskan hanya untuk akhirnya membeli tiket Airasia ke Yogya!

Setelah tiket di tangan, kegairahan membabi-buta itu mendadak raib. Dicari kemana pun nggak bakal ketemu. Dan semakin mendekati hari H, timbullah penyesalan demi penyesalan, dimulai dari gerutuan karena merasa lebih enak tidur-tiduran daripada traveling, hingga masalah klasik keuangan yang pasti bakal semakin menipis.

Gerutuan ini berlanjut biasanya hingga H-1. Saat itu saya dengan panik akan mulai berkemas-kemas, merapikan barang yang ingin dibawa, sambil tetap menggerutu, tentunya.

Dan ketika akhirnya saya duduk manis di kursi pesawat menunggu pesawat lepas landas, semua penyesalan dan gerutuan mendadak raib tanpa pamit, seperti kedatangannya yang tidak diundang.

Berikut tips perjalanan untuk para pembaca, dengan target utama si Clio yang malasnya minta ampun…. Yes, YOU, Clio!”

  1. Dengan adanya penerbangan murah, tiket bisa dibeli jauuuuuh sebelum keberangkatan dengan harga lebih murah. Usul saya, sambar saja dulu, terlepas ketidaktahuan kita bahwa di tanggal yang masih berbulan-bulan ke depan itu kita bisa berangkat atau tidak. Bila akhirnya tiket hangus, kerugiannya tidak sebesar bila kita membeli tiket dengan harga tinggi.
  2. Bila membeli tiket ke luar negeri di saat-saat terakhir sebelum kepergian dan negara yang bersangkutan membutuhkan visa, jangan lupa bahwa pengurusan visa bisa bervariasi, tergantung musimnya. Dan kadang yang disebut ‘musim’ adalah persepsi di negara itu, bukan persepsi kita. So, beware and be prepared.
  3. Siapkan daftar bawaan secara umum, walaupun belum ada rencana perjalanan. Barang yang dibawa dalam perjalanan ke manapun sebenarnya selalu sama; variasinya hanya di jumlah. DAN, yang biasanya ketinggalan saat bepergian adalah barang-barang kecil yang ‘harus’ dibawa. Kata ‘harus’ di sini tentunya relatif, bisa berbeda-beda untuk setiap orang. Untuk saya, contohnya adalah gunting kuku, gunting kecil, charger hp, cotton buds, dan obat alergi. Seorang teman selalu memasukkan lakban ke dalam daftarnya.
    Catatan: perbedaan daftar bawaan baru berbeda secara signifikan bila mengunjungi negara dengan musim yang kontras, jadi sebaiknya buat dua daftar: satu untuk perjalanan musim dingin, satu untuk perjalanan musim panas. Ini berlaku juga untuk daftar obat.
  4. Selain daftar barang bawaan, buat juga daftar dokumen yang perlu dibawa. Paspor dan tiket adalah dua hal yang wajib bila bepergian ke luar negeri. Walaupun tampaknya tidak mungkin tertinggal, tapi bukannya nggak ada lho kasus ketinggalan dua barang ini dan baru tersadar saat di airport 🙂 Untuk kelengkapan daftar, usul saya sih tulis semua dokumen yang diperlukan untuk perjalanan ke luar negeri. Bila nanti perginya ke tujuan di dalam negeri, kan yang lain tinggal dicoret. Contoh daftar dokumen: tiket, paspor, fotokopi tiket, fotokopi paspor, NPWP dan fotokopinya, kartu identitas beserta fotokopinya, fotokopi akte anak, fotokopi kartu keluarga, formulir pemesanan hotel, itinerary atau rencana perjalanan, dsb.
  5. Jangan lupa tinggalkan pesan di rumah tentang rincian perjalanan kita. Dengan kemajuan komunikasi seperti telepon genggam dan internet, komunikasi harusnya tetap lancar. Masalah muncul bila tujuan kita adalah area yang sulit dijangkau, misalnya bepergian ke negara-negara yang sedang konflik, atau ke pedalaman. Pastikan seseorang tahu persis seperti apa jadwal kita, terutama kapan harusnya kita bisa dihubungi kembali, sehingga bila ada hal-hal tak diinginkan bisa segera ditanggapi dengan tepat.
  6. Untuk yang mereka yang terstruktur, sebaiknya informasi tempat-tempat yang ingin dikunjungi selama perjalanan dikumpulkan sebelum berangkat. Untuk yang tidak terstruktur, just sit back, relax, and pray for the best. Kedua tipe ini di atas kertas akan sangat ideal bila bepergian bersama-sama, tapi dalam kenyataannya bisa jadi akan berkelahi sepanjang jalan.
  7. Cek koper dan kuncinya beberapa hari sebelum keberangkatan, dan mulailah mengira-ngira kebutuhan volume berdasarkan daftar bawaan. Ini adalah salah satu keuntungan bila kita mempunyai list barang bawaan. Kadang, hanya dengan mengira-ngira saja, kita merasa cukup dengan koper ukuran sedang, tapi ternyata dengan banyaknya jumlah barang tetek-bengek yang perlu dibawa, ternyata kita sebenarnya perlu koper yang lebih besar. Lakukan proses ini minimal beberapa hari sebelum keberangkatan, supaya masih ada waktu kalau perlu beli koper baru atau kunci baru.
  8. Jangan sampai salah busana saat berangkat. Idealnya, busana yang dipakai saat berangkat harus sesuai juga dengan busana saat tiba di tujuan. Tentu mudah dibayangkan bila kita berangkat dari Jakarta yang panasnya minta maap, menuju Bali yang panasnya minta ampun. Tapi bagaimana dengan berangkat dari Bali yang panasnya minta ampun, ke Hongkong yang ternyata lagi badai dan dinginnya super ancur? Cek laporan cuaca dan siapkan baju ganti di tas jinjing yang dibawa ke kabin, kalau perlu.
  9. Berangkat ke airport. Aktivitas sederhana ini adalah penentu perjalanan. Mulai dari berangkat pada waktu yang tepat dengan mempertimbangkan kondisi lalu lintas, posisi dokumen-dokumen perjalanan, uang tunai untuk pembayaran-pembayaran di airport dan selama perjalanan, kunci koper (kalau masih pakai yang manual), tas jinjing, baju yang mau dipakai (masih kusut hingga perlu setrika lagi),  hingga minum obat sakit perut (kalau lagi sakit perut).
  10. Dengan asumsi sampai di airport dan berhasil check-in dengan selamat, perhatikan waktu boarding atau naik pesawat. Ini terutama sangat penting bila berada di airport canggih dengan deretan toko seperti pusat perbelanjaan. Dan kalau mengecek waktu, jangan kelewat pede menggunakan arloji pribadi, terlepas seberapa mahal arloji itu. Gunakan jam yang terpampang di airport, baru crosscheck ke arloji di tangan. Siapa tahu arloji sudah rusak dan masih sempat beli arloji baru di airport.
Kalau ada yang punya tips tambahan, silakan tulis di komen.

Bon voyage.

 

 

Leave a comment

Filed under Travel