Category Archives: Travel

Arequipa – Day Trek to Capua Waterfall

Let’s see.

I left Indonesia last month with the idea of trekking to Machu Picchu, but at the last moment chickened out because of the cold weather (yeah, it’s not a valid excuse, but it is the excuse that I’ve been using, successfully). On second thought, it is actually pretty valid–born in Jakarta, a city at sea level with average temperature above 30 degree centigrade and humidity above 90%, I was surely not made for such weather and altitude.

After the timid decision, however, I kept on meeting people who have done various treks to Machu Picchu: Inca Trail, Salkantay, Lares, you name it.

So, when I arrived in Arequipa, I felt my body was itching for a little bit of adventure….in the most convenient way. That’s when I searched for a day trek. In peruadventurestours.com I found an interesting description for a place called Capua waterfall, which is an original trek discovered by the tour company.

I signed up for the backpacker service, which meant I would be traveling with public bus instead of the private transfer car.

I was picked up in the morning by Jarly, my tour guide, a man in the thirties, then we proceeded by taxi to the so-called bus terminal. Turned out it was not a bus terminal, but a place where the bus waited for passengers. We waited inside the bus for almost half an hour, waiting for the passengers to fill the bus so that the bus driver could ‘feel’ okay to start the journey. It was probably half-full when the driver finally decided to leave. Our destination was a small city near a cement factory in the outskirt of Arequipa called Yura, between 30 minuts to one hour by bus. Traffic was a bit crazy in the morning, but I did enjoy the erratic view of the city, along with the many local people in the bus, signified the real Arequipan life that I wouldn’t see should I sign up for regular touristic tours instead.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA[The local bus to Yura]

After we got off from the bus, we started to climb a steep hill. This was of course the point when I started to curse myself for satisfying the looking-for-adventure side of me. I was sure Jarly could do it in no time, but he was very kind to stop and checked on me from time to time. I’d warned him that I walked like a snail and he just smiled in understanding. Gee, that must be one of my best days.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA[My first steep climb–this is Jarly seen from below]

When we reached the top of the hill, there in front of our eyes were these dry never-seem-to-end hills, up and down. The sun was fierce but the wind was blowing quite hard, balancing the heat. As far as we could see, there was NOT a single human being. That alone was a total bliss for my soul.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA[Not a single soul. Love it.]

There was no tall tree, just cactus, occasionally. Jarly showed me the fruit of the cactus that people used as juice in Colca Canyon (forgot the name). The taste is sour (right, Jarly?).

OLYMPUS DIGITAL CAMERA[Juice, anyone?]

As a good guide, Jarly also told me about the Inca along the way. I think he was a big part in making this trip a pleasant journey. His passion for adventure and travel was clearly shown during our conversations and I personally think it did make a difference–during this short trip, he was not merely a guide who blabbered memorized stories and intended to arrive at the destination as fast as he could to finish the job quickly, but he was more like a travel companion who made sure I enjoyed the journey as much as the destination.

After walking for about 1.5 hours (I think), we suddenly arrived in a place that looked like an oasis. Right in the middle of these rocks, there was this green valley.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

We walked down the hill and in the valley, until we arrived in a small river. From here, we changed our shoes to sandals and walked IN the river. Ah, my favorite part, soaking my sore toes to the chilling water.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA[Really, really, loooove this spot! So beautiful and magnificent.]

We walked in the river and had to stop from time to time to climb the big rock that was blocking the way. I must say, the excitement just began for me.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA[In some cases, we literally had to crawled our way on or around the rock. What a productive day.]

There were two (or three) places where the water fell from above. Too bad I was too busy concentrating on (and enjoying) the walk to take out my camera. I finally took out my camera when we had arrived in the final destination, last waterfall. Here Jarly took out some bananas, drinks and snacks. It was enough for me, but I think it would be better if he brought sandwich to fill the demanding stomach.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

After about half an hour, we had to leave. Jarly said the wind got colder in the afternoon and the water level rose. And he was right. I could feel my foot was dipping deeper in stronger current, and the wind was blowing harder and colder. We finally arrived in Arequipa at around 6 in the afternoon.

All in all, this 2.5 hour walk (5 hours return) was one of the most memorable moments that I’ve ever had, not just because of the variation in the path (dry landscape, oasis, river, rock), but also because of the serenity of the landscape. Listening to the winds while at the same time being greeted by the magnificence of the landscape were memories that I would carry and cherish for as long as I live.

6 Comments

Filed under Travel

Culinary Adventure – Cuy

Hari ini, Genara (my Spanish teacher) mengajak saya ke ‘cuyeria’, rumah makan yang khusus menyajikan cuy atau guinea pig. Cuy adalah makanan khas yang bisa ditemui di beberapa negara Amerika Latin, termasuk Peru. Di Cusco, banyak restoran di tengah kota yang menyajikan cuy, namun harganya relatif mahal dan tidak terlalu orisinil karena sudah disesuaikan dengan lidah turis asing. Di restoran-restoran ini, cuy disajikan dalam bentuk potongan, dilengkapi dengan pasta dan sayuran, dan bisa diperoleh dengan harga sekitar 60 soles. Cuy terenak sebenarnya ada di daerah Tipon, sebuah kota kecil berjarak setengah jam dari Cusco, namun karena saya sudah penasaran luar biasa untuk mencobanya, ditambah dengan kemungkinan bahwa saya tidak sempat mengunjungi Tipon, maka saya tak keberatan untuk menjajal cuy di Cusco.

Restoran yang kami kunjungi berada di luar area turis, sekitar sepuluh menit naik taksi dengan biaya 5 soles (Genara yang menawar, tentunya). Sebuah cuy utuh di restoran ini dihargai tiga puluh soles, tapi karena kami minta supaya cuy disajikan setengah untuk masing-masing, harganya jadi tiga puluh lima soles karena ada side dish ekstra.

Saya pernah melihat guinea pig yang masih hidup, yang menurut saya imut sekali, gabungan antara hamster dan kelinci (sebenarnya sih nggak mirip sama sekali dengan kelinci, tapi entah kenapa saya merasa begitu). Tapi, ketika melihat separuh guinea pig terpampang di piring, harus saya bilang bahwa tak ada keimutan yang tersisa. It’s just like a dead rat.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ingatan akan tikus mati tentunya tak menggoyah keinginan saya untuk mencoba, walaupun sedikit mempengaruhi selera.

Dengan gagah berani saya mulai menarik kulitnya dengan tangan, lalu menggigitnya. Ternyata liat. Menurut Genara, cuy yang sangat enak harusnya mempunyai kulit yang crunchy, seperti kripik ketika digigit.

Setelah mengunyah kulit yang liat itu, saya merasa perlu istirahat dulu sebentar dan akhirnya mulai mengutak-atik side dish yang ada di piring. Ada dua jenis kentang yang rasanya biasa saja, dan ada sebuah gorengan yang ternyata sejenis paprika yang diisi dengan sayuran. Nyam nyam, di luar dugaan saya suka dengan rasa sedikit pedas yang dikombinasi dengan kriuk tepung di bagian luar dan sayuran di dalam.

Kembali ke cuy.

Saya menguliti cuy di piring saya dan menyisihkannya, karena setelah kunyahan pertama tadi sepertinya tak ada harapan lebih lanjut untuk memakan kulitnya. Daging cuy ternyata empuk dan rasanya…yah…tidak seperti daging lain yang pernah saya makan. Tekstur dan empuknya mungkin mirip daging ayam (kalau saya makan dengan mata tertutup dan berusaha memikirkan hal-hal indah), hanya rasanya agak melenceng sedikit ke arah yang tak dikenal. Saya membalik cuy di piring, dan ternyata ada olesan bumbu berwarna hijau yang sekilas mirip saus pesto tapi tentu rasanya berbeda. Saya sebenarnya suka dengan rasa sausnya, tapi entah kenapa kalau dimakan bersamaan dengan daging cuy menurut saya kok malah jadi ‘off’—di mulut saya terasa seperti tengik dan…yah…rasa itu memunculkan bayangan tikus mati tadi.

Saya mulai mengutak-atik side dish lagi. Kali ini saya bertanya ke Genara bulatan kehitaman yang ada di piring saya sebenarnya apa, apakah sejenis kentang?

“Bukan, itu campuran kentang, bumbu-bumbu, dan organ-organ di perut guinea pig.”

Ahem. Okelah. Saya toh pernah makan jeroan kambing dan masih selamat sampai sekarang, jadi tak ada salahnya mencoba. Saya mengambil sepotong, memasukkannya ke mulut, dan detik itu juga hampir memuntahkannya lagi. S**t!

IT TASTES like S**T!

That’s it. Tak diragukan lagi bahwa ini adalah pengalaman pertama sekaligus terakhir makan jeroan guinea pig.

Setelah menghabiskan cuy (hampir), saya memperhatikan restoran yang mulai ramai oleh pengunjung, yang semuanya orang lokal. Kebanyakan dari mereka ternyata memesan sejenis cuy (saya lupa namanya) yang digoreng tepung (cuy yang saya makan dipanggang). Di piring, tampilannya jauh lebih manusiawi. Bahkan menurut saya dari jauh tampak seperti ayam goreng tepung raksasa. Menurut Genara, itu adalah menu yang baru belakangan muncul dan semakin populer, dan merupakan spesialisasi di Arequipa.

Aha!

Saya akan meninggalkan Cusco di hari Minggu dan tiba di Arequipa hari Senin (delapan jam perjalanan dengan bis). I’ll definitely try one over there.

So, until the next cuy (or whatever the name) adventure.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

4 Comments

Filed under Peru, Travel

Peru: Coca Leaves Reading by Shaman

Day 15 in Cusco, Peru. An interesting day.

I walked down the hill from my Spanish school with the sole intention of visiting a café in San Blas that uses its profit to build and empower local community, mostly women.

Not too far from the school, on the street that I have passed more than twenty times, my foot just stopped in front of a museum. It was the Museum of Sacred and Medicinal Plants. I entered to take a peek and finally was intrigued and paid the 15 soles of entrance.

The museum itself is amazing. It explains various plants that are considered sacred to the Peruvian (local), because these plants have been used for generations for religious and ceremonial purposes, until now. Ayahuasca and San Pedro, two most famous plants whose names are mentioned pretty often in South America, are just few of them; there are many that I’ve never heard of. Not only that, there are also so many plants for so many diseases. It is amazing to see how nature provides everything that we need.

At the main hall of the museum, there is even a life guinea pig on display (btw, it was so cute–I feel guilty looking at it, knowing that sometime next week I might want to eat it! There is a traditional meal called ‘cuy’, made of guinea pig…but that’s another story). The guide explained that a Shaman or a Healer used guinea pig to diagnose a patient. He will rub the body of the patients with a black guinea pig that is still alive, then later on he will cut the guinea pig and examined its body and internal organ for any disease–it is believed that the disease in the patient is being replicated to the guinea pig, thus the patient can be diagnosed through the (poor) animal.

When the walk inside the museum was over, something attracted my attention: a leaflet saying “Reading of Coca Leaves.”

What a coincidence 😉 on the day that I visit the museum, there was a visit by a Shaman from Quieros. Quieros is famous for the community of local people who still practice and keep shamanism alive. Reading coca leaves is one of their expertise (and so I was told). To visit this community (which apparently is not possible now ever since the government decided to protect this community from outside influence that can contaminate the culture), one must take a five hours ride in a car or bus, then continue walking for several days.

With an explanation like that, who wouldn’t be intrigued, right? Well, at least I did. I paid thirty soles to the museum and waited patiently.

I entered the room and saw a man whose age I guess was around fifty (ahem, I’m not good at guessing age—why did I even try!). He wore a red robe and red hat made from the traditional clothes. The translator for my reading was a guy who works at the museum, who can speak Quechua (the language used by the Shaman).

The Shaman had a piece of wrapped cloth in his hands, made from the same traditional cloth as his robe and hat. After asking my name and where I came from, he started to shake the cloth wildly with both of his hands while speaking (or chanting) in Quechua. My guess is, he was asking permission from the mother earth or the spirit to read me, because I could hear my name and the word ‘Indonesia’ were spoken in the middle of his long sentence.

Then, he put the piece of cloth in his hands on top of my head, while still speaking in Quechua. He then asked me to blow into the cloth three times. “With faith,” he said.

After that, he unwrapped the piece of cloth, and there they were—the coca leaves.

The translator asked me whether there was any specific question. I said no—I just wanted to hear what he said.

He asked again, “But what do you want to ask him, your work, your family, your health, your relationship? Do you want to know now, the past, or the future?”

I answered, “Whatever. Just ask him everything.”

With that, the translator made the decision for me. He asked the shaman about my health, my work, my relationship, past, present….well, everything 🙂

With each question, the shaman picked some leaves from the table (not all), shook it in his hands while chanting the mantra again, mentioning my name and country again, then threw the coca leaves in his hands to the table.

It was interesting to see how he interpreted the coca leaves afterwards. After several throws, I managed to get a slight idea about which reading was good and which was bad.

In general, coca leaves facing up mean a good sign, and leaves facing down are bad signs. The rests of the stories that the shaman told me seemed to depend on the pattern or position of the coca leaves that were laid on the table.

After about twenty minutes, the shaman yawned (right, yawn!) and ended the session.

I walked out a happy customer. Not because of what he (or the coca leaves) told me about my life, but because I think I was lucky enough to be a witness of a shaman at work. What a productive day 😉

 

1 Comment

Filed under Peru, Travel

Jurnal Perjalanan: Mulu, Sarawak – Bagian 4

Canopy Walk

Malam terakhir di Mulu, tidur saya sama sekali nggak nyenyak. Bukan karena saya mendadak jadi melankolis, tapi karena harus bangun pagi untuk tur sementara satu-satunya alarm di handphone sudah tewas. Jadilah saya bangun tiap beberapa jam untuk mengecek waktu.

Jam 7 pagi, saya berangkat untuk Canopy Walk dengan pemandu bernama Jenny, beserta tiga peserta lain dari Inggris. Sama seperti kebanyakan pemandu lain, Jenny asli Penan, penduduk asli daerah Mulu.

Kembali menapaki jalan yang sama dengan dua perjalanan sebelumnya, ternyata saya bisa mendapat pengalaman baru karena Jenny ternyata punya pendengaran dan penglihatan bak seorang super-woman. Dengan bantuannya, saya bisa melihat beberapa jenis kupu-kupu, serangga, dan ulat bulu – yang terakhir ini ada yang berbulu biasa, berbulu gondrong, dan ada yang berduri seperti landak. Menurut Jenny, bahkan setelah ulatnya matipun duri itu masih terasa menyengat bila terkena kulit.

Si gondrong… ngeliatnya aja udah gatel-gatel… 🙂

Dan, yang tidak pernah akan saya lupakan adalah pemandangan seekor laba-laba yang sedang merajut sarang, dengan sorotan matahari pagi yang menyisip di antara tumbuhan. Sangat jelas terlihat bagaimana serabut benang keluar dari mulut sang laba-laba, lalu ditautkan ke benang melintang yang berfungsi sebagai poros, hingga akhirnya melingkar sempurna. Melihat pemandangan ini, tidak ada yang pantas disebut selain nama Tuhan yang Maha Agung dan Maha Besar.

Karena saya tidak punya gambar si om laba-laba, saya kasih liat gambar jalan panggung yang dilalui dalam hutan ya….sisanya silakan imajinasi sendiri :p

Sebelum naik ke kanopi, Jenny bertanya dulu apakah ada yang punya masalah dengan ketinggian. Tiga peserta lain menggeleng. Saya bilang, “Not that I know of….” Dengan jawaban itu, kami semua naik dengan tangga ke platform pertama, yang merupakan titik awal lintasan kanopi setinggi lebih kurang 20 meter.

Yang dimaksud kanopi adalah sebuah jembatan gantung dengan pijakan selebar dua papan kayu—pas untuk satu badan orang dewasa. Di kiri-kanan, disediakan pegangan berupa tali. Pemandu memberitahu bahwa walaupun kanopi kuat, tapi akan lebih baik bila pada saat bersamaan  hanya ada dua orang dewasa di atas kanopi. Jadi kami harus mengantri untuk berjalan; ketika satu orang sudah tiba di ujung, satu orang lagi bisa naik.

Saatnya saya membuktikan apakah memang benar saya tidak punya masalah dengan ketinggian.  Horeee! Ternyata untuk premis yang satu ini terbukti. Dengan gagah berani saya melangkah sambil melihat 20 meter ke bawah, dan merasa sangat bangga bahwa saya tidak pusing atau ketakutan.

TAPIIIIIIIIII, saya menemukan masalah baru. Semakin ke tengah, kanopi semakin bergoyang. Keberanian saya raib dan saya langsung mengerut seperti tikus. Rasanya ingin melangkah buru-buru supaya penderitaan cepat berakhir, tapi kanopi malah makin bergoyang dengan setiap pijakan. Nah lho… mati kutu!

Karena jantung sudah tak bisa kompromi, saya pun mengambil langkah kurang cerdas, yaitu berhenti melangkah. Sialnya, posisi saya tepat di tengah-tengah lintasan, tapi saya bersyukur karena goyangannya berhenti. Saat saya (dan kanopi) mulai tenang, tau-tau kanopi mulai mengayun lagi. Ternyata di belakang saya salah satu peserta tur mulai masuk ke kanopi dan tanpa perasaan bersalah melangkah dengan brutal. OMG! Setelah keringat dingin di tengah lintasan sambil memasang ekspresi datar karena gengsi, akhirnya saya bisa mengambil kesimpulan brilian: semakin kaku badan saya, semakin tidak seimbang badan saya, sehingga kanopi semakin berayun. Buat saya yang dalam kondisi kepepet, itu adalah penemuan baru yang layak dianugerahi nobel! Akhirnya saya berhasil memerintahkan diri sendiri untuk melemaskan badan dan melintasi kanopi dengan selamat tanpa mempermalukan diri sendiri. Berita buruknya adalah, lintasan kanopi yang saya lewati barulah yang pertama dari rangkaian kanopi yang harus dilewati. Uuuppss…….

Ternyata benar perkataan bijak ‘practice makes perfect’ 🙂 Setelah kanopi ketiga, saya mulai rileks. Saya juga menemukan satu trik, yaitu berjalan tepat di belakang pemandu, jadi tidak ada kesempatan ada orang lain di belakang saya sampai saya tiba di ujung platform.

Berikutnya, saya langsung berjalan di belakang Jenny. Tepat di tengah-tengah lintasan, Jenny berhenti dan menunjuk ke satu pohon yang persis berada di sebelah kanopi. Seekor ular viper warna hijau sedang duduk anteng menunggu mangsa! Ho..ho..ho… luar biasa rasanya bisa sedekat itu dengan alam. Viper adalah ular yang menurut istilah Jenny bukan venomous tapi megavenomous karena menyerang saraf dan mengakibatkan kematian dalam waktu singkat. Menurut Jenny, viper bisa duduk tenang di satu posisi selama berminggu-minggu bila tidak diganggu. Dia pernah melihat viper yang sama di tempat yang sama selama tiga minggu.

Kejutan berikutnya adalah ketika Jenny berteriak sesampainya di platform. Dia bilang sedang mencari serangga yang sering nemplok di pohon yang ada di platform, ketika dia melihat kaki berbulu bersembunyi di lubang dahan di pohon di platform. Bisa menebak? Saya melihat arah yang ditunjuk, hanya setengah meter di atas kepala saya, dan terlihatlah kaki berbulu warna hitam yang dimaksud. Sebuah Tarantula! OMG!

Sayang saya tidak jadi ikut Night Shift. Kalau iya, saya bisa melihat sarang tarantula di tanah, yang hanya dibuka oleh pemiliknya di malam hari untuk mencari mangsa. Di siang hari, saya tidak akan bisa melihatnya karena mereka menyembunyikan sarangnya. Anyway, I guess seeing one Tarantula in one visit is enough… perhaps some other time.

Di platform yang lain, kami melihat tiga burung Hornbill terbang. Dari bawah, mereka tampak berwarna putih, dengan bagian belakang hitam. Yang menarik dari burung ini adalah suara unik yang ditimbulkan oleh kepak sayap mereka, yang terdengar hingga jarak puluhan meter. Bahkan Jenny sudah bisa tahu akan ada Hornbill yang lewat karena sudah mendengar suara itu terlebih dahulu. Saya baru tersadar yang saya dengar adalah bunyi kepak sayap mereka setelah mereka akhirnya berhenti di pucuk pohon dan suara aneh yang mengganggu telinga saya hilang. Barulah keluar ‘O’ bulat dari mulut saya.

Perjalanan berlanjut, dan entah di platform ke berapa, saya dan Jenny merasa dilempari batang pohon dari atas. Ternyata ada seeokor tupai yang sedang mengais-ngais batang pohon, membuat potongan-potongannya berhamburan ke bawah menimpa kami. Hmm.. nakal ya… nggak pernah diajari sopan-santun ke tamu 🙂 Cute, though….

Di platform tupai ini saya sempat ngobrol dengan salah satu peserta lain. Nah, kalau kemarin saya syok mendengar Mike dan Judy keluar dari pekerjaan mereka untuk liburan 8 minggu, yang ini hampir membuat saya lompat dari platform. Bapak ini keluar dari pekerjaannya sebagai Waste Water Treatment Engineer di London untuk liburan selama 10 bulan! *pingsan*

Setelah tur berakhir saya berjalan cepat ke area akomodasi karena masih harus sarapan dan check out. Dalam perjalanan, saya masih sempat berpapasan dengan beberapa kadal, serangga, dan kupu-kupu. Tiba di area taman jam 9.30, waktu penghujung sarapan. Untung masih kebagian….

Akhirnya saya check out jam 10.20, setelah sebelumnya minta izin untuk check out telat dari jam resmi 10.00. Transport ke airport sama harganya dengan transport ke taman nasional dari airport, yaitu RM 5, tapi beda mobilnya 😉 kali ini saya kebagian Landcruiser, sharing mobil dengan sepasang suami istri dari New Zealand. Horeeeeee…..

Sorak sorai saya nggak bertahan lama. Begitu sampai di airport saya mendadak dilanda kesedihan yang dalam. Tak ada lagi suara binatang yang menemani dan menakut-nakuti saya tidur. Tak ada lagi berjuta bintang berkelap-kelip di langit tanpa tabir polusi. Tak ada lagi udara segar yang membasuh paru-paru sepanjang hari. Tak ada lagi hijau yang menyapa mata dengan keindahan Tuhan 😦

God willing, I’ll return one daySee you in the hopefully-not-so-distant future Mulu…..

 

7 Comments

Filed under Mulu Park - Sarawak, Travel

Jurnal Perjalanan: Mulu, Sarawak – Bagian 3

Pukul 14:00.

“Sakit perut?” Enggak.
“ Pusing?” Enggak.
“Jantung ngadat?” Enggak.
“Paru-paru mampet?” Enggak.
“Bisul pecah?” Enggak….Eh, Clio nggak bisulan deng…

“Horeeee…….”

Alhamdulillah…… akhirnya saat yang saya tunggu-tunggu dengan perasaan harap-harap cemas tiba juga, kali ini sehat walafiat. 🙂

Jam dua siang, semua peserta yang ikut tur Deer & Lang Cave berkumpul di depan kantor. Selain saya, ada tiga orang Malaysia, dua orang Canada, dua orang Jerman, dan tiga orang Jepang. Saya terkagum-kagum dengan dua peserta tur dari Canada yang ternyata asli Taiwan. Mereka memakai sandal jepit tanpa membawa perlengkapan apa-apa, hanya menenteng kamera poket. Yang pria, bahkan tidak berbaju, hanya mengenakan celana hawai seperti ke pantai. Sementara semua peserta lain rata-rata membawa tas ransel kecil untuk membawa perlengkapan seperti senter, jas hujan, kamera, dan botol minum, serta memakai sepatu tentunya. Saya malah bawa obat lengkap, plus plester, he..he..

Awalnya saya agak kurang antusias saat membayangkan 1.5 KM perjalanan akan sama persis dengan kemarin. Tapi ternyata itulah gunanya pemandu. Kalau kemarin saat berjalan seorang diri ke Paku Waterfall saya lebih banyak mengamati lintasan pikiran diri sendiri, saat ini saya mengamati alam dengan bantuan mata terlatih dan tajam milik Henry, pemandu berlisensi dari Taman Nasional. Belum lama kami berjalan, dia sudah menunjukkan seekor ular kecil di sisi jalan panggung. Saya pernah memegang ular sejenis dan sekecil itu di Sumatra, yang dijuluki ular lidi….diameternya mungkin hanya setengah senti, berwarna coklat seperti tanah dengan sedikit motif. Kalau jalan sendiri, dijamin pemandangan itu terlewat oleh saya.

Kami mengerumuni ular kecil itu dan beberapa orang sibuk foto-foto (*hiks). Mendadak mulutnya terbuka lebaaaaar sekali seperti sedang menguap…. Such an interesting view. Apakah sudah waktunya si ular tidur siang? 🙂 Menurut salah satu peserta, menguap itu adalah tanda ketidakpercayaan diri. jadi ular itu kemungkinan sedang merasa terancam dan memberi peringatan sebelum menyerang. Ups…. untung ukurannya kecil…. Bagaimanapun juga, kabuuuur….

Tak jauh dari situ, Henry meminta kami berhenti di dekat satu pohon dan mencari seekor serangga yang sedang menempel di batang yang tidak jauh dari kami, hanya berjarak satu meter dari wajah. Urgh, saya gagal total menemukan serangga yang dimaksud. Pria Malaysia yang bernama Elen* memutuskan untuk menyentuh sebuah dahan tipis berdaun supaya batang pohon bergoyang dan serangga bergerak, tapi malah dahan itulah yang bergerak! Wow, ternyata itu adalah serangga yang dimaksud….benar-benar penyamaran yang sempurna. Henry menyebutnya dengan Stick Insect, dan saya nggak tahu apakah ada istilah dalam Bahasa Indonesia untuk itu.

*Btw, saya nggak yakin menuliskan nama Elen dengan benar, tapi kedengarannya sih seperti itu saat dia memperkenalkan diri.

Ini foto stick insect dari national geographic. Kalau di foto ini masih terlihat jelas yang mana yang ranting pohon dan yang mana serangga, yang saya lihat tidak sejelas itu. Stick Insect yang saya lihat lebih tersamar lagi karena kakinya hilang dua, kemungkinan dimakan binatang lain :(….but hey, that’s life in the jungle.

Sumber: http://animals.nationalgeographic.com/animals/bugs/stick-insect/

Henry juga memperlihatkan contoh solidaritas antar-tanaman di hutan. Ha?

Awalnya dia menunjuk sebuah tanaman merambat dengan daun yang bolong-bolong, lalu bertanya ke peserta kenapa tanaman itu bolong. Jawaban polos tentunya adalah, “Memang diciptakan Tuhan sudah begitu.” 🙂 Tentu semua sebab bisa ditarik ke Yang Maha Kuasa, tapi selalu ada alasan di balik setiap penciptaan. Ternyata bolong-bolong itu bukan semata hiasan untuk membuat daun tampak imut, tapi ada penjelasannya.

Karena hutan hujan di Mulu sangat rapat, tanaman bersaing untuk mendapatkan sinar matahari untuk fotosintesis. Lubang-lubang besar di daun itu akan mengurangi jumlah permukaan yang memerlukan sinar matahari untuk fotosintesis. Dengan kata lain, lebih hemat lah yaaaaa….

Alasan lain, yang membuat saya tercengang adalah, lubang-lubang itu juga berguna untuk meneruskan sinar matahari ke daun-daun di bawahnya, sehingga semua daun bisa kebagian.

Aiiih… malunya ya kalau jadi manusia nggak bisa menunjukkan rasa solidaritas dan saling mengasihi serta membantu sesama. Tumbuhan aja bisa! How nature is teaching us so many things…..

Henry juga menunjukkan satu tanaman yang mengeluarkan suara gemerisik seperti suara TV rusak bila digoyang-goyang. Ternyata batang pohon tersebut kosong dan menjadi sarang semut. Suara gemerisik yang kami dengar adalah suara kepala semut yang beradu, sebuah tanda untuk siaga dan ancaman untuk mengusir pengganggu. Dan benar saja, begitu Henry mengangkat satu daun yang menyembunyikan lubang masuk ke batang pohon, semut-semut merah berhamburan keluar! Kabuuuuuur………

Setelah berjalan santai selama kurang lebih 40 menit, kami tiba di area terbuka seukuran lapangan tenis, tempat mengamati kelelawar yang terbang keluar dari gua (Bat Observatory). Dari tempat ini, antara jam 5 hingga jam 7 petang bisa terlihat jelas berjuta kelelawar yang keluar dari sarangnya untuk mencari makan.

 Sumber: http://blog.malaysia-asia.my/2009/07/bat-watching-at-mulu-caves-in-sarawak.html

Tempat ini akan menjadi tujuan akhir tur hari ini, namun sekarang kami mampir untuk duduk sebentar dan ke toilet.

Toilet?? OMG! Saya terkagum-kagum banget di tempat terpencil seperti ini ada toiletnya. Dan begitu masuk, saya ternganga melihat betapa putih bersih (dan kering!) lantai, dinding, dan klosetnya. Bahkan tersedia gulungan tisu! Oh…my beloved country…kapan engkau bisa seperti ini… hiks….

Setelah istirahat seadanya, kami beranjak untuk berjalan ke Lang Cave. Di jalan setapak menuju Lang Cave, kami disambut oleh sebuah pemandangan yang tak disangka-sangka: kupu-kupu yang terbang memenuhi jalan setapak. Ada lebih dari sepuluh kupu-kupu berwarna kuning-hitam tahu-tahu muncul di depan kami, beterbangan bebas seperti panitia penyambutan. Kami berhenti sebentar untuk menikmati pemandangan langka ini, dan melihat satu kupu-kupu hinggap di jalan, disusul dengan kupu-kupu lain, dan lain, hingga akhirnya ada lima kupu-kupu berbaris. Spektakuler, seperti masuk ke negeri dongeng.

Sambil melanjutkan perjalanan, Henry menjelaskan bahwa nama gua ini diambil dari nama penemunya….. Omong-omong, asyik juga kali’ ya kalau tahu-tahu ada yang iseng menamai gua dengan nama saya: Gua Clio Freya. Atau, jalan juga oke: Jalan Clio Freya. Atau, gedung juga boleh: Gedung Clio Freya ….. Mengkhayal boleh dooong…… 🙂

Lang Cave

Selamat datang di Lang Cave! Fiuuuh… akhirnya di hari ketiga berhasil juga lihat gua.

Sumber: http://www.mulupark.com/htm/cave_activities/index.htm

Masuk ke gua Lang, belum jauh dari mulut gua, Henry menunjukkan cacing yang membuat perangkap serangga di langit-langit. Benang-benang halus bergelantungan dari atas sepanjang tiga senti, yang fungsinya untuk menjebak serangga—mirip dengan sarang laba-laba, hanya beda bentuk saja. Di salah satu gua di Meksiko ada cacing yang sama, namun jaringnya berpendar dalam gelap (glow in the dark). Ternyata itu maksudnya supaya lebih menarik bagi serangga. Di Lang Cave ini, cacingnya nggak perlu repot-repot cari perhatian seperti itu karena serangganya banyak sekali…ibarat kata, dicuekin aja malah datang sendiri. Hmm….nggak nyangka kalau cacing aja bisa pakai taktik jual mahal juga.

Di beberapa tempat di gua ini, penerangan datang dari lampu yang akan menyala secara otomatis bila area tersebut dilewati pengunjung….hiks… kalau di negara tercinta, mungkin umurnya tak lama kali’.

Sumber: (I think I got it from either the National Geographic site or the World Heritage site).

Di gua ini pengunjung dimanjakan dengan berbagai bentuk bebatuan stalaktit dan stalagmit, mulai dari bentuk kerucut biasa, jamur,  pancuran mandi, hingga yang ehm… *sensor*…. menyerupai bentuk organ reproduksi. Henry menyebutnya dengan ‘naughty by nature’ 🙂

Kalau penasaran, lihat di link berikut aja ya…. another visitor to Mulu Park, who are very smart to have their camera ready (unlike me, *sigh*):
http://www.goolooloo.com/travelogue-tips/mulu-world-heritage-–-day-2-lang-deer-cave

Deer Cave

Setelah puas dengan Lang Cave, kami ke Deer Cave. Nah, Deer Cave adalah gua dengan ukuran mulut gua terbesar di dunia, sekitar 150 meter. Di chamber atau ruang tertinggi, ukurannya mencapai 350 meter, wow… itu lebih dari sepertiga kilometer!

Sumber: http://www.wallpaperweb.org/wallpaper/nature/deer-cave-mulu-national-park-borneo-malaysia_1600x1200_47115.htm

Di gua ini tinggal tiga juta kelelawar, yang secara total diestimasi memakan 5 ton serangga setiap malam, termasuk nyamuk. Clio bilang, “Terima kasih kelelawar, berkat kalian kulitku mulus tanpa bentol.” Maksud si Clio pastinya bentol baru…karena kalau bocel-bocel akibat gigitan nyamuk dulu sih masih keliatan bekasnya…. *awas, ditimpuk sendal*

Sumber: http://www.mulupark.com/htm/cave_activities/index.htm

Sambil terkagum-kagum melihat gua yang ukurannya raksasa (katanya sih cukup untuk parkir tiga pesawat Boeing 747!), ada satu pertanyaan di benak saya: kalau tiga juta kelelawar makan 5 ton serangga setiap malam, berarti kotorannya, yang disebut Guano, sebanyak apa ya? Menurut Henry, jawabannya bisa dilihat dengan jelas di tanah di kanan dan di kiri jembatan tempat kita jalan.

Setelah celingak-celinguk sebentar, saya tanya lagi, “Mana Guano-nya ya… kok cuma kelihatan tanah yang menggunung doang?”

DAN, ternyata yang saya kira tumpukan tanah itu sebenarnya adalah kotoran kelelawar! SEMUANYA!

Karena di gua cahayanya remang-remang, yang terlihat adalah tanah. Untuk membuktikan bahwa itu adalah kotoran, seorang pemandu grup lain menyorotkan senter ke tanah di pinggir jembatan, lalu menginjaknya. Begitu diinjak, tanah langsung amblas ke bawah, dan ketika om pemandu mengangkat sepatunya, terlihatlah berbagai macam binatang seperti kecoa dan cacing yang langsung berlompatan keluar di tempat yang diinjak. Oooh… tidaaak!

Di Deer Cave ini, karena ukurannya yang sangat besar, ada saat di mana kita harus berpindah dari sisi kiri gua ke sisi kanan gua, dan itu berarti melintas melewati jalan besi di tengah-tengah Guano.

Kalau sebelumnya saya menanggapi enteng peringatan, “Hati-hati ya jalannya, jangan terpeleset,” sekarang saya siaga 1. Siapa juga yang mau luluran pake’ Guano?!

Di gua ini, formasi batu terlihat sangat mengesankan karena ukurannya yang raksasa. Benar-benar kontras dengan bebatuan di gua Lang, yang menonjolkan detail dalam formasinya.

Ada yang bentuknya seperti Abraham Lincoln, yang hanya bisa terlihat dari satu sudut tertentu.

Sumber: http://www.mulupark.com/htm/cave_activities/index.htm

Semakin kami masuk ke dalam gua, bau ammonia dari Guano semakin menyengat. Saya sempat dengan pede menertawai Elen yang menutup hidungnya dengan tisu, tapi di akhir perjalanan saya juga menyerah dan melakukan hal yang sama. Menurut Henry, sore ini bau Guano memang super menyengat, kemungkinan karena kemarin turun hujan. Hmm… apa hubungannya ya? Entahlah, saya terlalu malas bertanya karena sibuk menenangkan diri sendiri supaya tidak membaui Guano. Perhaps next time I’ll ask.

Bat Observatory

Setelah selesai dengan Deer Cave, kami kembali menuju Bat Observatory.

Sumber: http://www.mulupark.com/htm/cave_activities/index.htm

Tidak lama menunggu, hanya sekitar setengah jam, terlihat rombongan kelelawar meninggalkan sarangnya.

Sumber: http://blog.malaysia-asia.my/2009/07/bat-watching-at-mulu-caves-in-sarawak.html

Saya sedikit kecewa karena ternyata mereka meninggalkan sarang dalam kelompok-kelompok kecil. Tadinya saya pikir berjuta kelelawar akan langsung meninggalkan sarang sekaligus, sehingga langit akan tertutup kelelawar. Setelah dipikir-pikir, masuk akal juga mereka pergi berkelompok, mungkin supaya bisa diatur oleh kepala rombongan. Elen berkomentar bahwa gelombang pertama yang pergi pastilah dari etnis Cina seperti dia. Saya mengerutkan kening sebentar hingga mendengar alasan yang dikemukakan Elen selanjutnya: karena orang Cina adalah pekerja keras….What a joke…. 🙂

Di perjalanan kembali, saya ngobrol banyak dengan Elen, yang ternyata lulusan bidang Finance dari Australia, dan bekerja di salah satu bank investasi di Kuala Lumpur. Dimulai dari perbincangan tentang karaoke, negara yang pernah dikunjungi hingga politisasi agama dan presiden SBY. Tak disangka memang, Elen yang sedemikian konyol bisa bicara topik yang serius. Mungkin karena pekerjaannya mengharuskan dia traveling ke berbagai negara tiga kali setahun dan bertemu dengan banyak orang, maka wawasannya luas dan terbuka. Btw, salah satu kekonyolan Elen yang lain adalah ketika Henry si pemandu sedang memperlihatkan ikan-ikan yang terlihat di sungai dari atas jembatan. Dia mendadak memanggil para peserta tur yang agak tertinggal di belakang, lalu berkata, “Hey guyz, hurry up, sushi for you here!” 🙂 Jadi jangan heran kalau saya tidak punya ekspektasi Elen bisa bicara serius.

Satu hal menarik yang diutarakan Elen adalah tentang bagaimana bagusnya kinerja presiden SBY di mata asing. Terlepas dari berita miring dalam negeri, presiden SBY sudah melakukan tugas yang baik dalam menaikkan rating Indonesia sehingga menarik investor asing untuk kembali menanamkan modal di Indonesia. Sebuah diskusi yang menarik, karena memberi perspektif lain bagi saya dalam melihat kinerja presiden.

Tiba di bungalow, tidak ada yang lebih saya impikan saat itu selain mandi air hangat dan menggosok badan dari kepala hingga kaki untuk meluruhkan sisa bau kelelawar yang menempel di badan.

Saat makan malam, saya duduk di satu meja dengan dua peserta Canada yang ternyata bernama Judy dan Mike, 27 tahun. Saya ternganga mendengar mereka keluar dari pekerjaan untuk bepergian secara backpacking ke Asia selama delapan minggu. Wow! Kalau di Indonesia, mungkin satu keluarga besar sudah memberi ceramah panjang lebar tentang pentingnya mempertahankan pekerjaan demi sebuah kemapanan 🙂 Di Mulu National Park ini, mereka tinggal satu minggu dan mencoba banyak hal. Selain Deer & Lang Cave yang saya ikuti, mereka ikut tur dua gua lain (Clearwater & Winds), dan yang tersulit dari semua adalah The Pinnacles. Sepulangnya dari Mulu ini, mereka masih akan berkeliling di tempat-tempat lain di Malaysia dan Brunei.

Sedikit cerita tentang Pinnacles:

Pinnacles adalah formasi limestone setinggi lima puluh meter yang bertebaran di salah satu area taman nasional. Untuk melihat formasi tersebut, selain harus berjalan kaki menembus hutan, pengunjung juga harus mendaki tebing atau bukit. Diperlukan dua malam perjalanan untuk melihat Pinnacles dari dekat, karena peserta harus bermalam di Camp 5 dalam perjalanan pergi maupun pulang. Dari Camp 5, jarak hanya sekitar 2.4 km, tapi perjalanan memakan waktu 8 jam.

Clio bilang, “Tidak mau, terima kasiiiih, liat fotonya aja deeeh.”

 Sumber: http://www.mulupark.com/htm/cave_activities/index.htm

Dari bincang-bincang sepanjang makan malam akhirnya saya baru tahu kalau Mike dan Judy siang tadi salah busana 🙂 Rupanya mereka mengira dalam tur ini ada acara naik perahu. Berdasarkan pengalaman mereka saat mengunjungi dua gua lain, mereka selalu naik perahu dan selalu kehujanan, jadi mereka hanya mengantongi ponco saja. Dan karena selama ini paket tur yang mereka ikuti selalu menyediakan makan siang, jadi mereka sama sekali belum makan siang, sedangkan sarapan pagi hanya kripik. OMG! Kalau saya disuruh jalan empat jam seperti tadi tanpa makan siang sudah pasti pingsan di jalan.

Mike dan Judy memesan satu porsi nasi goreng, satu porsi nasi putih dengan lauk sayur, dan satu mangkok laksa yang tampilannya sangat menarik dan menggoda. Bertolak belakang dengan spageti pesanan saya yang disajikan di mangkok sehingga tampak seperti mi instan saus merah. Untung menu saya dilengkapi dua potong roti garlic—satu masuk ke perut saya, dan satu lagi saya tawarkan ke Mike yang tidak ragu-ragu menerimanya dan mengaku masih lapar 🙂

Saya tentunya tidak melewatkan kesempatan untuk memanas-manasi mereka pergi ke Bali dong… secara itu tempat favorit saya. Mudah-mudahan Indonesia, termasuk Bali, Lombok, dan Pulau Komodo akan jadi tujuan perjalanan mereka selanjutnya.

I wish I did what they are doing when I was still that young….. Life is short and we only live once. From my short experience, I believe we can get in touch vertically with The Creator, by exploring horizontally through His creations.

Besok adalah saatnya tur Canopy Walk, jam 7 pagi. Tur ini diselenggarakan beberapa kali setiap hari, namun karena penerbangan saya siang hari dan check-out harus jam 10 pagi, saya memutuskan ikut yang jam 7 supaya masih sempat mandi dan beres-beres setelahnya. Mudah-mudahan bisa bangun pagi……secara nggak ada jam beker.

(bersambung ke Mulu Bagian 4 – terakhir aaah :))

Leave a comment

Filed under Mulu Park - Sarawak, Travel

Jurnal Perjalanan: Mulu, Sarawak – Bagian 2

“Wild Banana” – My Bungalow

Bila saya berjalan menuju bungalow dengan terperangah sambil melihat pemandangan asri dan alami di sekeliling saya, begitu sampai di bungalow saya lebih terkesima lagi. Bungalow yang saya tempati, bernama Wild Banana, berada tepat di ujung area akomodasi, berbatasan dengan jalan masuk ke hutan. Karena bentuknya rumah panggung, saya harus naik beberapa anak tangga untuk mencapai bagian teras, di mana terdapat pintu masuk. Tapi tunggu dulu….ternyata ada teras kedua yang lebih luas, yang terhubung dari kamar tidur lewat pintu kaca selebar dua daun pintu, seperti patio untuk bersantai lengkap dengan sepasang kursi kayu dengan mejanya. Wow…!

Ini foto yang ada di situs resmi Mulu Park, persis dengan yang asli. Pintu yang terbuka lebar adalah pintu samping yang mengarah ke patio, sedangkan pintu kecil di sebelah kanan adalah yang menuju ke teras.

Sekilas saya memperhatikan kalau ada pintu lain, yang menuju area kamar mandi, yang ternyata terbagi dua lagi, ruang shower dan ruang toilet.

Kenapa hanya sekilas saya perhatikan? Karena sudah hampir jam 5 sore dan saya belum makan siang 🙂 Ransum yang saya terima dari dua kali penerbangan siang ini hanyalah satu potong kue bolu dan satu kaleng Milo.

Café Mulu 

Buru-buru saya menuju Café Mulu yang letaknya persis di sebelah kantor, dan di tepi sungai. Hmm… lokasinya oke, tapi ternyata harganya nggak oke banget. Air mineral ukuran kecil (500 ml) harganya 3 ringgit, tiga kali lipat di kota. Belakangan saya tahu bahwa air keran di kamar bisa langsung diminum seperti di sebagian kota-kota Eropa. Hayyyaaaa….dari dulu saya paling nggak pede minum dari air keran. Aneh juga memang, mengingat saya pernah minum langsung dari sungai dan kubangan air saat masih bergabung dengan pecinta alam dulu, ha..ha.. Akhirnya saya memutuskan untuk tetap membeli air mineral, dan lain kali memasak air keran di dengan pemanas air yang disediakan di kamar.

Dan harga nasi goreng adalah….. RM 10, atau dua puluh delapan ribu. Euuuhh… nggak rela! Apalagi di dekat rumah di Jakarta ada tukang nasi goreng yang harganya delapan ribu! Tapi, karena balik ke Jakarta khusus untuk beli nasi goreng adalah rencana tak berakal dan non-beradab, terpaksalah saya relakan. Untungnya porsinya gedeeee banget, untuk kapasitas perut saya bisa dua kali makan. Jadi, sisanya saya bungkus deh untuk makan malam *kedip-kedip*

Plus, saya memesan secangkir kopi susu yang ternyata rasanya nggak enak banget. Aaaiiiih…. Dasar lapar mata!

Sambil jalan ke bungalow, mampir di toko suvenir yang juga jual makanan ringan. Tak disangka-sangka saya menemukan kopi sachet Indocafe…. Hhhuuuaaa… what a relief! Kalau mengandalkan kopi di café, mungkin hidup saya nggak panjang 🙂

Sambil menunggu makanan tiba, saya memesan paket tur di kantor, karena kantor taman nasional hanya buka sampai jam 5 sore. Rencana awal saya kira-kira tampak seperti ini:

  • 1 Jul: Pagi melakukan perjalanan sendiri (self-guide walk) menuju Air Terjun Paku (Paku Waterfalls). Malam ikut tur Night Shift, yaitu berjalan dengan pemandu di malam hari melalui jalur tertentu sejauh kurang lebih 2 km, untuk melihat kehidupan malam dalam hutan.
  • 2 Jul: Perjalanan dengan pemandu menuju Garden of Eden, sebuah lembah tersembunyi yang bisa ditempuh dengan beberapa jam berjalan kaki melalui Deer Cave, dilanjutkan dengan mengunjungi gua selebriti: Deer Cave & Lang Cave
  • 3 Jul: Canopy Walk atau tur melalui jembatan gantung di atas pohon

Ya ya ya… sangat ambisius, dan benar-benar bertolak belakang dengan rencana semula untuk duduk manis menikmati suara alam sambil mencari inspirasi untuk mengakhiri plot buku yang sedang saya tulis.

Memasuki malam hari, saya terperangah mendengar betapa berisiknya suara alam yang muncul dari arah hutan. Tanpa pernah jeda sedetik pun, terdengar suara gabungan dari beratus-ratus spesies serangga, burung, kelelawar, dan entah apa lagi, yang saling sahut-menyahut. Suaranya nggak kalah dengan perempatan lampu merah yang sedang macet, di mana mobil saling mengklakson dan orang saling berteriak. Yang membedakan adalah walaupun suara berisik alam ini memekakkan telinga tapi menenangkan jiwa.

‘Horor’

Pukul 10 malam, di antara suara berisik binatang hutan, saya mendengar suara langkah kaki yang menapaki tangga menuju bungalow saya. Ups…

Saya sendirian di bungalow berlokasi di pinggir hutan yang berjauhan dengan bungalow lain, tanpa tivi, tanpa telepon……satu-satunya andalan bila ada hal-hal tak diinginkan adalah teriakan. Suara langkah kaki itu langsung membuat saya menegakkan badan dan mulai deg-degan. Dan untuk pertama kalinya, saya berharap punya teman perjalanan.

Pertanyaan pertama: gaib atau non-gaib? 🙂 Ini adalah hasil nggak sehat dari kesukaan nonton film horor waktu masih kecil. Setelah mendengar langkah mondar-mandir di teras yang nggak ragu-ragu, saya berkesimpulan kalau itu non-gaib… fiuuuuuh……

Pertanyaan kedua: manusia atau hewan?

Nah, di bagian ini, imajinasi saya langsung terisi oleh pembunuh berantai yang meninggalkan korbannya di hutan. Mata otomatis mendelik ke pintu doong, untungnya udah dikunci… fiuuuuh lagi….. Terdengarlah suara langkah itu semakin agresif mondar-mandir di teras saya, lama-lama jadi kayak suara lari mondar-mandir seperti sedang main bola… lho? Hmm…. Pasti binatang!

*menyeka keringat dingin di dahi*

Pertanyaan ketiga: hewan apa?

Pertanyaan ini saya rasa nggak sepenting dua pertanyaan sebelumnya, jadi saya nggak ambil pusing. Sebenarnya saya bisa aja mengintip ke luar jendela, tapi siapa juga yang mau kaget! Gimana kalau ternyata itu binatang berbulu dan bersungut seukuran anjing dengan muka bertaring menyeramkan yang sedang menyeringai?? 🙂 Akhirnya saya pasrahkan tu binatang lari-lari bolak-balik kayak lagi main bola.

Akhirnya, saya tarik selimut sampai nutupin kepala dan tiduuuuuuuuuuur………… sambil berharap mudah-mudahan mimpi indah!

Apes bin apes, jam 2 malam saya terbangun dari tidur karena suara gradak-gruduk di teras yang keras banget, seolah-olah si hewan mengajak teman-temannya untuk main bola di teras saya. Ya ampuuun…. ! Nggak cuma itu, eh, maag saya kumat pula. Huh, gara-gara kopi nggak enak sore tadi, saya malah jadinya nggak bisa menikmati indocafe yang saya beli di perjalanan ini. Setelah makan obat dan makan biskuit, saya pun pulas lagi.

Paku Waterfall

Saya baru bangun dari tempat tidur jam 9 pagi keesokan harinya. Setelah sarapan dua pancake tipiiiiiiiiiiis banget di café (untungnya paket sarapan gratis), saya siap-siap jalan sendiri ke Paku Waterfalls yang berjarak 2,8 KM.

Karena saya mau jalan tanpa ditemani pemandu, saya harus menulis nama di papan tulis di pos sekuriti, beserta jam berangkat. Setelah kembali nanti, saya harus langsung ke pos dan mencoret nama tersebut dari daftar. Dengan cara ini, di akhir hari petugas di Taman Nasional bisa tahu siapa saja orang yang belum balik, dan kemungkinan nyasar.

Perjalanan saya dimulai dengan jalan santai di atas jalan kayu yang merupakan terusan jalan area akomodasi, berupa jajaran papan kayu seperti jembatan selebar 2 meter. Luar biasa rasanya berjalan sendirian seperti itu, menembus hutan di atas jalan panggung dari kayu. Selain bisa merasakan keindahan alam secara langsung ditemani berbagai suara binatang di habitat aslinya dan pemandangan hijau rapat yang menyegarkan mata, perjalanan ini terasa sangat aman dan nyaman.

Setelah berjalan sekitar satu setengah kilometer, jalan bercabang dan terpasang sebuah penunjuk jalan: jalan lurus nan nyaman di atas papan kayu adalah jalan yang menuju Deer & Lang Cave, sedangkan ke kiri sejauh 1.3 KM adalah ke Paku Waterfall. Ke arah Paku Waterfall, terlihat ada sebuah tangga kecil keluar dari jembatan yang nyaman dan kering, menuju…..jalan setapak tanah yang basah…. Aiiiiih…… ya…ya…ya… saya jadi manja banget setelah jalan dengan nyaman sejauh 1.5 KM, he..he.. Akhirnya saya turun dengan setengah nggak rela, pas kebetulan ada rombongan orang yang pulang tur dari arah Deer & Lang Cave. Sambil melambai, pemandunya bilang, “Don’t get lost.

Hold on…. wait a second!

Saya langsung berhenti. “Emangnya bisa hilang ya??” Pertanyaan itu langsung tersembur dong dari mulut saya. Pemandunya jawab selama saya tetap berada di jalur, saya nggak akan hilang. Yang terlarang adalah melanjutkan perjalanan dari Paku Waterfall ke Camp 1 tanpa pemandu. Jalur ke Paku Waterfall ini adalah jalur yang sama dengan jalur pendakian ke Gunung Mulu, jadi kadang beberapa orang merasa tergoda untuk melanjutkan perjalanan setidaknya ke Camp 1. Walaupun di peta tampak dekat tapi kalau dilakoni tanpa pemandu dijamin nyasar.

Ho..ho…jangan kuatir…. Saya tidak berencana sama sekali menghabiskan malam dingin di dalam hutan tanpa senter, tanpa makanan, tanpa jaket, dengan resiko digigit serangga dan binatang buas, sambil gemetaran berdoa supaya tim pencarian menemukan saya….. lebih baik tidur di bungalow dengan kasur dan selimut empuk.

Jadi, mulailah saya masuk hutan yang sebenarnya, menyusuri jalan tanah yang ditandai dengan batu-batu kecil yang dijajarkan di kiri dan kanan jalan setapak.

Awalnya sih memang seperti itu. Tapi lama-kelamaan, hutan semakin basah, jalan semakin becek, dan batang pohon rubuh yang melintang di jalan semakin banyak (walaupun sudah dipotong sehingga tetap ada jalan). Walaupun bukan halangan yang berarti, hal-hal itu membuat petunjuk batu-batu kadang menghilang selama beberapa saat, dan yang lebih fatal adalah, menurunkan tingkat kepercayaan diri saya berjalan sendirian di hutan.

Rute saya kurang lebih seperti ini: jalan setapak di hutan – ketemu jembatan kecil nyebrang sungai kecil – ketemu jalan pinggir sungai besar – lewat di bawah jembatan gantung – masuk hutan lagi – ketemu jembatan kecil yang nyebrang sungai kecil lagi – ketemu pinggir sungai besar lagi.

Saya sih ngerasa sudah berjalan jauh, sekitar setengah jam. Dan mengingat jarak ke air terjun dari persimpangan tadi hanya 1.3 KM, harusnya sih saya sudah tiba. Tapi waktu tiba di pinggir sungai, kok saya lihat permukaannya sama sekali nggak beriak ya? Nah lho. Mulai panik sedikit dong….

Walaupun sejauh ini binatang yang saya temukan hanya ulat bulu raksasa yang punggungnya berduri (asli kayak duri, bukan bulu), kupu-kupu, serta beberapa kadal, tetap saja nyasar di tengah hutan bukan ide yang menarik.

Saya mulai celingak-celinguk melihat jalan di depan. Saya yakin jalurnya benar karena masih terlihat batu-batuan di pinggir jalan setapak, tapi ketidakjelasan posisi dari titik akhir membuat saya ragu. Dan, setelah diam sesaat, melihat peta, trus memperhatikan jalan di depan yang becek banget, akhirnya saya balik badan.

Ciaoooo….. Nggak penting deh masih deket atau masih jauh, tapi membayangkan setelah berendam dengan tenang di sungai sekitar air terjun saya masih harus berjuang juga melewati becek-becek ini, kayaknya kok ide melanjutkan jadi nggak menarik. Dan akhirnya, setelah tiba di jembatan kayu nan kering dan indah, saya nggak menyesal sama sekali memutuskan untuk balik karena perut saya keruyukan minta diisi. Berhubung malamnya sudah ada segelintir sakit maag, semriwing keruyukan ini nggak bisa diabaikan begitu saja. Satu lagi ….. saya dah kepengen ke toilet, he..he…

Nah, supaya pembaca tidak terlalu kecewa karena nggak ada foto, saya tampilkan foto yang ada di situs resmi Mulu Park.

Ha? Kok kecil banget ya….. ini sih bukan air terjun, tapi air mengalir di batu. Di Indonesia sih pastinya banyak air terjun yang lebih mengesankan. Melihat foto itu, saya nggak menyesal tidak sampai ke sana, tapi kalau saya lihat air dengan permukaan tenang di sekitar air terjun,….. jangan-jangan dari pinggir sungai saat saya berbalik arah tadi jaraknya tinggal satu belokan lima puluh meter ya …. Aaaaarrrgghhh…..!

Setelah sampai di bungalow dan mandi, saya ke pos sekuriti untuk coret nama, lalu makan siang: sate ayam dengan nasi, seharga RM 12. Setelah itu tiduuuuuuuuur sampai sore.

Gagal Ikut Tur Malam (Night Shift)

Makan malam jam 18:30, saya pesan nasi dengan ayam asam manis dan beli air mineral ukuran besar. Pengeluaran: 12+6 = RM 18. Wah, ini mah perampokan, masa’ air mineral harganya RM 6 atau hampir delapan belas ribu! Eh, tapi salah saya sendiri sih, kenapa juga tadi lupa masak air di kamar….hiks…hiks…

Ternyata hujan turun lebaaat sekali pas selesai makan malam. Pemandu minta peserta menunggu setengah jam lagi. Kalau hujan tidak berhenti juga, tur dibatalkan dan peserta bisa minta uang dikembalikan esok hari.

Sambil menunggu, saya cerita bahwa di pagi hari saya berjalan ke Paku Waterfall, tapi kembali setelah melihat jalan becek. Eh, dia bilang biasanya kalau lagi berlumpur dan becek begitu banyak lintah…. Untuuuuuuung saya balik tanpa sempat kena senggol lintah! Pas lagi jalan tadi, saya sempat terpikir tentang lintah terutama waktu ujung celana bergesekan dengan dedaunan yang rapat. Untunglah saya balik tanpa cacat kulit. Pemandu bilang ada tiga cara melepas lintah, yaitu dioles pakai tembakau (yang ada di bagian dalam rokok), diludahi, atau disentil. Ada juga cara lain, yaitu nunggu sampai lintahnya kenyang n ndut, nanti dia menggelosor lepas sendiri 🙂 Dia juga sempat cerita tentang lintah yang namanya Tiger Leech atau lintah harimau yang guede dan ada strip kuning di samping badannya. Nah, kalau yang ini, sakit banget rasanya kalau sampai kena gigit.

Kayak apa ya Tiger Leech, penasaran deh saya. Eh, ketemu nih gambarnya di internet. Tapi karena ada copyright-nya, link-nya aja ya….

http://travel.mongabay.com/topics/new/tiger%20leech1.html

Hiiiiiiiiiii……. kebayang jadi segendut apa kalau udah menghisap darah!

Karena hujan tak mereda, akhirnya tur malam ini dibatalkan. Hmmm…. apakah ini akibat banyak yang mendoakan supaya plot buku kelar? Ck..ck..ck… doanya mempan juga 🙂 Oke deeeeh, malam ini berarti bengong sambil memikirkan plot, he..he..

Garden of Eden – Gagal lagi!

Saya mulai yakin banyak banget yang doain supaya saya duduk manis di depan komputer ketimbang jalan-jalan.

Pagi-pagi saya dah dengan semangat jalan ke kantor sambil berharap dapat pengembalian tur semalam. Eh, tanda terima saya ketinggalan di bungalow. Jadilah saya jalan ngebut kembali ke bungalow. Sewaktu tiba di bungalow, dada saya berdebar minta ampun! I’m not talking about a ‘regular’ fast beat, but felt like my heart was banging the skin from inside, wanting to jump out! Wah, saya panik dong, apa ini pertanda bakal ada serangan jantung. Saya duduk tenang dan ambil nafas, tapi nggak berhasil menenangkan debar yang masih lari. Rasanya seolah diri saya dengan debar jantung itu adalah dua entitas yang berbeda, bukan satu kesatuan. Di satu sisi saya merasa nafas stabil dan sudah tenang, tapi jantung masih juga berdegup kencang.

Akhirnya, saya kembali ke kantor dan membatalkan tur pagi karena nggak enak badan, tapi tetap ikut tur siang mengunjungi Deer & Lang Cave. Thank God, uang saya untuk tur pagi ini ternyata dikembalikan. Dan debar jantung itu pun normal kembali setelah setengah jam menyewa komputer kantor untuk membuka facebook. Mungkin sindrom orang kota kali’ ya… kalau kelamaan nggak ketemu internet langsung sakit, hi..hi…

Royal Mulu Resort

Karena nganggur, saya berinisiatif untuk jalan ke Royal Mulu Resort, yang katanya sekitar 4 km dari taman. Di gerbang, saya tanya ibu sekuriti yang jaga, menurut beliau saya harus jalan lurus sampai ketemu pertigaan…yaa…sekitar 100 meter lah, lalu belok ke kanan. Nah, sambil ngomong ‘kanan’, tangannya nunjuk ke kiri. Lho?? Karena nggak yakin, saya tanya lagi sambil konfirmasi bahwa tangan kiri itu ‘kiri’ … eh, beliau ngotot bahwa arah kiri itu disebut ‘kanan’ 🙂 Karena yakin ini bakal jadi perdebatan tak berujung, saya menyerah, menganggap kiri adalah kanan, lalu langsung jalan.

Dan, tidak sulit ditebak bahwa perkiraan jarak 100 meter itu hanya isapan jempol belaka. Karena saya ngerasa jalan udah jauh banget, tapi kok ujung dari 100 meter itu nggak kelihatan juga. Setelah sampai di pertigaan yang dimaksud, barulah saya baca panah petunjuk: “Taman National Mulu: 800 m”. Hah! Pantesan kagak sampe-sampe!

Yah, dari situ jalan sekitar 3 kilo lagi, untungnya di 1 kilo terakhir dapet tebengan motor dari cowok pembuat kerajinan tangan Mulu bernama Elvis.

Royal Mulu Resort, kalau menurut pendapat pribadi saya dari penglihatan sekilas, tampak lebih suram dari akomodasi di taman nasional. Kemungkinan karena bangunan-bangunannya tidak tampak terawat. Harganya pun lebih mahal ketimbang tinggal di area taman, tapi ya wajarlah, labelnya saja sudah Resort. Kelebihannya adalah, fasilitas hiburan lebih lengkap. Ada meja biliar, kolam renang, dan kayaknya sih di kafenya ada TV (saya nggak tau di kamarnya ada TV atau nggak). Saya sempat bertanya apakah aktivitas tetap sibuk saat libur Idul Fitri dan resepsionis menjawab ‘Ya’. Sebagian besar pengunjung adalah tamu asing yang tidak merayakan Idul Fitri, dan rupanya sebagian besar penduduk di Mulu beragama Katolik.

Setelah puas melihat-lihat Royal Mulu Resort, saya jalan balik lagi ke Park, sayangnya nggak ada tebengan. Ternyata jalan cepat tanpa tebengan memakan waktu pas ½ jam. Di perjalanan, ada pemandangan indah sebuah gereja katolik kecil dengan latar belakang jajaran bukit, yang dijamin akan tampak bagus sekali di atas kertas. I wish I had my camera, hmfftp….

Makan siang saya bawa ke kamar, beef burger dengan kentang. Kena biaya tambahan sebesar RM 0.5 untuk membayar tempat plastik. Nah, yang ini saya puaaaas banget…. nggak tau juga apakah ini akibat jalan 8 km di tengah hari bolong. Daging burgernya empuk banget dan very juicy. Cocok untuk menyiapkan perut bagi tur siang hari.

Omong-omong, sudah dua hari di Mulu, saya gagal terus nih ikut tur. Ih, nggak seru deh! *sorakin Clio, “Huuuuuuu”* Moga-moga siang hingga sore ini perjalanan ke Deer & Lang Cave bisa berhasil dan berjalan lancar…..

(bersambung ke Mulu Bagian 3 :))

Leave a comment

Filed under Mulu Park - Sarawak, Travel

Jurnal Perjalanan: Mulu, Sarawak – Bagian 1

Berangkat (30-Jun-2011)

Taman Nasional Gunung Mulu adalah salah satu tempat di Asia Tenggara yang masuk ke daftar World Heritage atau ‘Warisan Dunia’ kalau diterjemahkan secara bebas ala Clio 🙂

Berlokasi di Sarawak, perjalanan ke Mulu dari Kota Kinabalu memakan waktu 1,5 jam dengan maskapai MASWings, karena ternyata transit dulu ke Miri… ini sih tanpa sengaja, karena saya baru sadar setelah bayar online dan tiket dicetak. Tapi untuk perjalanan kembali, rute ternyata langsung dengan waktu tempuh hanya 1 jam.

Sebelum berangkat ke airport, saya sempat keliling-keliling cara tempat pangkalan taksi, yang saya yakin benar ada di sekitar hotel (karena hari sebelumnya pernah lewat), tapi lupa persisnya di mana. Setelah bersimbah keringat, akhirnya saya memutuskan mau beli SIM Card lokal dulu karena saya check in menggunakan handphone dan harus print boarding pass di airport menggunakan kode yang dikirim ke nomor di handphone. Eh, tenyata pangkalan taksi ada persis di belakang hotel. Minta ampuuuun…..

Kalau dari airport dari airport ke kota saya harus beli kupon dulu, untuk perjalanan dari kota ke airport saya hanya perlu tanya langsung ke Pak Supir berapa harganya (walaupun ada tulisan kalau taksinya pakai argo). Saya sudah pasang kuda-kuda nih buat nawar, secara saya kan orangnya paling nggak pede kalau harus nawar. Setelah mendengar harga yang disebutkan, yaitu RM 25, saya mendadak lupa dengan niat tersebut dan langsung oke, ha..ha.. dasar nggak konsisten.

Pak Taksi dengan yakin menebak kalau saya mau naik AirAsia. Begitu saya bilang mau naik MASWing ke Mulu, dia langsung berkomentar, “Mulu? Wow, tough one.” Hmmm….saya mulai merasa sedikit terintimidasi dengan komentar beliau, tapi hey, tiket udah siap niiiiih…udah check-in malah! Tapi tenaaaang….walaupun saya sempat beli asuransi perjalanan sebelum berangkat, saya nggak punya rencana ikut aktivitas penuh petualangan yang berat-berat. Malah, rencana saya ke Taman Nasional itu adalah bersantai di bungalow pinggir hutan, sambil sesekali mengetik, serta tidur ditemani suara binatang di alam liar. 🙂

Di airport, saya baru sadar kalau batere kamera saya tewas, dan saya nggak punya konektor listrik yang pas untuk memakai power outlet standar yang ada di Malaysia. OMG! So, my camera is super dead. Berarti nggak bakal bisa dipake’ pas lagi di Mulu. Sebagian diri saya sudah menyesal setengah mati dan menyalahkan diri sendiri, tapi sebagian yang lain dengan pede merasa bahwa ini adalah saatnya saya menikmati hari tanpa terganggu oleh keinginan foto dan menjadi narsis, plus sebagai pertanda bahwa saya harus balik ke sini lagi. Sebuah alasan menghibur diri yang garing abis, tapi satu-satunya yang terpikir saat itu.

*tarik nafas*

Saat sedang pengecekan boarding pas di pintu masuk area boarding, petugasnya bertanya, “Are you going to Mulu??”

Tidak ada yang aneh dengan kalimatnya itu sendiri, tapi nada bicaranya itu lho, yang bikin saya menaikkan alis. Setengah waspada, saya jawab, “Yeah, I’m going to Mulu. Why? Is there anything wrong with Mulu?
Pak Petugas buru-buru jawab enggak. Eh, beberapa saat kemudian, pas saya lagi ngubek-ngubek tas mo simpen tiket n pasport, dia tanya lagi, “Are you traveling alone?” Setelah saya iyakan, si bapak kasih komentar. “So, you are adventuring alone, to Mulu, huh?” Aduuuuh, si bapak ini bikin panik aja deeeeh….. saya kan jadi bertanya-tanya ada apa di Mulu dan kenapa emangnya kalau pergi sendiri ke sana!

Pesawat berangkat terlambat dari KK, yang harusnya 12.40 jadi jam 13.10. Yang bikin saya excited adalah pesawatnya beda dari pesawat yang pernah saya naiki karena punya baling-baling di bagian depan sayap, kayak pesawat yang ada di pilem-pilem tentang Perang Dunia II. Idiiih, norak banget ya, he..he…

Sebelum naik pesawat, saya menyempatkan diri foto narsis di kamar mandi. Lihatlah betapa tidak matching-nya tas yang saya bawa. Selain ransel di punggung, saya bawa tas bunga-bunga untuk laptop, hi..hi… belakangan, tas bunga-bunga itu nasibnya naas karena pegangannya putus. Uuppss….harus minta maaf sama putri tersayang, karena tasnya punya dia, he..he… “Maaf ya my baby girl.”

Duduk di 17F, ternyata tetangga saya adalah seorang pria asal KK yang kerja di Halliburton. Yah, bisa ditebak kalau setelah itu pembicaraan lancar laaah, nggak jauh-jauh dari dunia lapangan bidang perminyakan. Mulai dari klien, kehidupan sebagai engineer lapangan, kuliah, sampai tempat-tempat yang pernah dikunjungi saat bekerja. Victor, atau singkatnya Vic, lebih banyak bercerita karena pengalamannya lebih banyak dari saya yang hanya bekerja sebagai Field Engineer di Schlumberger selama 1 tahun. Dia sudah kerja selama 15 tahun! Dan dia bahkan bilang, “It’s in my blood.” I believe him. One can’t work consistently in the same job for 15 years without having the job penetrated into the soul. He said once he tried to work in the office and could stand it for only one week….. he even complained that he had two meetings everyday. Well, my golden rule for this: If you have only two meetings per day and you’re complaining, you are definitely a field person 🙂

Setelah penerbangan singkat selama 55 menit, kami berpisah karena tujuan akhir Vic adalah Miri. Yang menyebalkan adalah, saya tetap harus turun di Miri untuk melewati imigrasi, karena Sarawak punya sistem imigrasi sendiri. Bahkan Vic bilang dia juga harus lewat imigrasi, walaupun cuma lewat doang sambil nunjukin ID card. Jadilah saya nenteng-nenteng tuh tas bagong turun, lewat imigrasi, trus naik pesawat lagi.

Tadinya saya berharap pesawat kosong karena sebagian besar penumpang turun di Miri, eh tapi ternyata yang naik banyak banget. Jadilah penuh lagi. Belakangan saya tahu kalau pesawat pagi di cancel dan penumpangnya dialihkan ke pesawat siang, jadilah penumpangnya mbludak—kyknya yang kosong cuma satu seat, persis di sebelah saya. Lucky me.

Kebagian duduk di depan (6C), posisi saya jadinya persis di sebelah baling-baling. Nggak asiknya adalah, begitu mendekati Mulu (30 menit perjalanan), pemandangan ke Gunung Mulu nggak maksimal.

Gunung Mulu Park

Sampai di airport, sesuai petunjuk yang diberikan ke saya lewat email, saya langsung beli tiket transport ke park seharga RM 5. Di depan airport yang kecil banget itu, udah berjajar mobil penjemput. Paling depan ada dua landrover, di belakangnya ada angkutan seperti bis terbuka dengan duduk saling berhadapan….turis banget lah pokoknya. Saya konfirmasi ke ibu yang jual tiket yang mana transportnya dan dia tunjuk satu mobil lain yang diparkir di sisi luar, sebuah mobil seperti carry warna putih yang dihiasi warna coklat karat di sana-sini. Pokoknya tampilan luarnya butuuuuuut banget, udah kayak kaleng rombeng.

Saya sampai tanya tiga kali dengan muka bego pura-pura nggak tahu sambil setengah berharap dia salah tunjuk dan saya bisa naik Land Rover, tapi harapan saya hanya pepesan kosong. Dengan langkah gontai saya masukin barang ke bagasi, dan lamaaa banget nunggu penumpang lain yang mau ikutan mobil yang sama. Dengan mata nanar saya memperhatikan para penumpang satu demi satu meninggalkan saya dengan bis-bis dan mobil-mobil bagus… hiks….

Karena nggak tahan dengan perlakuan mirip diskriminasi (saya satu-satunya representasi orang Melayu, sementara sisanya Kaukasia, Timur Tengah, dan Asia Tengah), saya tanya ke Pak Tua, supir yang akan membawa si mobil tua. Ternyata, menurut Pak Tua, rombongan dengan mobil bagus itu perginya ke Royal Mulu Resort. Nah, resort yang disebut belakangan ini adalah ikon penginapan di Mulu. Bahkan Pangeran Albert dari Inggris aja pernah tinggal di sana dan bilang kalau Mulu adalah sanctuary on earth… sebangsa gitu lah.

Catatan: Pak Tua bukan nama supirnya, tapi cuma nama julukan dari saya karena orangnya kelihatannya sudah tua sekali.

Thank God, akhirnya beberapa penumpang kaukasia yang tampangnya sama bengongnya sama saya, ikut naik. Ha..ha… you should see their faces when they saw the car…. Mungkin tadi ekspresi saya seperti itu juga. Sepasang cowok dan cewek yang duduk di belakang saya kayaknya sih ngomong Jerman. Di sebelah saya orangnya ngomong Inggris walaupun logatnya juga Eropa, sedangkan penumpang paling berisik, pria Amerika, duduk di depan.

Pas mobil tua jalan, langsung disusul sama mobil ala pelesir yang super angkuh itu. Malah, satu orang berwajah Timur Tengah sempat memvideokan mobil yang saya tumpangi sambil ketawa-tawa. Menyebalkan sekali! Awas ya… pembalasan lebih kejam!

Sepanjang jalan yang ada di kepala saya adalah, apakah keputusan untuk menginap di park salah? Apakah lebih baik kalau saya memilih untuk menginap di resort saja? Wajar dong saya panik kalau melihat perbedaan kasta yang sedemikian jelas di mobil jemputan!

Belakangan saya baru tahu bahwa penjemputan di airport menggunakan jasa transport lokal, yang jenisnya bervariasi. Jadi, saya memang apes aja pas kebagian mobil itu.

DAN begitu saya turun di depan taman nasional, semua pertanyaan dan keraguan langsung menguap. Sewaktu turun dari mobil, penumpang langsung disambut sebuah pemandangan unik: jembatan kayu yang melintasi sungai, yang bergoyang-goyang ketika dilalui. Jadilah saya menyeberang dengan gagah berani, sambil harap-harap cemas kalau banyak kejutan menyenangkan lain di resort.

Begitu masuk ke area taman nasional, yang ada di pikiran saya adalah: SAYA NGIRI! Bagaimana bisa di Indonesia yang sarat tempat-tempat indah dengan alam yang luar biasa kaya raya tumpah ruah gelimpah mubah sumpah nggak bisa bikin hal spektakuler seperti ini?! Pertanyaan itu langsung dijawab oleh Clio dengan nada polos menggemaskan, “Oh iya…. Mungkin karena pemerintahan di Sarawak ini punya niat baik membangun negeri kali’ ya… dan nggak cuma berpolitik kisruh demi memperkaya diri semata.” Tumben si Clio pintar sekali.

Ketika masuk ke area kantor taman nasional, terlihat sekali bagaimana semua tertata dengan rapi. Foto-foto berbagai atraksi dan area taman nasional terpampang sebagai bagian dari desain interior kantor yang terbuka dan ramah. Para petugas berjajar sepanjang meja panjang yang melayani tamu menginap dan tamu yang akan memesan paket tur. Prosedurnya jelas: tamu datang langsung membayar harga kamar sejumlah pesanan plus uang deposit untuk kamar jenis tertentu, lalu petugas akan memberikan kunci dan remote AC.

Kemudian pengunjung bisa memesan paket tur yang sudah dicetak berupa peta. Jadi bisa terlihat dengan jelas posisi secara relatif dari tempat-tempat yang ditawarkan. Setelah pengunjung memilih, petugas akan mengecek sebuah buku internal yang menunjukkan ketersediaan tempat. Bila tempat masih tersedia untuk tanggal yang dipilih, petugas mengisi buku tersebut dengan nama pengunjung, dan mengisi kolom di peta dengan jenis tur dan jam berapa peserta harus berkumpul. Setelah pengunjung membayar, peta disobek dan diberikan ke pengunjung. Aaarrrgggh, I love it!

Itu baru proses administrasi pemesanan saja. Sekarang kita bicara tentang akomodasi di taman nasional.

Omong-omong, tadi saya sudah bilang kan ya kalau batere kamera saya tewas dan saya lupa charge di KK? Sudah? *%*^&*()*&^%

Ehm, berarti mulai sekarang semua tergantung deskripsi, tanpa foto. Untuk yang suka sakit mata kalau baca tulisan panjang-panjang, saya usul sih nggak usah dibaca, karena si Clio ini nggak mau bertanggung jawab dengan kesehatan pembaca blognya.

Mulaiiiii……

Akomodasi di area Taman Nasional Mulu ini dibuat menyatu dengan area hutan, dengan menempatkannya persis sebelum masuk hutan, tanpa pembatas.

Ada beberapa jenis akomodasi, mulai dari tipe hostel yang terdiri dari beberapa tempat tidur dengan kamar mandi bersama, hingga tipe bungalow yang lebih pribadi dengan kamar mandi di dalam. Setiap bangunan dibuat terpisah-pisah antara yang satu dengan yang lain, berbentuk rumah panggung yang berjarak sekitar 1.5 meter dari permukaan tanah. Semua bangunan di area ini dihubungkan dengan jalan panggung dari kayu, yang letaknya rata-rata lebih tinggi beberapa senti dari tanah. Di beberapa bagian yang masih dibiarkan seperti habitat asli, seperti rawa, kolam, atau tanah berkontur, tentunya jaraknya lebih tinggi lagi, seperti jembatan.

Saya benar-benar terperangah melihat keindahan alam yang bisa sedemikian menyatu dengan area buatan manusia. Kadal bisa dengan mudah di temui sedang berjemur di jalan panggung. Burung-burung berseliweran di udara, kadang menghilang begitu saja ke dalam semak belukar yang tepat ada di sebelah saya. Belum lagi suara binatang hutan seperti serangga dan burung, yang saling sahut-menyahut tanpa henti. Tak lama berada di sana, kita dapat dengan mudah memilah-milah jenis suara burung, yang jelas sekali tidak hanya satu spesies, karena suara-suara mereka berbeda.

(bersambung ke Mulu Bagian 2 :))

2 Comments

Filed under Mulu Park - Sarawak, Travel