Category Archives: My Reading

The Guest House (by Rumi)

For the past two days I have been joining sessions held by Beshara organization in Jakarta. In short, Beshara is an organization that promotes the education of self-knowledge in order to bring spiritual orientation to life. After all, life is a spiritual journey in itself, whether we realize it or not.

During the sessions we discussed the writings from Rumi and Muhyiddin Ibn ‘Arabi. Although I found all thoughts and writings presented in the sessions very interesting, one poem by Rumi had successfully caught my attention more than the others.

The Guest House

This being human is a guest house
Every morning a new arrival
A joy, a depression, a meanness, some momentary awareness comes
as an unexpected visitor.
Welcome and entertain them all!
Even if they’re a crowd of sorrows, who violently sweep your house
empty of its furniture,
still, treat each guest honorably.
He may be clearing you out
for some new delight.
The dark thought, the shame, the malice,
meet them at the door laughing,
and invite them in.
Be grateful for whoever comes,
because each has been sent
as a guide from beyond.

I think the analogy of ‘guest house’ to describe our existence as human being is very very very genius. Yeah, I am very aware that we’re talking about the great sufi master and poet Jalaludin Rumi here, but hey, more praise to the big man won’t hurt, right? 🙂

In this poem, the separation of ‘the-real’ self from ‘the-perception’ of self is so explicitly described, that even my mind that has not been educated enough with the art of poetry can grab the idea with clarity.

The-real-self or the-true-self is stated as the owner of the house, while emotions, be it negative or positive, are described as guests, who will only be temporary visitors in the house. In other words, Rumi tried to say that we need to be in constant alert and ‘watch’ our emotions with full awareness. In fact, it is very interesting how Rumi mentioned that we even need to ‘entertain’ the guests. Frankly speaking, for now I can’t imagine I would be able to consciously open my heart, welcoming sorrows and depressions with such joy and excitement before they are coming…. but hey, who knows I would be able to do that in the next 70 years or so :p

The last three lines are the most powerful of all, at least in my opinion. Rumi was reminding us that things have been arranged by the higher power so that we can gain experiences and be able to learn from them coz every single thing points only one way, which is to God. What we need to do is to become aware of this very fact, then watch and listen carefully to the silence of our heart, so that we would know when ‘these guides’ come and what message God conveys to us through them.

Leave a comment

Filed under Contemplation, Poems

Excerpt from the Introduction of ‘The Secret of Secret’

I found an interesting passage in a book titled ‘The Secret of Secret’.

The Secret of Secrets

Before we discuss the content of the book, I just want to say that this book is one of the example where I couldn’t refrain myself from clicking the magical ‘Add Cart’ button in Amazon. *sigh*

I was sitting nicely reviewing some nice emails from friends, with my credit card safely sit in my wallet, untouched, while suddenly I spotted an email from Amazon, which said, “Hi Clio, you might be interested in these books…” At almost the same time as my eyes digesting what I read, my ears heard something else: a touching cry from my wallet, “Please, use me….” *double sigh*

Well, at this moment, I just count on the old saying that knowledge is a precious stone. And judging from what I read so far, I don’t regret my decision to buy it (although it would be better if a generous n handsome prince donates it to me…..).

Anyway, the interesting passage that I mentioned talks about how human has the responsibility to understand the true purpose behind his/her creation. God has created each human as a unique individual with specific gifts and potentials. Thus, each one of us will be held accountable for that, personally, in front of God.

What I found interesting is to know that the knowledge of ourselves will finally bring the realization of God in our heart.

Here we go……

“It is necessary for each individual to understand the nature and range of his potential gift. Only then can he know his actual relationship with the universe and his Creator and fulfil his trust, the function of viceregency (*khalifah) that he has accepted. And only then can he realize the true meaning and significance of the divine ordinances brought by the Holy Prophet.

Without this understanding, there is a danger that the teachings of religion may remain only an external dress, to be adhered to outwardly but not activated inwardly. When this happens, the practice of religion turns into a rule of customs and conventions and the presence of Allah within the heart is not realized.”

That was just part of the introduction, by the way. I just started reading it, so I guess it will be a loooong read…..

Leave a comment

Filed under Spirituality

Buku/Penulis Favorit

The Alchemist

Di akhir tahun 2008, saya membaca sebuah buku dari Paulo Coelho berjudul The Alchemist, dan sejak itu, baik buku maupun penulisnya ada di posisi teratas dari daftar buku/penulis favorit saya.

Bagi saya, buku ini adalah pembuka mata, hati, dan pikiran, yang mengarahkan saya pada hidup yang bermakna. Buku ini mengajarkan saya tentang pentingnya menghidupkan ‘mimpi’ atau cita-cita dalam relung hati terdalam, dengan kemurnian seorang balita yang melihat dunia dengan mata binar penuh harapan. Seorang anak yang ditanya tentang cita-citanya akan dengan mudah menjawab tanpa pretensi. Jawaban ‘astronot’, ‘polisi’, ‘balerina’, ‘tukang jamu’ (*yes, teman saya ada yang menjawab seperti ini :p ), dikeluarkan tanpa rasa khawatir akan persepsi orang lain, kesulitan dan tantangan yang dihadapi saat mencoba melakoninya, ketakutan dari sisi finansial, atau dari pertimbangan baik-buruk dari sisi akal semata. Perhatikan binar seorang anak kecil saat mengatakannya — yang ada hanya harapan dan kebahagiaan.

Di masa remaja, jawaban itu sudah mulai terdistorsi oleh lingkungan. Harapan orang tua, persepsi lingkungan, tekanan sosial, dan keuntungan/kerugian finansial (yang biasanya juga hasil pemikiran dan pertimbangan orang yang lebih tua), biasanya menjadi faktor dalam mempertimbangkan pilihan masa depan. Bila pertimbangan itu tidak berseberangan dengan keinginan hati, tentu tidak masalah. Tapi seringkali, pertimbangan-pertimbangan itu tidak mengikutsertakan yang bersangkutan — jadilah kita, yang harusnya menjadi subyek aktif, dalam hal ini menjadi obyek penderita.

Bila obyek (baca: kita) sudah menyadari dari dini apa yang diinginkan, kemungkinan pada masa-masa ini akan mengalami konflik klise: “I want A, but my parents prefer I choose B.

Bila obyek (baca: kita) tidak punya kesadaran dini apa yang kita inginkan dalam hidup, kemungkinan hanya akan ada anggukan pasrah: “Oke lah… pilihan itu juga nggak jelek kaaan….”

Apapun kondisinya, pada akhirnya bila jalur yang dipilih (atau dipilihkan) memang ‘sesuai’ dengan jiwa kita, pekerjaan rumah kita sebagai manusia sudah selesai satu 🙂

Masalah akan timbul bila jalur yang dipilih (atau dipilihkan) ternyata diketahui belakangan tidak ‘sesuai’ dengan jiwa kita, dan jiwa kita pun dengan nekad dan nggak tau diri berontak pula :p Dan ini yang diyakini oleh seorang Paulo Coelho, yang dinyatakan baik secara eksplisit atau implisit dalam buku-bukunya (The Alchemist, Veronica Decides to Die, The Pilgrimage, dsb): jiwa kita cepat atau lambat akan memberontak terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan panggilannya, karena panggilan itu sesungguhnya ditorehkan oleh Sang Maha Kuasa di jiwa kita. Ho..ho..ho…. this stuff is getting serious.

Pemberontakan yang diredam oleh diri sendiri dengan alasan ‘terlanjur’, tapi tidak bisa diikhlaskan dengan sungguh-sungguh (yang dimaksud di sini bukan lip service seperti “ya udah deh, gue ikhlas kok…”, tapi lebih kepada keikhlasan hati untuk menerima apa sedang dijalani), akan menghasilkan manusia-manusia yang dipenuhi kepahitan saat menghadapi hidup (yang digambarkan dengan sempurna, menurut saya, dalam buku Veronica Decides to Die). Untuk itu, seseorang perlu melihat kembali ke dalam dirinya untuk menemukan jati dirinya sendiri dalam hati yang terdalam, yang selama ini sudah tertutup, dan menanyakan pertanyaan mendasar, “What is my passion? How can I serve my purpose in this life?” Bidang atau pekerjaan apakah yang bisa dilakoni dengan gairah dan cinta, sehingga hidup setiap harinya menjadi bermakna dengan berkarya di jalanNya?

Pertanyaan ini mungkin tidak mengusik semua orang, tapi dua tahun lalu ini mengusik saya BANGEEEEET 🙂

Secara singkat, pertanyaan berikut mungkin bisa memberi gambaran seperti apa perjalanan hidup saya hingga sampai harus terusik oleh pertanyaan ‘standar’ seperti itu:
– SD: “Ngapain ya harus belajar susah-susah?”
– SMP: “Habis SD ke SMP, trus abis dari sini masih ada SMA, abis itu masih kuliah pula…. Kok sekolah melulu ya…. kapan selesainya?”
– SMA: “Emang apa pentingnya ya tau apa yg dipelajari sekarang sampai sesak nafas begini?”
– Kuliah: “What the hell am I learning??”
– Kerja: “What the hell am I doing? So, I should be doing this for the next 35 years, then get a pension, then die?? What’s the point of having a life—-can I even call it a life?? What does God want from me?!”

Saya sampai menulis email langsung ke Paulo Coelho, menanyakan tentang hal ini. Dan percaya nggak percaya, surat saya dimuat di blog beliau keesokan harinya, dan dijawab langsung. OMG, I was speechless for days!

Jadi, sejak saat itu saya mencari. Saya ingin tahu untuk apa saya ada di dunia. Saya ingin membuktikan ‘tagline’ terkenal di The Alchemist: “When you want something, the universe will conspire to make it happen.” Atau, terjemahan bebasnya: “Bila kamu menginginkan sesuatu, maka alam semesta akan berkonspirasi untuk membuatnya terjadi.” Wow, so powerful, isn’t it?

Tentu saja jalan pencarian itu tidak mudah. Dan akhirnya setelah tersandung kiri-kanan-depan-belakang-atas-bawah (*sampai jungkir balik), saya percaya Tuhan Maha Pemurah. Seperti yang disebut dalam Al-Quran, Tuhan tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan; jadi apapun yang Dia minta kita lakukan, pasti sudah Dia berikan kemampuan itu kepada kita sebagai bekal.

Hmm…. sebenarnya saya cuma mau bilang kalau buku ini adalah favorit saya, mungkin sepanjang masa. Tapi kok jadi panjang begini ya… ? He..he..

Anyway, mudah-mudahan berguna.

5 Comments

Filed under Inspiring Books, My Reading