Category Archives: Writing Process

The Rule is No Rule

I just found an interesting quote, it suddenly appeared at the side bar of my wordpress page:

“There are three rules for writing a novel. Unfortunately, no one knows what they are.”
-W. Somerset Maugham-

Words of a genius! Make me feel a lot better after reading various novels and wondering afterwards on how people can create such amazing works. And whether there is any rule in creating one. 🙂

Leave a comment

Filed under Quotes, Writing Process

The So-called Personal Obsession(s)

There are so many things that I have been obsessed with throughout my life. I sometime think of them as plain white rooms with doors, packed next to each other to form a big maze, like the one used in laboratory experiment. An innocent mouse wanders around the rooms trying to find an escape only to find later that the door leads to another almost-identical room.

I would really like to think myself as that mouse, a mere victim of circumstances that is not spared by life, but I am not that gullible. In my case, I’m guilty as charged because the rooms in my maze are my own creations, usually built with one purpose only, which is to distract me from the real activity that I should really be doing. This act of avoidance comes from either laziness, in which I prefer to slump on the couch and watch television forever, or cowardice in facing the unknown. So far, the later dominates and plays a major role in my creative process of inventing obsessions.

Once, I was obsessed with dancing. I took two private lessons per week that costed me a fortune, and went as far as sacrificing my lunch hour at work, plus another two extra hours each time to sneak out/in from/to the office and to catch up eating in front of my computer. After doing that for months and getting more and more tortured by the almost-silent whisper of my conscience, I finally admitted that I was just scared of the possibility of being confronted by my own thought about resigning from the job. At that time, the work load in the office was not the usual high and that could actually give me time to contemplate and think about the priority in my life. To that, my brain responded by transmitting pulses that made my body craved for dancing.

The other one that happened recently was my obsession with books. Whenever I saw online booktore ad, I would visit the store and it rarely resulted in empty shopping bag. Real bookstore was no less a culprit – the texture of those yellowish papers of hardcover novels and the feel of it at the tip of my fingers was just too much to resist. Of course, there is no harm in buying excessive books, except that my cash was tight and I already had books enough to keep me reading for a year. Still, I always found excuses to delay reading them and chosed to buy more.

Finally, after rearranging my books, I found out that I had unknowingly bought three titles twice, and only then did I start to think seriously. Or at least, pretended to, since deep down I have always known the problem all along. It was just a funny ‘co-incidence’ that this compulsive behavior started after I quited my job to concentrate on becoming a writer. It was even funnier that after I had all the times in the world, I did not have time to read, and most importantly, the root of all this, to write.

After I gathered all my remaining guts to admit my fear of facing this new and unknown world of writing, I suddenly lost interest in buying books and started to read whatever was in my bookshelf. I probably still need extra guts to actually gather myself to write, but at least I know that I’m going that way. After all, they say when a problem is acknowledged, ninety percent of it is solved, and I choose to believe it.

Leave a comment

Filed under Contemplation, Writing Process

Obyektivitas dalam Menulis

Judul di atas adalah salah satu pertanyaan yang diajukan ke saya di acara penulisan BEM FEUI. Teman yang bertanya memberikan contoh pengalamannya sendiri saat menulis tentang topik ‘Love’ di satu acara penulisan jurnalistik. Ketika tulisan dievaluasi, teman ini mendapat masukan bahwa tulisannya masih subyektif.

Tulisan ini saya buat karena saya masih ‘tergelitik’ setelah menjawab pertanyaan secara lisan saat acara berlangsung. Aturan umumnya adalah: bila setelah lewat dari dua puluh empat jam sebuah topik sama masih menggelayuti pikiran, itu saatnya untuk berpikir lebih serius dan mengeksplorasi hal-hal yang (sudah pasti) ada yang terlewati oleh pengamatan selama ini. Dan ketika saat masak mi instan barusan pertanyaan itu masih menari-nari di kepala, jadilah si Clio sekarang duduk manis di depan komputer 😀

Sebelum membahas tentang ‘Love’ atau cinta yang sudah dibahas sejak pertama kali manusia ada di bumi dan sampai sekarang belum kelar juga (*so help me, God… :p ), ada satu pertanyaan yang perlu klarifikasi.

Perlukah sikap obyektif dalam menulis?

Karena pengalaman saya adalah menulis fiksi, agak sulit untuk menjawab hal itu. Ketika karakter saya adalah dua tokoh pria yang mencintai satu wanita, pada satu titik saya sudah harus memutuskan apa yang akan terjadi. Dan itu berarti saya sudah memasukkan pertimbangan pribadi yang sudah pasti subyektif.

Sikap obyektif adalah tantangan yang lebih nyata dalam tulisan non-fiksi. Tentu saja tantangan itu bukan hal  yang mutlak dalam semua tulisan non-fiksi, karena semua berpulang kepada tujuan yang ingin dicapai dan pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca. Sebuah laporan tentang korupsi di surat kabar umum, sah-sah saja bila disertai harapan akan tindakan nyata pemberantasannya—sebuah keberpihakan penulis akan anti-korupsi. Tapi bila topik yang sama diletakkan dalam konteks berbeda, misalnya jurnal statistik yang sifatnya murni data, tentulah satu paragraf singkat berupa harapan tersebut jadi out-of-place.

Jadi, lagi-lagi, yang penting adalah konteks dan tujuan penulisannya.

Let’s start exploring!

Bila memang diperlukan sikap obyektif, menurut saya tidak ada yang lebih penting dari memasukkan sudut pandang sebanyak-banyaknya. Dan kita tidak boleh lupa bahwa setiap sudut pandang mungkin masih punya dua sisi mata uang yang berbeda.

Untuk membuat sebuah tulisan tentang ‘Love’ yang obyektif, menurut saya sih hampir nggak mungkin, ha..ha… just kidding 🙂

Dalam tulisan singkat ini, saya hanya akan mencoba mengemukakan sudut pandang penulisan ‘love’ sebatas apa yang ada di persepsi saya.

Pertama, mungkin yang bisa dipertanyakan dan dibahas adalah tentang love atau cinta itu sendiri. Is there such thing as ‘love’, or isn’t there? OMG! Baru mikirin ngebahas topik ini aja udah bikin sakit kepala, he..he… ini adalah sudut pandang optimistik vs pesimistik dari keberadaan cinta itu sendiri.

Kedua, dengan asumsi bahwa love ada (ini aja udah subyektif, lho, walaupun menurut saya sih masih termasuk kategori ‘mild’ 🙂 ), saya mungkin akan tergoda untuk menulis tentang indahnya cinta. But wait a sec! Cinta bisa juga sangat menyakitkan….. bandingkan perasaan orang yang sedang jatuh cinta dengan yang baru putus cinta.

Ketiga, mungkin tulisan bisa ditekankan pada obyek cinta itu sendiri, yang variasinya bukan hanya seputar romansa pria-wanita: ada kisah cinta sejenis, ada jenis cinta dari orang tua ke anak, ada cinta antara seseorang dengan hewan peliharaannya, ada juga cinta ke pekerjaan, ada juga cinta ke Tuhan. Secara ringkas, ada cinta ke obyek makhluk dan ada cinta ke Tuhan. Ini saja sudah dengan pendapat subyektif penulis bahwa Tuhan itu ada 🙂 >> di Indonesia mungkin hal ini tidak ‘mengganggu’, tapi bayangkan kalau kita menulis di negara lain dengan editor seorang atheist ….. we will definitely be scrutinized!

Keempat, bisa juga dibahas tentang ‘kemurnian’ cinta: cinta yang murni vs cinta yang tidak murni. Tapi saya yakin kalau kita mau mengeksplorasi topik ini, kita sulit sekali menghindar dari subyektivitas. Yang melintas di benak saya barusan dengan kata-kata ‘cinta yang murni’ ada dua, yaitu cinta Tuhan dan cinta orang tua. Yang pertama lagi-lagi sudah berdasarkan premis bahwa Tuhan ada. Sementara pendapat yang kedua (cinta orang tua) akan langsung pupus bila tulisan dibaca oleh anak-anak yang ada di penampungan karena kekerasan dan penyiksaan yang dilakukan orang tua.

Saya yakin masih banyak lagi sudut pandang yang dibisa dieksplorasi tentang cinta. Dan eksplorasi semacam ini tentu bisa dilakukan untuk menulis topik apa saja, bahkan dalam fiksi (terutama ketika membangun plot).

Akhir kata, saya nggak tahu tulisan di atas bisa memuaskan teman penanya atau tidak, atau bahkan apakah relevan dengan pertanyaan atau tidak. Yang jelas, setelah menulis hingga kehabisan nafas ini, saya cukup yakin kalau saya akan memilih menulis fiksi selama-lamanya, ha..ha….

Untuk yang ingin menulis non-fiksi, saya ucapkan semoga beruntung dan selamat bekerja keras 😉

Leave a comment

Filed under Clio talks..., Writing Process

Dead or Not Dead?

Salah satu ekskul yang saya ikuti saat sekolah menengah adalah Palang Merah Remaja. Setelah saya coba ingat-ingat, ada satu topik di materi PMR yang membahas tentang cara menentukan apakah korban sudah meninggal dunia atau belum…. Iya dooong, kan berabe kalau kita mau menolong korban, tapi kita nggak tau dia masih hidup atau sudah meninggal 😀 Selain meraba nadi leher, cara lain yang saya ingat adalah memeriksa nafas di hidung korban. Yang terakhir ini, supaya vonisnya akurat, dianjurkan untuk memakai cermin atau kaca; kalau berembun berarti korban masih bernafas.

Naaah, pembahasan paragraf pertama saya relevan banget ya sama judul di atas….. *two thumbs up for Clio*

Tapiiiii…. yang mau saya bicarakan sebenarnya bukan penentuan Dead or Not Dead yang seperti itu…. ha..ha.. ketipu (btw, kalau paragraf nggak penting begini ditemukan Mbak Donna di dalam naskah, baik tulisannya maupun penulisnya dijamin nggak selamat :p *sori mbaaaaak……).

Yang mau saya bicarakan sebenarnya adalah ‘mematikan’ sebuah karakter dalam cerita. Yup. Saya rasa teman-teman pembaca ‘Eiffel, Tolong!’ atau FPTE sudah bisa menebak siapa yang saya maksud: The Legendary Andrew McGallaghan. Suit suiit…. *eh, kenapa juga suit suit ya*

Kalau menurut logika sih, harusnya tidak sulit mematikan seorang karakter, apalagi yang antagonis. Toh mereka hidup di atas kertas dan pembunuhan seperti ini bukanlah kejahatan dengan hukuman serius. Eh, ralat deng, …. bisa juga jadi serius, kalau yang dimatikan adalah karakter kesayangan mayoritas pembaca. Saya cukup yakin pengucilan dan demo yang mengarah ke anarkis akan menimpa saya kalau yang dimatikan adalah Kent :p

Logika ‘tidak sulit mematikan karakter antagonis’ tersebut tentu saja langsung diserang habis-habisan oleh Clio. Bukan hanya karena Clio nggak pernah kenal logika, senang menanyakan hal nggak penting dan suka membantah hal-hal yang belum dimengerti, tapi lebih karena…………dia sudah jatuh cinta sama sang karakter…. hiks…..hiks….

“Haaa?? Clio jatuh cinta sama Andrew?”

Ehm. Sebenarnya sih bukan cinta seperti kisah roman antara pria dan wanita gitu, walaupun si Clio itu pasti nggak keberatan juga dituduh seperti itu. Tapi lebih kepada keterlibatan emosional antara Clio dengan karakter, yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Di salah satu tulisan saya pernah cerita kalau keseluruhan kisah ini berawal dari khayalan masa kecil. Bayangkan berapa tahun hubungan Andrew dengan Clio sudah terjalin, hiks…..

Dan akhirnya, saya tetap harus memutuskan, karena dengan keputusan ini, plot akan berubah arah dan mengambil cabang cerita yang berbeda. Selain ceritanya itu sendiri, keputusan ini akan menentukan banyak hal:
– seberapa dalam saya akan mengupas sejarah Andrew
– cerita yang berkaitan dengan kematian orang tua Fay
– intrik yang terjadi di McGallaghan dan COU
– etc
dan yang terakhir, berapa episode buku lagi yang diperlukan untuk menamatkan cerita.

Jadi, apa keputusannya?

*keringat dingin*

Hmm…. tunggu dulu ya, perlu bertapa dulu kayaknya…. hasilnya antara dua: (1) Clio bertangis-tangisan haru dengan Andrew yang setuju untuk pergi dan pindah ke lain hati, atau (2) Clio pucat pasi dimarahi (or digebukin) Andrew. Let’s see…..

9 Comments

Filed under Writing Process

Menulis Novel

Di tulisan ini saya tidak akan membahas tentang tips penulisan novel karena saya pun masih bergelimangan pusing saat menulis. Selain cara menulis saya sama sekali tidak terstruktur sehingga kadang banyak lompatan emosi yang nggak nyambung, saya seringkali kesulitan menemukan ekspresi yang tepat untuk menyampaikan maksud.

Tapi, ada tiga pertanyaan yang seringkali saya terima yang menurut saya bisa tercakup dalam judul di atas, jadi akan saya coba jawab sebisanya di sini –> yup, the title can be considered inappropriate since it doesn’t reflect the content, but that’s all I can think right now…. let’s see whether I can come up with a better title at the end of this article.

Pertanyaan pertama: bagaimana cara jadi penulis

Jawaban saya: “Just write, guyz….”  Oke, memang kedengarannya jawaban saya nggak berbobot banget, tapi ya mau gimana lagi, kan saya udah bilang kalau sulit menemukan ekspresi yang tepat untuk menyampaikan maksud ha..ha.. ngeles.com

Seriously, menulis kan hanya mengutarakan apa yang ada di pikiran, menuliskan apa yang ingin disampaikan, menyampaikan maksud yang ingin diutarakan…lha, mbelit kan. Penulisan pastinya dimulai dari ide, dan dari ide itulah segala sesuatunya dikembangkan sesuka si penulis dengan memperhatikan kadar-kadar dan ketentuan penulisan.

So, if anyone would like to write, just sit down, think, feel and write.

Nah, setelah saya bilang seperti itu, kita akan masuk ke pertanyaan selanjutnya.

Pertanyaan kedua: tips menulis

Oops… saya pribadi tidak punya cara paten untuk menulis dan masih mencari bentuk yang nyaman untuk menstrukturkan tulisan. Tapi jangan khawatir, karena di internet sebenarnya banyak sekali artikel tentang tips menulis, baik dalam bahasa Indonesia ataupun Inggris. Saya biasanya pakai keyword, ‘writing tips’, ‘how to write novel’, ‘tips writing fiction’, dan yang sejenis-jenis itu di google.

Kalau mau tips paten yang keluar dari pengalaman asli editor, coba baca blog Mbak Donna: http://www.ajarfullofhoney.blogspot.com/

Pertanyaan ketiga: bagaimana supaya tulisan bisa diterbitkan

Ini adalah proses yang termudah: tinggal cari informasi penerbit mana yang kamu incar (alamat, format naskah yang diinginkan oleh penerbit, proses penerbitan, dsb), print sesuai format, lalu kirim deh. Untuk hasil, tentunya banyak-banyak berdoa 🙂

Aktivitas utama dari proses ini adalah mencari informasi penerbit (nomor telepon), beserta segala informasi yang berkaitan dengan pengiriman dan seleksi naskah. Jangan ragu-ragu untuk menelepon langsung ke nomor telepon penerbit dan menanyakan cara pengiriman naskah. Sebagai gambaran, informasi yang bisa ditanyakan adalah:

  • format naskah –> kertas, font, jumlah halaman maksimal, dan kelengkapan naskah lain (misalnya sinopsis, biodata, dsb)
  • alamat pengiriman naskah –> ditujukan ke siapa
  • nomor kontak yang bisa dihubungi untuk menanyakan hasil dan kapan bisa dihubungi
  • apa proses selanjutnya bila naskah ditolak (apakah naskah dikembalikan, kalau iya, syaratnya apa)

Fiuh, untuk sementara ini dulu yaa…. nanti kalau kepikiran hal lain saya tambahkan lagi. Selamat menulis!

ps: I can’t find a better title, so let’s learn to live with it, shall we?

2 Comments

Filed under Writing Process

Fakta dalam Fiksi

“The difference between fiction and reality? Fiction has to make sense.” — Tom Clancy

“It’s no wonder that truth is stranger than fiction. Fiction has to make sense.” — Mark Twain

Ada satu hal yang ‘aneh’ tentang fiksi bila dibandingkan dengan kejadian nyata: kejadian nyata bisa saja terdengar tidak masuk akal, tapi yang namanya fiksi harus masuk akal. Tentu saja yang dimaksud fiksi di sini adalah yang non-fantasi, walaupun bisa diterapkan juga secara lebih sempit untuk jenis fiksi fantasi.

Dulu saya mengerutkan kening ketika membaca quotes ini. Bukankah di dalam kisah fiksi banyak hal yang tidak masuk akal? Dan bukankah di situlah keasikan membaca sebuah fiksi, ketika kita masuk ke alam khayal yang dalam dunia nyata hampir tidak mungkin terjadi?

Setelah saya mulai menulis, sedikit demi sedikit saya mulai mengerti makna quotes tadi. Semua hal di dunia harus berhenti pada titik keseimbangan, di tengah-tengah sebuah dualisme, tidak terkecuali sebuah novel fiksi. Ha? :p

Penjelasan sederhananya seperti ini:

Karena kekuatan fiksi ada pada kreativitas khayalan yang di dunia nyata hampir tak mungkin terjadi, maka hal itu harus diimbangi oleh ‘kemasuk-akalan’ unsur lain dalam cerita, yang bisa jadi berupa detail, plot, karakter, atau lainnya. Coba kita ambil contoh novel seri Jason Bourne karangan Robert Ludlum. Di novel tersebut, Jason Bourne digambarkan sebagai seorang super-agent yang selalu selangkah lebih maju daripada musuh-musuhnya, yang adalah agen-agen khusus CIA. Di dunia nyata, tentu sosok se-manusia-super seperti Jason Bourne tidak ada (atau jaraaaaaang banget :p ). Untuk mengimbangi kemustahilan tersebut, Ludlum membuat detail-detail yang menggambarkan kegigihan dan ke-super-an Jason Bourne, sehingga akhirnya kemustahilan itu sendiri pupus. Atau dengan kata lain, pembaca dibuat percaya bahwa sosok Jason Bourne terasa sangat nyata dan kisahnya pun jadi masuk akal.

Akhirnya, sampailah saya pada bagian yang menyebalkan dari temuan ini: untuk membuat sesuatu yang mustahil jadi terasa masuk akal, diperlukan pemaparan detail-detail dalam cerita, dan itu berarti….. PENGUMPULAN FAKTA! OMG!

*”Aaaarrrrgggghhh……!”*

Dari semua kegiatan penyusunan cerita yang membuat saya stress, aktivitas pengumpulan fakta adalah bagian yang paling menyebalkan dari semua! Saya lebih suka membayangkan tokoh-tokoh saya ciuman (Kent dan Fay…. Kent dan Clio… ‘eh, fokus‘…. Kent dan Fay… Andrew dan Clio… ‘STOP, Clio!‘) atau berkelahi, daripada harus nongkrongin komputer berhari-hari suntuk (bukannya semalam suntuk lagi!) untuk melototin peta dan mencari detail nama jalan, mengebrowse ratusan gambar dan foto hingga mata belo, sipit, dan belo lagi hanya untuk mendapatkan dua baris deskripsi yang memuaskan, atau membaca berita berlembar-lembar hanya untuk mendapatkan informasi tentang satu tempat, yang akhirnya cuma jadi satu paragraf saja!!!

Sebagai ilustrasi, hanya untuk mendapatkan nama beberapa stasiun metro di buku ‘Eiffel, Tolong!’, saya harus mendownload peta subway, lalu mencoba mencari informasi area-area yang ada di peta tersebut di google. Bagaimanapun juga, saya harus tahu—bagaimana kalau saya bilang stasiun terdekat dengan rumah Fay di A, padahal aslinya stasiun A berada di tengah daerah industri dan tidak ada perumahan sekitar itu?

Di buku ‘From Paris to Eternity’, saya butuh waktu lamaaaaaaa sekali hingga berhasil menemukan deskripsi yang (mudah-mudahan) pas untuk menggambarkan Fontainebleau. Mulai dari download peta istana, peta daerah, browse kiri-kanan tentang artikelnya, hingga melototin foto-fotonya. Belum lagi kalau informasi yang saya cari (biasanya tag atau informasi yang tertulis di foto) dalam bahasa Perancis, euuurrrrgghhh…. usahanya jadi dua kali lipat karena saya harus mencari dulu artinya di kamus French-English.

Kedengarannya menyebalkan ya? Tentu saja! *awas, si Clio lagi sensi

But hey, life goes on and somebody’s gotta do the dirty job. Karena yang udah kebagian berasik-asik mengkhayal adegan ciuman adalah si Clio, tentu si Clio juga yang harus kebagian pekerjaan nggak enak mencari fakta sampai error. Memang, hidup hanya terasa adil kalau dilihat dari kacamata orang lain. *keluhan nggak penting sok filosofis

Tentu saja saya tidak berhak mengeluh, karena ini hanyalah sebagian dari proses penulisan yang memang harus dilalui, bukan hanya oleh saya, tapi oleh semua penulis lain. Walaupun detail menyebalkan (bukan hanya untuk yang menulis, tapi kadang untuk yang membaca), tetap harus ditampilkan sambil berharap porsinya ‘cukup’ sehingga lebih-kurangnya bisa diterima. Itu juga kadang-kadang kita bisa menemukan ‘hole’ dalam fakta di sebuah novel—sudah pasti kesalahan penulis akibat kurang akuratnya fakta yang ditampilkan. Tapi yah, kalau sebuah novel sudah diterbitkan, yang bisa diharapkan oleh penulis adalah kesalahan tersebut tidak fatal (*kalau fatal harusnya sudah ‘tertangkap’ mata editor-editor yang jeli), dan pintu maaf yang sebesar-besarnya dari pembaca 😀

Dan akhirnya, tidak ada yang lebih melegakan daripada melihat wajah editor (Mbak Donna & Mbak Vera) yang tersenyum dan mengatakan kata ajaib itu, “Oke. Nggak perlu revisi lagi, tinggal diedit.” Horeeeeeee…… ! Terbayar lah sudah semua kerja keras pengumpulan fakta. Capek? Enggak tuh…. siapa bilang? Lha, tadi katanya bete? Masa’ sih…. ah, salah ngerti kali 😉

4 Comments

Filed under Writing Process