Category Archives: Kota Kinabalu – Sabah

Jurnal Perjalanan: Kota Kinabalu, Sabah – Bagian 1

“Horeee…!”

Yippiiieee….. akhirnya sampai juga!

Berangkat dari Jakarta dengan penerbangan Airasia tanggal 28 Juni 2011 malam, saya tiba di Kota Kinabalu International Airport masih di tanggal 28 Jun, pukul 23.30. Setelah proses imigrasi yang sempat ‘macet’ sebentar akibat proses closing sistem komputer tepat tengah malam, akhirnya saya bisa menghirup udara Kota Kinabalu, tepat di pergantian hari. Eh, sebentar….. kok ternyata udara yang dihirup sama aja ya di mana-mana, he..he… Masih di sekitar katulistiwa, saya tidak merasakan perbedaan signifikan antara lengketnya udara Jakarta dengan di Kota Kinabalu.

Sebentar…. sebelum cerita dilanjutkan, mungkin harus jawab pertanyaan berikut dulu: “Kenapa ke Kota Kinabalu ya?” Hmm… sebenarnya tujuan awal saya adalah Bali, tapi setelah ngebrowse sampai jungkir balik dengan kombinasi berbagai penerbangan, teteeeeep aja harga tiketnya mahal banget. Jadilah iseng cobain satu-satu destinasi AirAsia, eh, ketemu deh Kota Kinabalu 🙂

Lanjuuuuut…..

Di pesawat, saya sempat kuatir dengan masalah transportasi ke hotel di tengah malam buta seperti ini, tapi ternyata kekuatiran saya tak beralasan. Prosesnya sangat mudah dan cepat: tinggal ke konter taksi yang ada di area kedatangan, sebutkan tujuan, lalu bayar sesuai aturan, menerima kupon sesuai tujuan, cari antrian taksi airport di luar, lalu berikan kupon ke supir taksi. That’s it! Setelah itu tinggal duduk manis dan mengobrol sama pak supir taksi. Untuk tujuan saya, Hotel Sarangnova di Jalan Gaya, tarif resmi yang dikenakan ke saya adalah RM45.

Hotel Sarangnova, Jalan Gaya

Jalan Gaya adalah jalan turis di Kota Kinabalu, berada di tengah-tengah keramaian dan posisi yang strategis untuk menikmati berbagai atraksi. Banyak sekali hotel model backpacker dan hotel butik bintang dua atau tiga, kedai kopi lokal, dan makanan siap saji internasional di jalan ini dan sekitarnya. Untuk yang keuangannya longgar dan memilih hotel berbintang, posisinya pun tidak jauh dari Jalan Gaya, hanya berjarak beberapa blok ke arah pinggir laut.

Hotel Sarangnova saya pilih karena harganya yang lumayan, posisinya yang strategis, dan ratingnya bagus di Tripadvisor — yang terakhir ini adalah hukumnya w.a.j.i.b bagi saya, baik pergi sendiri, atau dengan keluarga. Hotel ini didesain apik dengan tema berbagai spesies burung. Walaupun kecil—area lantai satu yang berisi resepsionis hanya seluas satu ruko—setiap kamar yang ada di lantai dua dan tiga dihias dengan foto spesies burung yang berbeda, dengan deskripsi singkat yang ditempel di dinding sebagai ornamen.

Beberapa kamar memiliki jendela yang menghadap ke luar, tapi beberapa kamar kurang beruntung. Saya kebetulan kebagian kamar di lantai tiga yang ada di sudut jalan, menghadap ke perempatan jalan. Dari jendela saya, bahkan terlihat Atkinson Tower, yang menurut berbagai buku panduan adalah salah satu tempat wajib-kunjung di sini. What a perfect view.

Tepat di bawah kamar saya, dan di pojok seberang kamar, ada kedai kopi yang sampai lewat tengah malam ini masih buka (Ashrin Curry House), bahkan masih melayani tamu. Kalau dari pengamatan sekilas, tamu yang dilayani adalah penduduk lokal, bukan turis. Terus terang, nggak saya sangka sama sekali kalau penduduk Kota Kinabalu senang nongkrong santai hingga lewat tengah malam…..kayaknya cocok nih kalau saya pindah ke sini 😉

Foto Ashrin Curry House, diambil pagi hari….

Old Town Coffee

Setelah tidur nyenyak hingga bangun kesiangan, saya memutuskan untuk skip sarapan dan langsung makan siang. Celingak-celinguk di sepanjang Jalan Gaya, saya dengen pede melangkah ke salah satu kedai kopi, hingga mata saya menangkap tulisan di spanduk besar: Bah Kut Teeh. Saya langsung mundur teratur. Akhirnya saya mencari tempat dengan sabar dan berjalan lebih tenang, hingga menemukan tempat keren, sebuah kedai kopi modern berlabel lokal, Old Town. Tempatnya lebih seperti café yang cozy dengan desain sesuai namanya, mengingatkan pada bagian kota tua. Posisinya yang di pojok jalan, membuat saya memilih duduk luar sehingga bisa melihat dan mengamati lalu-lalang orang dan mobil.

Di seberang Old Town café, terlihat sebuah hotel unik bergaya Hongkong di tahun 40-an: Jesselton. Hotel ini sering diulas di internet dan panduan lokal karena termasuk salah satu bangunan dengan sejarah panjang. Selain merupakan salah satu bangunan awal yang dibangun pasca PD II, tercatat banyak tokoh yang pernah menginap di hotel ini. Salah satunya adalah petinju Mohammad Ali.

Makanan di Old Town bervariasi, dengan harga sedikit lebih mahal dari kedai kopi tradisional, plus masih kena pajak. Contoh beberapa menu di sini: Nasi Lemak berharga RM 8, Chicken Hainan RM 11.5, roti tipis isi selai kaya atau butter RM 1.8, roti yang tebal-tebal RM 4. Yang sedikit berbeda dari kedai kopi lain adalah roti kukus seharga RM 4.2 yang disajikan dalam tempat bambu bulat kukusan dimsum.

Saya pesan Curry Paratha, sejenis masakan India yang rasanya sudah dimodifikasi dengan lidah melayu, seharga RM 5 ringgit.

Atkinson Clock Tower

Selesai makan, saya beranjak melihat Atkison Clock Tower dari dekat, yang menurut saya sih sama saja bila dilihat dari jendela kamar hotel, he..he.. Ukurannya saya rasa lebih kecil dari Jam Gadang yang ada di Bukittingi. Menara ini adalah landmark Kota Kinabalu, salah satu struktur tertua yang selamat dari bombardir serangan udara saat PD II.

Nah, kalau dari kamar hotel nggak bisa lihat papan hijau berikut:

Dalam perjalanan, saya melihat sebuah bangunan yang bentuknya unik, seperti segitiga kalau dilihat dari atas….jangan tanya bangunan apa ya… saya terlalu malas untuk cari tahu di bawah sengatan terik matahari tanpa topi dan sunblock, he..he.. Tergantung pengambilan sudut saat menjepret, bangunan ini bisa tampak bagaikan kertas tipis. Saya aja sempat bengong sebentar waktu pertama kali melihat gedung ini dengan sebagian sisi tersembunyi.

Sabah Tourism Building

Dalam misi menyusuri Jalan Gaya (sama sekali tidak terdengar misterius), saya melewati  Sabah Tourism Building yang merupakan bangunan bersejarah (dibangun tahun 1916, dan termasuk yang selamat dari pemboman PD II). Saya lewatnya dua kali malah, hingga sempat foto-foto segala. Belakangan saya baru sadar kenapa juga nggak mampir ke dalam dan cari informasi ya… hmm….  I guess my brain has left my head somewhere along the way without my knowledge.

Karena kurang kerjaan, saya foto juga Tandas Awam, atau Toilet Umum, yang berdekatan dengan Sabah Tourism Board, he..he… Bersih lho kayaknya…. saya sih belum terlalu kepepet untuk coba sendiri.

Mal Suria Sabah

Dan, akhirnya yang jadi penyelamat saya siang ini adalah: Mal Suria Sabah.

Saya sudah bertekad tidak mau mampir ke mal, tapi ada satu insiden kecil: ikat pinggang saya ketinggalan di Jakarta. Yeah… I know… quite dumb. Perhaps my brain had left me longer than I realized. Nah, kalau hari sebelumnya celana jins saya masih terpasang dengan rapi tanpa ikat pinggang (sehingga saya nggak sadar kalau nggak pakai ikat pinggang), siang ini celana mulai sedikit melorot-melorot, he..he.. uupps… (*tersipu). Jadi saya melanggar sumpah dan mampir ke mal untuk membeli ikat pinggang. Dan karena mata saya dengan lincah menangkap toko peralatan outdoor, jadilah saya mampir dan membeli beberapa barang lain: sebuah baju dengan bahan cepat kering seperti parasut, serta jas hujan plastik untuk persiapan mengunjungi taman nasional keesokan harinya. Yang saya sesali belakangan adalah, saya tidak membawa atau membeli lampu senter yang bisa dipasang di kepala.

Saya menuju mal melewati jalan pinggir pantai yang lebar dan dihiasi beberapa patung ikan. Di dekat sini kalau malam ada kumpulan tenda-tenda penjaja makanan, kebanyakan makanan laut. Mungkin nanti saya kunjungi… sekarang, patungnya dulu yaaa….

Ups… ada yang pacaran dekat Mbak Lumba-lumba… how romantic, hi..hi..

KK City Mosque

Sore hari, saya berencana mengunjungi KK City Mosque, mesjid terbesar di KK, yang dikelilingi air, dan katanya punya kesamaan dengan Mesjid Nabawi di Madinah. Saya pergi jalan kaki ke terminal bis, lalu diberi petunjuk oleh pak supir bis untuk menaiki bis ber-AC yang menuju ke mesjid. Tarifnya murah, hanya RM 1. Di sebelah saya duduk seorang ibu, yang ternyata asli Sulawesi namun sudah jadi warga Sabah setelah puluhan tahun lalu migrasi ke Sabah. Si Ibu bertanya saya mau kemana dan dengan pede saya menunjuk ikon mesjid di peta. Si Ibu tertegun dan bilang kalau saya salah bis. Beliau buru-buru menghentikan bis di halte terdekat, lalu ikut turun karena ingin mengantarkan saya.

Sambil jalan, si Ibu bertanya, “Sampai di mesjid mau ngapain?”
Saya jawab, “Nggak mau ngapa-ngapain Bu, cuma lihat mesjidnya saja dan foto. Katanya mesjidnya bagus, dikelilingi air.”
Si Ibu berhenti jalan, “Dikelilingi air? Kalau mau ke mesjid yang dikelilingi air, bis tadi benar. Tapi itu bukan mesjid yang kamu tunjuk di peta.”

Ya ampuuuuun….! Ternyata yang saya tunjuk di peta adalah Sabah State Mosque! Aiiih….. super-nggak-jenius!

Jadilah saya naik bis lagi, kali ini nggak ber-AC, ke tujuan semula.

Sampai di halte bis tujuan, setelah salam perpisahan dengan si Ibu, turun hujan. Dan saya pun meratapi jas hujan yang baru saja siang tadi saya beli, yang sedang duduk manis menonton tivi di kamar hotel! Hiks…hiks…

Setelah hujan sedikit reda, saya merelakan diri hujan-hujanan dan jalan ke mesjid. Akhirnya, saya bisa foto mesjidnya…horeeeee….. lumayan lah hasil fotonya, untuk ukuran kamera poket dan status pemotretnya yang amatir.

Sambil berjalan ke halte untuk kembali ke hotel, setelah sebelumnya tanya ke pejalan kaki cara balik ke kota, saya mampir beli pisang goreng seharga RM 1 untuk 8 potong kecil (*asik asik…murah). Iseng-iseng saya tanya arah lagi. Dan hasilnya adalah saya salah besar! Kalau saya menunggu di halte seperti petunjuk pertama, bisa dipastikan saya akan berakhir di daerah kampong…. OMG! Akhirnya di bis saya memakan 6.5 potong pisang goreng… ha..ha.. pengaruh lapar dan stres kayaknya.

Pelajaran saya hari ini: jangan percaya dengan satu orang saja…. selalu cross-check ke sumber lain!

Asrin Curry House

Malam, saya makan di Asrin Curry House, kedai kopi di pojok jalan persis di seberang hotel. Pesanan saya sama sekali bukan kombo yang pas: mi goreng berminyak serta milo panas yang creamy…. I don’t care…. I think I could eat an elephant!

Eh, ada jual Soto Jawa juga lho… enggak tau tuh kayak apa. Sepengetahuan saya sih di Jakarta nggak ada yang namanya Soto Jawa.

Ini adalah foto Jalan Gaya (bagian yang nggak terlalu ramai) di waktu malam.

Kesan saya di hari pertama: Kota Kinabalu adalah kota kecil yang ramah pengunjung, bersih, tertib, dan relatif aman. Semua atraksi disajikan dengan menarik sehingga bisa menarik minat pengunjung, dan informasi sangat mudah didapat. Jadi tidak perlu lagi ada guide-guide liar yang menawarkan jasa kiri-kanan ke turis atau pengunjung.

Hmmm….. kapan ya kota-kota di Indonesia, dengan atraksi yang luar biasa menarik, bisa disajikan sebaik di sini?  Ada nggak sih visi dan program dari pemerintah yang menyeluruh, mulai dari perencanaan high-level hingga detail pelaksanaan dan pengawasan lapangan, untuk memajukan kota lewat pariwisata?

Eh, saya mimpi nggak ya kalau berpikir pariwisata di Indonesia bisa semaju itu, dan pemerintah bisa sekonstruktif itu membangun pariwisata ramah lingkungan?

Wah, mending tidur aja deh… Good night. Zzzzzzzz……

2 Comments

Filed under Kota Kinabalu - Sabah, Places, Travel