Category Archives: Paris

Tentang Bahasa Prancis

Banyak sekali teman-teman yang menanyakan apakah saya bisa bahasa Prancis. Jawabannya adalah, ‘I wish I can….’

Interaksi pertama saya dengan bahasa Prancis adalah tepat sebelum perjalanan ke Paris, saat saya masih kuliah. Saya sebelumnya sudah diberitahu bahwa orang Prancis jarang sekali mau bicara bahasa Inggris, walaupun mereka bisa, jadilah saya menyempatkan diri membeli buku panduan bahasa Prancis yang dilengkapi satu kaset (kalau nggak salah terbitan Berlitz), di salah satu peron kereta api di London.

Dan waktu kaset itu saya setel di perjalanan, saya terperangah. Ungkapan perasaan Fay di ‘Eiffel, Tolong!’ sebenarnya adalah ungkapan saya saat mendengar kaset itu 🙂 Bagaimana tidak bengong kalau yang tertulis sama sekali tidak bisa di’korelasikan’ dengan apa yang saya dengar? Saya sampai mengulang kaset berkali-kali untuk mengetahui pelafalannya.

Kalau di kereta saya baru kenal dengan bahasa Prancis, saat tiba di Paris, saya pun jatuh cinta dengannya (*jatuh cinta bukan berarti bisa lho ya…). Mendengar bahasa itu dilantunkan oleh orang Prancis seperti mendengar tumpahan perasaan, bukan sekedar kalimat berita biasa. Walaupun kalau kalimat yang diucapkan panjang-panjang kedengarannya jadi seperti luberan air tak bertepi, tetap saja bagi saya bahasa itu indah.

Sampai di Jakarta, saya melupakan cinta saya itu hingga saya kerja di perusahaan multinasional berbasis Prancis, thus, banyak orang Prancis bertebaran di sana-sini. Menurut saya, bukan hanya bahasa Prancis terdengar semakin indah saat diucapkan mereka, tapi aksen mereka ketika berbicara bahasa Inggris juga unik, dan entah kenapa tetap terdengar indah …. ha..ha.. subyektif banget ya, tapi begitulah kalau orang lagi jatuh cinta.

Akhirnya, saya memberanikan diri belajar di CCF Salemba, ikut kelas intensif selama dua sesi. Hasilnya waktu itu sih oke juga….. tapi kendalanya ada dua: pertama, prakteknya sulit karena di Indonesia bahasa Prancis tidak membumi, dan yang kedua, bosan. Alhasil, bahasa itu menguap dari otak saya, pindah ke lain hati juga karena ngambek dengan status hubungan yang nggak jelas dengan saya….(*eh, ini lagi ngomongin bahasa ya, bukan pacar? 🙂 )

Jadi, kalau sekarang saya ditanya, jawaban saya ya itu tadi, ‘I wish I can….’ Sekarang, walaupun niat untuk bisa masih ada, tapi saya tahu diri karena waktu tidak mengizinkan. Kecuali tentunya, kalau ada yang mau kasih kursus gratis dengan guru privat sekeren Reno atau secakep Kent, datang ke rumah pula ……. Yippieeee, count me in!

Akhir kata, untuk teman-teman yang punya kesempatan (waktu & biaya), tidak pernah ada kata ‘rugi’ untuk belajar bahasa. Sekedar ilustrasi, saat saya dulu iseng-iseng tanya ke kedutaan Swiss tentang beasiswa, pertanyaaan pertamanya adalah, “Bisa bahasa Prancis atau Jerman?” Oops…. lagi-lagi kalimat andalan yang keluar, “I wish I can…” 🙂

Bahasa adalah jendela dunia, salah satu titik awal dari kesempatan untuk melihat realitas yang lebih besar dari yang kita ketahui saat ini. So, let’s learn about the world and see how we can actively participate as the world’s residence!

2 Comments

Filed under Paris

Tentang Paris

Eiffel Tower Sketch

Dengan setting cerita Fay di Paris, banyak sekali yang bertanya apakah saya pernah mengunjungi Paris. Saya tentunya tersanjung doong dengan pertanyaan itu, he..he.. Menurut interpretasi ge-er saya, dengan diajukannya pertanyaan itu, berarti deskripsi saya tentang Paris cukup meyakinkan sehingga teman-teman pembaca bisa larut dalam suasana kota Paris.

Jawaban saya atas pertanyaan itu, “Iya, saya pernah ke Paris lebih dari dua belas tahun yang lalu selama tiga malam, mengunjungi seorang Tante yang tinggal di Paris karena mengikuti suaminya yang ditugaskan di KBRI.”

Lalu, apakah pengalaman tiga malam itu cukup untuk mengetahui seluk beluk kota Paris? Jawabannya tentu saja ‘tidak’. Saya sudah puluhan tahun tinggal di Jakarta dan sampai detik ini pun pengetahuan saya tentang jalan-jalan kota Jakarta hanya seputar tempat tinggal, sekolah, mall (hanya yang sering dikunjungi), tempat kerja, dan jalan-jalan protokol saja. Pengalaman selama tiga malam tidak bisa menangkap detail kota Paris, tapi dari pengalaman singkat itu saya bisa menangkap suasana kota Paris. Setiap kota mempunyai energi yang berbeda, hasil perpaduan antara budaya, kebiasaan, sejarah, ‘prototipe’ penduduk kotanya, dan banyak hal lainnya. Sampai saat ini, saya tidak bisa melupakan ‘crowd’ yang ada di jalan-jalan sekitar Eiffel, termasuk perasaan saya saat melintasi jalan dan mendengar percakapan dalam bahasa Perancis yang tidak saya mengerti sama sekali, dengan pemandangan Louvre atau Eiffel sebagai latar belakang.

Jadi, bagaimana saya bisa tahu detail jalan-jalan tidak hanya di Paris, tapi bahkan di Fontainebleau yang bahkan belum pernah saya kunjungi?

Jawabannya adalah: keajaiban internet! Saya harus angkat topi kepada para perintis penelitian internet di tahun 50-60-an di Universitas Cornell, Amerika (kalau tidak salah ingat pelajaran sejarah komputer) :p Berkat mereka, semua informasi sekarang begitu mudah didapat, hanya dengan modal koneksi, tekad baja untuk menemukan informasi yang tepat, secangkir (atau dua cangkir) kopi untuk menemani begadang, dan kacamata silinder supaya saya tidak pusing 🙂

Nah, jadi sudah terjawab yaaaa…… 🙂

5 Comments

Filed under Paris