Category Archives: My Writing

Sinopsis ‘Traces of Love’ (lanjutan From Paris to Eternity)

Sebulan telah lewat sejak Fay diterima menjadi anggota keluarga McGallaghan.

Lewat kehidupan yang nyaris sempurna di kastil McGallaghan di Paris, Fay berjuang melalui kesedihan akibat kehilangan kedua orangtuanya, sembari mencoba beradaptasi dengan anggota keluarga yang lain, termasuk Kent dan Reno. Di saat yang bersamaan, Fay menjalin komunikasi dengan Enrique Davalos, cowok keren berambut cepak asal Venezuela yang dikenalnya di cafe.

Setelah ulang tahun Fay yang kedelapan belas yang dirayakan dengan jamuan megah, pamannya, Andrew McGallaghan, menyatakan bahwa masa berkabung Fay telah usai. Fay pun diarahkan untuk mengetahui seluk-beluk keluarga secara lebih dalam, termasuk mengenal Core Operation Unit (COU), badan intelijen di bawah naungan keluarga McGallaghan.

Sejalan dengan waktu, hubungan antara Fay dan Enrique terjalin semakin erat—Kent dan Reno membayangi gerak-gerik Fay, masing-masing dengan alasan tersendiri. Bagi Fay, hubungannya dengan Enrique berjalan sempurna, hingga Andrew McGallaghan mulai memainkan kartunya satu demi satu.

Fay pun dihadapkan pada dua pilihan: mengikuti perintah pamannya dengan mengorbankan perasaannya, atau mendahulukan perasaannya dan menghadapi kemarahan pamannya.

4 Comments

Filed under 'Traces of Love'

‘Tak Ada Zoba’ (Refleksi dalam Cerita)

Aku adalah kematian. Di alam di mana wujudku nyata, mereka memanggilku Zoba.

Apa?? Menurut kalian aku mengada-ada karena namaku berbeda dengan sebutan yang kalian tahu selama ini??

Kalian, manusia, memang pelupa, bodoh, dan munafik! Adalah golongan kalian sendiri yang mengatakan ‘Apalah artinya sebuah nama…’

Tapi tunggu, ….. tuduhanku sepertinya tak berdasar. Perkataan indah itu bukan berasal dari mulut-tak-bijak golongan kalian. Maafkan aku. Sang Satu memilih ladang pikiran nan indah milik seorang manusia untuk tempat persemaian kalimat-kalimat indah milikNya seorang, dan mengirim sang pembawa pesan, Zula, untuk menyampaikannya. Bagi kalian, manusia penerima pesan yang melantunkan kalimat-kalimat indah semacam itu hanya pujangga. Bagi kami, dia adalah perpanjangan tangan sebuah pesan langit.

Sang pengantar pesan, Zula, selalu menjalankan tugasnya dengan bangga dan penuh suka cita. Siapapun akan melambung bila mengemban tugas sepenting itu dari Sang Satu. Semua pesan Sang Satu menyimpan makna. Di balik semua pesan itu ada akar bagi semua, Sang Satu.

Sebuah bisikan dari Sang Satu pasti bisa menahan gejolak sepanjang masa. Ia akan hidup melewati gelombang pasang surut peradaban manusia, yang menurutku sebenarnya tak pantas disebut peradaban. Demikianlah bisikan itu terus ada. Tapi manusia-manusia bodoh yang tidak mengerti hanya mengutip kalimat-kalimat milik Sang Satu di sana-sini dengan congkak tanpa ingin menyadari makna. Kesombongan memang tak pernah punya makna, apalagi harga. Ia hanyalah selaput ari-ari pembelit yang suatu hari nanti akan luruh tak bersisa. Terkutuklah kalian yang buta dan melihat kesombongan sebagai jubah tak terkalahkan. Lagi-lagi harus kukatakan, manusia adalah makhluk bodoh, pelupa, munafik, sombong, dan …..

Ah. Cukup. Aku harus berhenti. Duniaku berbeda dengan dunia kalian – di sini kami tidak memaki. Kami hanya menyebar kasih, ke semua alam yang membentang luas, di mana dunia kalian hanyalah salah satunya; sebuah keniscayaan yang tak terbantahkan bila berada sedemikian dekat dengan Sang Satu, sumber segala. Bahkan bila tangan-tangan terentang yang bersiap menerimanya adalah tangan-tangan rakus yang menurut kami tak layak menerimanya. Tapi itulah Sang Satu yang tidak pernah pilih kasih. Tidak seperti manusia-manusia tak tahu diri yang menerimanya.

Zula dan aku berkawan. Dekat. Kalian mungkin heran di mana irisan antara titik hitam pembawa kematian dengan cahaya pembawa inspirasi. Keduanya tampak bertolak belakang dan tak ada benang penyatu. Tapi itulah indahnya Sang Satu. Dengan campuran adonan cinta, kuasa, dan rasa humor yang tak bisa dimengerti oleh semua, Sang Satu mempertemukan dua kutub berbeda di pijakan yang sama. Istilah kalian adalah ‘dua sisi mata uang’. Di situlah letak humornya.

Masih belum mengerti?

Saat menjalankan tugas, aku akan mengembuskan awan kematian sehingga kalian yang sudah habis masa akan diliputi oleh kegelapan. Tidak ada yang bisa menembus kegelapan itu kecuali cahaya dari hati kalian. Itu bila kalian punya.

Di sinilah Zula masuk ke panggung pertunjukan. Dalam gelap pekat yang mencekik dan tak tertahankan, Zula akan meniupkan gelembung-gelembung bening nan rapuh berisi refleksi hidup kalian dan memasukkannya ke dalam sel-sel otak di kepala kalian. Saat gelembung itu pecah, sesaat kalian akan merasakan sebuah mukjizat tiada tara. Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata di bahasa apapun yang ada di dunia kalian, karena yang ada hanya rasa dalam wujud termurni. Sebuah rasa dari alam kami. Sebuah pencerahan yang menyilaukan dengan ledakan dahsyat, memancarkan rupa-rupa kisah hidup singkat kalian dengan beragam rupa emosinya – penyesalan, hasrat, duka, lara, cita – namun pada saat yang sama akan menggumpalkan semua emosi itu, menyisakan hanya diri kalian yang sebenarnya, yang bukan apa-apa. Dalam penyatuan antara ketiadaan dengan kehampaan itulah, kalian merasakan sebuah kenikmatan sejati menjadi manusia. Sebuah rengkuhan orgasme atas kekosongan – sebuah rasa tak berawal dan tak berujung.

Berita baiknya adalah, kalian semua berkesempatan merasakan saat-saat kesempurnaan itu. Berita buruknya adalah, dalam takaran kalian yang baru saja akan mengenal wajah keabadian dalam wujud terbaik dan terburuknya, rasa kesempurnaan nan nikmat itu berlangsung hanya sesaat.

Dan ketika kesempurnaan itu tercerabut…….yang ada hanya surga atau neraka — ini pun menurut bahasa kalian.

Bagi kalian yang belum pernah mencapai orgasme ini sebelumnya dalam keadaan utuh sebagai manusia, sebelum dimakan umur, digelendoti penyakit, serta digerogoti kerapuhan, kalian akan merasa bagai dihempas ke dalam jurang tak berdasar, di mana kepekatan demi kepekatan dengan udara yang semakin lama semakin membelit akan menyambut kalian. Hingga kalian menyentuh dasar kehampaan. Di mana kalian akan lebur dan menjadi tiada.

Namun, bagi kalian yang pernah mencapainya dalam keadaan utuh sebagai manusia, sebelum dimakan umur, digelendoti penyakit, serta digerogoti kerapuhan, kalian akan mencoba kembali pada ingatan lampau. Mencoba mengingat rona asmara pada saat indah orgasme kosong. Biasanya itu berhasil. Kalian akan terjun menuruni jurang ketiadaan dengan senyum simpul perawan muda dan pipi berwarna kemerahan seperti sedang didekati perjaka tampan dan diberkati para tetua. Udara menjadi merah muda. Ketiadaan itu sendiri juga menjadi merah muda. Merona. Belia. Tersipu. Sumringah. Hingga kalian menyentuh dasar kehampaan. Di mana kalian akan lebur dan menjadi tiada.

Kalian lihat? Di sinilah Sang Satu kembali menunjukkan selera humornya:

dua sisi mata uang yang berbeda,
merasakan mukjizat orgasme yang sama,
bereaksi secara berbeda,
untuk akhirnya tiba di titik yang sama,
dan hancur bersama-sama. 

Tidak ada lagi koin dengan dua sisi yang berbeda. Karena ketika sisi-sisi bersatu dan bersekutu, sebuah koin tak mungkin ada.

Mulai mengerti leluconNya? Setelah penciptaan dan penghancuran, yang ada hanya kelucuan. Dan pada saat itu, semua makhluk, termasuk kalian dan aku, sudah tak bisa tertawa.

Sebagaimana pemenang sejati yang tertawa paling akhir, yang tersisa sekarang hanyalah tawa Sang Satu. Seperti tawaNya ketika dulu memulai segala selain diriNya. Yang gemanya berlangsung sepanjang keabadian. Hingga Dia pun menelan keabadian, berikut tawaNya, yang tak lain hanyalah makhluk seperti kalian dan aku.

Dia pun kembali menjadi Sang Satu, sebagaimana sebelumnya, sebagaimana setelahnya, dan sebagaimana keadaan tanpa sebelum dan setelah.

Hanya sebagai ada.

1 Comment

Filed under My Writing, Other writings

The Magic of Words

Words are magical.

I was reading a letter that I had created for a friend a while ago when that realization just suddenly came to me. I was struck by the fact that there were so many words on the letter that I never imagined I could have written, words that do not seem to register in my head. Also, I had not expected to have certain impression when I re-read it again, but I did.

A single word obviously can speak for itself since in it contains the whole meaning and emotion. Having said that, a word is actually no different than symbol. The strength upon which a symbol imposes strictly depends on the message that life wants to deliver at the present moment. Thus, when we read a word, it may carry the burden similar to what was carried by a bleeding saint dragging a big and heavy cross on his shoulders, but on other circumstances the same word may just be as light as a flying dust from a long unworn pillow.

I used to think that the weight of a word was determined by the writer. But I believe now that I was wrong. Just like when an impression imposed by a word to a reader depends on what life intends to deliver at that moment, the same thing goes to the process of writing the word down.

The fact that a word is chosen and not the other is more the work of the universe than the author. The author is just a writer, not the real composer. The writer may come up with a framework of a story or article, but the process of filling it in depends more on the ability to open up oneself to receive inspiration, which is a manifestation of universal intellect. A writer is merely a transitory point with the single responsibility of jotting down what comes.

In that sense, the universe is an unspoken story that wants to be told. And words are created just for that. And when words are carrying that purpose, they are no longer a collection of alphabets but have transformed into beings. They are alive.

Leave a comment

Filed under Contemplation, My Writing

Kelahiran ‘Eiffel, Tolong!’ – Kent

Untuk yang penasaran saya dapat inspirasi tokoh Kent darimana, ini ceritanya (*love… Kent… love… Kent).

Dari dulu, hobi saya adalah… mengkhayal… Mungkin saking banyaknya membaca buku kisah petualangan Lima Sekawan, Trio Detektif, Tintin, Hardy Boys, Nancy Drew, de el el, jadilah saya merasa hidup saya sangat membosankan (bangun pagi-mandi-sekolah-tidur siang-bikin peer-belajar, nonton tv, tidur malam). Akhirnya saya menciptakan ‘dunia’ saya sendiri, di mana ada orang-orang nekat dan nyeleneh sebagai lawan bicara.

Kebiasaan itu berlangsung mulai dari saya SD, namun ceritanya masih sangat acakadut—setiap kali berbaring dan akhirnya terbawa pikiran sendiri, tokoh yang saya perankan berbeda-beda; kebanyakan saya ‘masuk’ ke dalam buku yang baru saya baca dan hanya jadi tokoh tambahan di cerita-cerita itu. Saat SMP, entah bagaimana, khayalan saya mulai terarah. Saya mulai memikirkan sesuatu yang lebih ‘permanen’, yaitu menjadi anggota keluarga lain yang isinya mata-mata semua (di umur2 SMP ini, saya lebih terobsesi jadi detektif dan mata-mata daripada sekedar petualangan biasa).

Dan suatu hari, keajaiban itu terjadi….. seorang pemuda pirang yang kerennya mau mampus (*excuse my language :p ) muncul di mimpi saya, sedang mengetok pintu pagar. Uuurrgggh… sometimes I wish I never woke up from that dream 🙂
Mimpi itu sangat singkat: hanya seorang pemuda pirang mengetok pintu pagar—super jauh dari romantis. Tidak ada kata-kata, hanya pemuda pirang mengetok pintu pagar (*yes, I’ve said it three times already, but I just feel the need to repeat that boring line). Dan di mimpi itu, saya tahu namanya adalah Kent.

Tahu darimana? Gee, I don’t know… and I don’t care, really
For me, it’s enough to know that his name is Kent. And he is the most beautiful creature I’ve ever seen.

Jadilah semenjak saat itu, saya punya pacar khayalan :p Ya..ya..ya.. sangat kekanak-kanakan dan seperti terkena gangguan jiwa, tapi tetap saja mengkhayal jalan teruuuus….

Begitu ceritanya… singkat, padat, nggak penting… 🙂 but he stays in my mind ever since.

19 Comments

Filed under 'Eiffel Tolong!'

Kelahiran ‘Eiffel, Tolong!’ – Intro

Tidak pernah terpikir sebelumnya kalau suatu hari saya bisa punya sebuah karya yang diterbitkan Mengarang sama sekali tidak pernah menjadi pelajaran favorit saya—bahkan saya cenderung sebal kalau harus mengarang. Dan untuk lebih mempertegas hal itu, dengan ini saya mengaku bahwa nilai mengarang saya tidak pernah lebih dari 7 :p

Karena banyak yang menanyakan ihwal buku Eiffel, Tolong!, akhirnya saya pikir ada bagusnya juga kalau kisah di balik penulisan buku itu dituliskan. Saya bukanlah seorang ‘jagoan’ dalam menulis. Kata-demi-kata tidak mengalir dengan mudah, indah dan puitis seperti pujangga, tapi tersendat-sendat dan kadang bikin frustasi—pada saat-saat seperti itu, saya hanya mengandalkan doa supaya diberi kelancaran, dan pantang menyerah. Dan setelah pada akhirnya dua buku saya diterbitkan, saya hanya bisa mengucap syukur ke hadirat-Nya.

Satu hal yang saya pelajari sepanjang perjalanan menulis ini adalah: anything is possible, tapi semuanya tergantung pada usaha kita dan kehendak yang Maha Kuasa.

Jadi, untuk teman-teman yang ingin menulis, lakukan saja
Kalau sudah berusaha yang terbaik dan naskah sudah jadi, kirimkan saja ke penerbit.

Kalau naskah teman-teman diterima dan diterbitkan, saya ucapkan selamat.

Kalau tidak, saya pun tetap akan mengucapkan selamat; karena bagaimanapun juga, teman-teman sudah berhasil melahirkan sebuah karya lewat usaha yang terbaik. Percayalah selalu bahwa pintu lain akan terbuka, sebagai penulis atau bukan penulis.

Tanpa bermaksud menggurui, selamat menulis untuk teman-teman yang ingin melakukannya …. Dan selamat membaca untuk semua.

5 Comments

Filed under 'Eiffel Tolong!'