Tag Archives: The Alchemist

Personal Legend / Passion / Misi Hidup

Paulo Coelho menyebutnya dengan Personal Legend.
Rene Suhardono menggunakan kata Passion.
Banyak orang menamakannya Misi Hidup.

Saya memakai ketiga istilah itu bergantian, karena menurut saya ketiga hal tersebut sama-sama membawa kita hingga tiba pada pertanyaan mendasar: apa tujuan kita ada di dunia ini atau apa maknanya menjadi seorang manusia di muka bumi ini.

Saya pernah menjadi orang yang tercenung saat menerima pertanyaan tersebut bertahun-tahun yang lalu. Saat itu, saya punya kehidupan yang bisa dikatakan mapan dengan pekerjaan tetap di perusahaan multinasional. Yang mengganggu saya hanya satu: kenapa rasanya ada yang ‘tidak beres’? Ada ruang kosong di hati saya yang sedemikian gelisah, seolah-olah kehidupan yang saya jalani itu adalah sebuah ilusi.

Saya lalu mencoba bertanya ke diri sendiri, apakah saya sanggup menjalani rutinitas yang sama hari-demi-hari selama berpuluh tahun ke depan hingga mencapai usia pensiun (bangun jam 5 pagi, berangkat ke kantor jam 5.30, tiba di rumah pukul 18.30, main dengan anak hingga jam 21.00, lalu tidur)?

Pertanyaan itu langsung membuat saya bergidik. Dan reaksi itu langsung membawa saya ke pertanyaan inti: kalau begitu, untuk apa saya melakukan semua itu? Kalau saya tidak bisa menemukan makna dalam apa yang saya kerjakan, apakah saya melakukannya demi selembar slip gaji setiap bulan? Berarti, itukah makna hidup saya, selembar slip gaji setiap bulan?

Jangan salah sangka dengan pernyataan saya di atas. Pertanyaan retoris itu bukan dimaksudkan untuk merendahkan atau menghina mereka yang statusnya pekerja dengan mengatakan bahwa makna hidup mereka hanyalah senilai slip gaji per bulan. Tidak ada yang salah dengan sebuah pekerjaan atau profesi. Sebuah profesi hanyalah bentuk ekspresi, dan sebuah ekspresi tergantung dari orang-orang yang berekspresi. Jadi kalau seseorang tidak bisa menemukan makna dalam sebuah profesi, itu disebabkan karena orang tersebut TIDAK BISA memberikan makna atas profesi tersebut. Dan inilah masalah saya: tidak bisa memberikan makna pada pekerjaan rutin yang saya lakukan.

Pertanyaannya, kenapa tidak bisa?

Saya menemukan jawabannya di buku Paulo Coelho berjudul The Alchemist. Menurut Paulo, setiap orang diciptakan ke dunia dengan ‘Personal Legend’ masing-masing. Bila diterjemahkan secara bebas, Personal Legend atau Legenda Pribadi adalah sebuah misi khusus yang harus dijalankan oleh kita di dunia, yang untuk itulah sebenarnya Tuhan mengirim kita. Dalam lubuk hati yang terdalam, seorang manusia tahu apa misi hidupnya ini, namun karena manusia sudah terdistorsi oleh hal-hal eksternal (keinginan orang lain, ekspektasi lingkungan, ego, dsb), keinginan itu terkubur dalam-dalam.

Dalam The Alchemist yang berformat novel tersebut, Paulo menyatakan bahwa walaupun pada awalnya kita belum sadar atau mencoba mengabaikan suara hati yang meneriakkan Legenda Pribadi kita, pada satu titik jiwa kita akan berteriak dan mencoba menggugah kesadaran kita akan keberadaannya. Saat itulah kita akan mengalami pemberontakan jiwa — sebuah perang batin antara teriakan hati dengan kekuatan logika pikiran.

Dan, bila kita memilih untuk mengubur Legenda Pribadi itu, kita akan berubah menjadi manusia-manusia penuh kepahitan hidup, yang tidak bisa menemukan kebahagiaan sejati.

Seorang teman pernah bertanya, bagaimana menentukan apakah kita sudah menemukan Passion itu atau belum? Apakah pekerjaan yang dilakukannya adalah passion-nya atau bukan?

Saya meminta teman tersebut untuk membayangkan dirinya melakukan pekerjaan tersebut bertahun-tahun ke depan… hingga ajal menjemput. Adakah penyesalan? Apakah dia bisa merasakan cinta akan terekspresikan dalam apa yang dia kerjakan itu? Mampukah dia mencurahkan segalanya untuk apa yang dia lakukan, baik emosi, pikiran, perasaan?

Saya percaya bahwa Personal Legend atau Passion atau Misi Hidup tak lain dan tak bukan adalah ekspresi cinta dalam sebuah lakon di muka bumi, yang bisa dilihat baik secara vertikal maupun horisontal.

Dalam tingkatan yang tertinggi, sebuah Misi Hidup bisa membawa kita pada kesadaran akan keberadaan Tuhan bersama kita, karena dalam wujudnya yang paling murni sebuah cinta merupakan manifestasi kehadiran Tuhan lewat sifat pengasih dan penyayang (hubungan vertikal).

Dalam tingkatan di bawahnya, kesadaran itu akan terekspresikan dalam kehidupan lewat pekerjaan, lewat orang-orang yang disayangi, lewat alam, dan dalam setiap aktivitas kita di bumi (hubungan horisontal).

Jadi Personal Legend atau Passion atau Misi Hidup, menurut saya, bisa diartikan secara luas hingga menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia, yang tentunya unik untuk setiap orang. Ada yang di antara kita mempunyai misi hidup membesarkan anak-anak di rumah tangga, ada yang menaungi anak jalanan, ada yang mengobati orang sakit, ada yang menjadi pengusaha, ada yang membangun sistem di sebuah korporasi, dan lain sebagainya. Apapun itu, selama cinta eksis di dalam apa yang kita kerjakan, dan kita sadar bahwa semua adalah manifestasi dari sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang, maka kita sudah ada di jalan menuju kebahagiaan sejati.

No regret.

And will always be grateful for being human, until the last drop of blood or the last breath of life.

2 Comments

Filed under Clio talks..., Contemplation

Buku/Penulis Favorit

The Alchemist

Di akhir tahun 2008, saya membaca sebuah buku dari Paulo Coelho berjudul The Alchemist, dan sejak itu, baik buku maupun penulisnya ada di posisi teratas dari daftar buku/penulis favorit saya.

Bagi saya, buku ini adalah pembuka mata, hati, dan pikiran, yang mengarahkan saya pada hidup yang bermakna. Buku ini mengajarkan saya tentang pentingnya menghidupkan ‘mimpi’ atau cita-cita dalam relung hati terdalam, dengan kemurnian seorang balita yang melihat dunia dengan mata binar penuh harapan. Seorang anak yang ditanya tentang cita-citanya akan dengan mudah menjawab tanpa pretensi. Jawaban ‘astronot’, ‘polisi’, ‘balerina’, ‘tukang jamu’ (*yes, teman saya ada yang menjawab seperti ini :p ), dikeluarkan tanpa rasa khawatir akan persepsi orang lain, kesulitan dan tantangan yang dihadapi saat mencoba melakoninya, ketakutan dari sisi finansial, atau dari pertimbangan baik-buruk dari sisi akal semata. Perhatikan binar seorang anak kecil saat mengatakannya — yang ada hanya harapan dan kebahagiaan.

Di masa remaja, jawaban itu sudah mulai terdistorsi oleh lingkungan. Harapan orang tua, persepsi lingkungan, tekanan sosial, dan keuntungan/kerugian finansial (yang biasanya juga hasil pemikiran dan pertimbangan orang yang lebih tua), biasanya menjadi faktor dalam mempertimbangkan pilihan masa depan. Bila pertimbangan itu tidak berseberangan dengan keinginan hati, tentu tidak masalah. Tapi seringkali, pertimbangan-pertimbangan itu tidak mengikutsertakan yang bersangkutan — jadilah kita, yang harusnya menjadi subyek aktif, dalam hal ini menjadi obyek penderita.

Bila obyek (baca: kita) sudah menyadari dari dini apa yang diinginkan, kemungkinan pada masa-masa ini akan mengalami konflik klise: “I want A, but my parents prefer I choose B.

Bila obyek (baca: kita) tidak punya kesadaran dini apa yang kita inginkan dalam hidup, kemungkinan hanya akan ada anggukan pasrah: “Oke lah… pilihan itu juga nggak jelek kaaan….”

Apapun kondisinya, pada akhirnya bila jalur yang dipilih (atau dipilihkan) memang ‘sesuai’ dengan jiwa kita, pekerjaan rumah kita sebagai manusia sudah selesai satu 🙂

Masalah akan timbul bila jalur yang dipilih (atau dipilihkan) ternyata diketahui belakangan tidak ‘sesuai’ dengan jiwa kita, dan jiwa kita pun dengan nekad dan nggak tau diri berontak pula :p Dan ini yang diyakini oleh seorang Paulo Coelho, yang dinyatakan baik secara eksplisit atau implisit dalam buku-bukunya (The Alchemist, Veronica Decides to Die, The Pilgrimage, dsb): jiwa kita cepat atau lambat akan memberontak terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan panggilannya, karena panggilan itu sesungguhnya ditorehkan oleh Sang Maha Kuasa di jiwa kita. Ho..ho..ho…. this stuff is getting serious.

Pemberontakan yang diredam oleh diri sendiri dengan alasan ‘terlanjur’, tapi tidak bisa diikhlaskan dengan sungguh-sungguh (yang dimaksud di sini bukan lip service seperti “ya udah deh, gue ikhlas kok…”, tapi lebih kepada keikhlasan hati untuk menerima apa sedang dijalani), akan menghasilkan manusia-manusia yang dipenuhi kepahitan saat menghadapi hidup (yang digambarkan dengan sempurna, menurut saya, dalam buku Veronica Decides to Die). Untuk itu, seseorang perlu melihat kembali ke dalam dirinya untuk menemukan jati dirinya sendiri dalam hati yang terdalam, yang selama ini sudah tertutup, dan menanyakan pertanyaan mendasar, “What is my passion? How can I serve my purpose in this life?” Bidang atau pekerjaan apakah yang bisa dilakoni dengan gairah dan cinta, sehingga hidup setiap harinya menjadi bermakna dengan berkarya di jalanNya?

Pertanyaan ini mungkin tidak mengusik semua orang, tapi dua tahun lalu ini mengusik saya BANGEEEEET 🙂

Secara singkat, pertanyaan berikut mungkin bisa memberi gambaran seperti apa perjalanan hidup saya hingga sampai harus terusik oleh pertanyaan ‘standar’ seperti itu:
– SD: “Ngapain ya harus belajar susah-susah?”
– SMP: “Habis SD ke SMP, trus abis dari sini masih ada SMA, abis itu masih kuliah pula…. Kok sekolah melulu ya…. kapan selesainya?”
– SMA: “Emang apa pentingnya ya tau apa yg dipelajari sekarang sampai sesak nafas begini?”
– Kuliah: “What the hell am I learning??”
– Kerja: “What the hell am I doing? So, I should be doing this for the next 35 years, then get a pension, then die?? What’s the point of having a life—-can I even call it a life?? What does God want from me?!”

Saya sampai menulis email langsung ke Paulo Coelho, menanyakan tentang hal ini. Dan percaya nggak percaya, surat saya dimuat di blog beliau keesokan harinya, dan dijawab langsung. OMG, I was speechless for days!

Jadi, sejak saat itu saya mencari. Saya ingin tahu untuk apa saya ada di dunia. Saya ingin membuktikan ‘tagline’ terkenal di The Alchemist: “When you want something, the universe will conspire to make it happen.” Atau, terjemahan bebasnya: “Bila kamu menginginkan sesuatu, maka alam semesta akan berkonspirasi untuk membuatnya terjadi.” Wow, so powerful, isn’t it?

Tentu saja jalan pencarian itu tidak mudah. Dan akhirnya setelah tersandung kiri-kanan-depan-belakang-atas-bawah (*sampai jungkir balik), saya percaya Tuhan Maha Pemurah. Seperti yang disebut dalam Al-Quran, Tuhan tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan; jadi apapun yang Dia minta kita lakukan, pasti sudah Dia berikan kemampuan itu kepada kita sebagai bekal.

Hmm…. sebenarnya saya cuma mau bilang kalau buku ini adalah favorit saya, mungkin sepanjang masa. Tapi kok jadi panjang begini ya… ? He..he..

Anyway, mudah-mudahan berguna.

5 Comments

Filed under Inspiring Books, My Reading