Category Archives: Clio talks…

Pekan Kondom Nasional? Aih…..

Bila di negara ini ada perhelatan berjudul Pekan Kuliner Nasional (adakah?), bisa dipastikan kepala kita berimajinasi dengan tebaran piring berisi makanan yang menggugah selera. Di tengah-tengah perayaan Pekan Kuliner Nasional, sebuah kata ‘kuliner’ akan menerbangkan kita ke gerobak-gerobak jajanan dan piring-piring berisi kekayaan kuliner tanah air, disusul dengan suapan-suapan nikmat yang memuaskan saraf-saraf perasa dan menggugah selera, hingga air liur menetes. Sluuurrpp….. Mak Nyus.

Sementara, Pekan Kondom Nasional?

Judulnya saja sudah memicu kontroversi. Bayangkan, dari judul itu, seakan selama satu minggu negara ini merayakan banjiran dan lungsuran kondom dalam suka cita. Apa yang diharapkan untuk diimajinasikan kepala dengan judul Pekan Kondom Nasional?  Karet-karet seperti balon, beraneka rupa dan warna? Dengan judul itu, kondom seakan menjadi sebuah perayaan dan perhelatan nasional, di mana penyebutan kata ‘kondom’ diharapkan membawa imajinasi kepada sebuah negara yang berkelimpahan kondom. Negara kaya kondom. Sumber devisa, mungkin?

Aih…..Depkes.

Sayang sekali. Padahal saya bisa mengerti kebutuhan di balik keluarnya inisiatif program ini. Ancaman HIV sangat nyata di tengah-tengah seks bebas. Pembagian kondom tak salah, walaupun diperlukan kampanye tambahan, yaitu anti-seks-bebas. Dan masyarakat pun tak perlu menolak ajakan berkondom. Pekan Kondom Nasional adalah inisiatif murni, sebuah ajakan untuk lebih memperhatikan kesehatan anak-anak negeri, bukan dorongan untuk merusak moral.

Saya setuju, karena moral sudah seperti apa adanya. Di masyarakat yang bernaung di bawah payung agama-agama dan didasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa, yang namanya moral (dalam kaidah agama) tetap saja beragam, sesuai kondisi jiwa.

Ada golongan pertama, yang penolakannya terhadap seks bebas bahkan sudah bukan karena pertimbangan dosa lagi, tapi karena mereka sudah mengerti bagaimana sakralnya sebuah persetubuhan dalam balutan cinta Ilahi. Ada golongan ke dua, yang menolak seks bebas karena ancaman neraka dan/atau ingin menegakkan dan menjalankan aturan agama. Ada golongan ke tiga, yang percaya seratus persen bahwa seks bebas adalah dosa besar menurut kaidah agama, tapi mengintip takut-takut karena penasaran. Ada golongan ke empat, yang dibesarkan dengan kaidah yang sama, tapi sekarang sudah cuek bebek dan melakukannya. Ada golongan ke lima, yang tak peduli lagi dengan kaidah agama atau ajaran dan norma, dan melakukannya sekehendak jiwa sesuai tuntutan nafsu. Ada golongan ke enam, yang menganggap seks adalah mata pencaharian.

Di manakah sasaran Pekan Kondom Nasional ini? Harusnya adalah golongan ke empat, lima, dan enam. Ada atau tidak ada Pekan Kondom Nasional, aktivitas seks bagi mereka yang ada di tiga golongan ini tidak berubah. Awareness tentang kondom penting bukan untuk mendorong aktivitas, tapi untuk mencegah dampak dari aktivitas tersebut, yang bisa menjalar ke banyak hal dan bahkan bisa menyentuh tiga golongan lain.

Jadi, pembagian kondom? Silakan saja, bagi mereka yang membutuhkan, ke mereka-mereka yang dengan atau tanpa kondom akan tetap berhubungan secara bebas.

Saya pribadi percaya, yang dibutuhkan oleh negara ini adalah sesuatu yang bersifat lebih jangka panjang, bukan sesuatu yang reaktif seperti penolakan program Depkes ini.

Negara ini perlu pendidikan tentang moral, di mana topik seks adalah salah satu di dalamnya. Saat ini topik seks sudah mulai dibahas di sekolah-sekolah dalam sebuah program ‘Pendidikan Seks’ yang sayangnya sebagian besar diadopsi dari sekolah-sekolah yang ada di Barat. Kita sepertinya lupa bahwa dunia modern cenderung untuk memisahkan Tuhan dengan kehidupan, sementara negara ini dibangun berlandaskan keTuhanan. Lagi-lagi, judulpun saya permasalahkan. ‘Pendidikan Seks’ punya marwah yang beda dengan ‘Pendidikan Moral: Seks’. Di judul yang pertama, seks seolah menjadi sesuatu yang netral, bila tidak terkesan didorong dan memicu keingintahuan. Sementara di judul ke dua, ada sedikit self-restraint atau pengendalian diri, bahwa seks berhubungan dengan moral. Dan moral, terkait dengan norma berTuhan.

Jadi, kalau Depkes membagikan kondom, bukankah Departemen Agama dan Departemen Pendidikan bisa menyebarluaskan ‘Pendidikan Moral: Seks’ ke seantero negeri?

Oke, mungkin saya berharap terlalu banyak dari negara yang sedang bergelut dengan masalah moral lain, korupsi.

Tak masalah bila negara tak mau mengambil alih urusan moral—saya cukup bersyukur karena negara ini setidaknya sudah mulai mengambil alih urusan kesehatan, walaupun banyak yang masih salah kaprah.

Semua yang masih bermoral bisa memikul tanggung jawab secara pribadi, dimulai dari diri sendiri (saya), kemudian diperluas ke lingkungan sekitar. Pekerjaan rumah saya kelihatannya jadi lebih banyak daripada bapak-bapak dan ibu-ibu berseragam pegawai negeri di Departemen Agama (dan Departemen Pendidikan), tapi tak mengapa.

Saya akan mengajarkan ke anak saya, apa artinya dilahirkan sebagai seorang wanita, dan seorang pria. Juga, apa makna cinta dalam nama Tuhan di Asmaul Husnah, dan kenapa cinta merupakan hal yang mendasar dalam hidup manusia. Selain itu, akan saya terangkan apa hakekat persetubuhan, kaitannya dengan cinta dan nama Tuhan, dan kenapa agama melarang melakukannya dengan semena-mena. Mungkin berikutnya saya akan memperkenalkannya dengan alat-alat kontrasepsi, termasuk kondom, dan memberi pengertian kenapa tak boleh sembarangan mengenakannya. Saya juga akan mengajarkan, apa artinya kehormatan seorang wanita, keteguhan seorang lelaki, dan kenapa keduanya harus menjaga diri masing-masing sebelum diperbolehkan untuk saling menjaga ketika dewasa nanti.

Dan itu semua, adalah pekerjaan rumah yang baru saya sadari ternyata harus saya lakukan sebagai seorang ibu, setelah kontroversi Pekan Kondom Nasional. Luar biasa cara Tuhan bekerja. Terima kasih, Depkes, karena telah membuka mata saya (walaupun saya tetap akan mengusulkan judul lain untuk program ini).

 

Leave a comment

Filed under Clio talks...

Personal Legend / Passion / Misi Hidup

Paulo Coelho menyebutnya dengan Personal Legend.
Rene Suhardono menggunakan kata Passion.
Banyak orang menamakannya Misi Hidup.

Saya memakai ketiga istilah itu bergantian, karena menurut saya ketiga hal tersebut sama-sama membawa kita hingga tiba pada pertanyaan mendasar: apa tujuan kita ada di dunia ini atau apa maknanya menjadi seorang manusia di muka bumi ini.

Saya pernah menjadi orang yang tercenung saat menerima pertanyaan tersebut bertahun-tahun yang lalu. Saat itu, saya punya kehidupan yang bisa dikatakan mapan dengan pekerjaan tetap di perusahaan multinasional. Yang mengganggu saya hanya satu: kenapa rasanya ada yang ‘tidak beres’? Ada ruang kosong di hati saya yang sedemikian gelisah, seolah-olah kehidupan yang saya jalani itu adalah sebuah ilusi.

Saya lalu mencoba bertanya ke diri sendiri, apakah saya sanggup menjalani rutinitas yang sama hari-demi-hari selama berpuluh tahun ke depan hingga mencapai usia pensiun (bangun jam 5 pagi, berangkat ke kantor jam 5.30, tiba di rumah pukul 18.30, main dengan anak hingga jam 21.00, lalu tidur)?

Pertanyaan itu langsung membuat saya bergidik. Dan reaksi itu langsung membawa saya ke pertanyaan inti: kalau begitu, untuk apa saya melakukan semua itu? Kalau saya tidak bisa menemukan makna dalam apa yang saya kerjakan, apakah saya melakukannya demi selembar slip gaji setiap bulan? Berarti, itukah makna hidup saya, selembar slip gaji setiap bulan?

Jangan salah sangka dengan pernyataan saya di atas. Pertanyaan retoris itu bukan dimaksudkan untuk merendahkan atau menghina mereka yang statusnya pekerja dengan mengatakan bahwa makna hidup mereka hanyalah senilai slip gaji per bulan. Tidak ada yang salah dengan sebuah pekerjaan atau profesi. Sebuah profesi hanyalah bentuk ekspresi, dan sebuah ekspresi tergantung dari orang-orang yang berekspresi. Jadi kalau seseorang tidak bisa menemukan makna dalam sebuah profesi, itu disebabkan karena orang tersebut TIDAK BISA memberikan makna atas profesi tersebut. Dan inilah masalah saya: tidak bisa memberikan makna pada pekerjaan rutin yang saya lakukan.

Pertanyaannya, kenapa tidak bisa?

Saya menemukan jawabannya di buku Paulo Coelho berjudul The Alchemist. Menurut Paulo, setiap orang diciptakan ke dunia dengan ‘Personal Legend’ masing-masing. Bila diterjemahkan secara bebas, Personal Legend atau Legenda Pribadi adalah sebuah misi khusus yang harus dijalankan oleh kita di dunia, yang untuk itulah sebenarnya Tuhan mengirim kita. Dalam lubuk hati yang terdalam, seorang manusia tahu apa misi hidupnya ini, namun karena manusia sudah terdistorsi oleh hal-hal eksternal (keinginan orang lain, ekspektasi lingkungan, ego, dsb), keinginan itu terkubur dalam-dalam.

Dalam The Alchemist yang berformat novel tersebut, Paulo menyatakan bahwa walaupun pada awalnya kita belum sadar atau mencoba mengabaikan suara hati yang meneriakkan Legenda Pribadi kita, pada satu titik jiwa kita akan berteriak dan mencoba menggugah kesadaran kita akan keberadaannya. Saat itulah kita akan mengalami pemberontakan jiwa — sebuah perang batin antara teriakan hati dengan kekuatan logika pikiran.

Dan, bila kita memilih untuk mengubur Legenda Pribadi itu, kita akan berubah menjadi manusia-manusia penuh kepahitan hidup, yang tidak bisa menemukan kebahagiaan sejati.

Seorang teman pernah bertanya, bagaimana menentukan apakah kita sudah menemukan Passion itu atau belum? Apakah pekerjaan yang dilakukannya adalah passion-nya atau bukan?

Saya meminta teman tersebut untuk membayangkan dirinya melakukan pekerjaan tersebut bertahun-tahun ke depan… hingga ajal menjemput. Adakah penyesalan? Apakah dia bisa merasakan cinta akan terekspresikan dalam apa yang dia kerjakan itu? Mampukah dia mencurahkan segalanya untuk apa yang dia lakukan, baik emosi, pikiran, perasaan?

Saya percaya bahwa Personal Legend atau Passion atau Misi Hidup tak lain dan tak bukan adalah ekspresi cinta dalam sebuah lakon di muka bumi, yang bisa dilihat baik secara vertikal maupun horisontal.

Dalam tingkatan yang tertinggi, sebuah Misi Hidup bisa membawa kita pada kesadaran akan keberadaan Tuhan bersama kita, karena dalam wujudnya yang paling murni sebuah cinta merupakan manifestasi kehadiran Tuhan lewat sifat pengasih dan penyayang (hubungan vertikal).

Dalam tingkatan di bawahnya, kesadaran itu akan terekspresikan dalam kehidupan lewat pekerjaan, lewat orang-orang yang disayangi, lewat alam, dan dalam setiap aktivitas kita di bumi (hubungan horisontal).

Jadi Personal Legend atau Passion atau Misi Hidup, menurut saya, bisa diartikan secara luas hingga menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia, yang tentunya unik untuk setiap orang. Ada yang di antara kita mempunyai misi hidup membesarkan anak-anak di rumah tangga, ada yang menaungi anak jalanan, ada yang mengobati orang sakit, ada yang menjadi pengusaha, ada yang membangun sistem di sebuah korporasi, dan lain sebagainya. Apapun itu, selama cinta eksis di dalam apa yang kita kerjakan, dan kita sadar bahwa semua adalah manifestasi dari sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang, maka kita sudah ada di jalan menuju kebahagiaan sejati.

No regret.

And will always be grateful for being human, until the last drop of blood or the last breath of life.

2 Comments

Filed under Clio talks..., Contemplation

Obyektivitas dalam Menulis

Judul di atas adalah salah satu pertanyaan yang diajukan ke saya di acara penulisan BEM FEUI. Teman yang bertanya memberikan contoh pengalamannya sendiri saat menulis tentang topik ‘Love’ di satu acara penulisan jurnalistik. Ketika tulisan dievaluasi, teman ini mendapat masukan bahwa tulisannya masih subyektif.

Tulisan ini saya buat karena saya masih ‘tergelitik’ setelah menjawab pertanyaan secara lisan saat acara berlangsung. Aturan umumnya adalah: bila setelah lewat dari dua puluh empat jam sebuah topik sama masih menggelayuti pikiran, itu saatnya untuk berpikir lebih serius dan mengeksplorasi hal-hal yang (sudah pasti) ada yang terlewati oleh pengamatan selama ini. Dan ketika saat masak mi instan barusan pertanyaan itu masih menari-nari di kepala, jadilah si Clio sekarang duduk manis di depan komputer 😀

Sebelum membahas tentang ‘Love’ atau cinta yang sudah dibahas sejak pertama kali manusia ada di bumi dan sampai sekarang belum kelar juga (*so help me, God… :p ), ada satu pertanyaan yang perlu klarifikasi.

Perlukah sikap obyektif dalam menulis?

Karena pengalaman saya adalah menulis fiksi, agak sulit untuk menjawab hal itu. Ketika karakter saya adalah dua tokoh pria yang mencintai satu wanita, pada satu titik saya sudah harus memutuskan apa yang akan terjadi. Dan itu berarti saya sudah memasukkan pertimbangan pribadi yang sudah pasti subyektif.

Sikap obyektif adalah tantangan yang lebih nyata dalam tulisan non-fiksi. Tentu saja tantangan itu bukan hal  yang mutlak dalam semua tulisan non-fiksi, karena semua berpulang kepada tujuan yang ingin dicapai dan pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca. Sebuah laporan tentang korupsi di surat kabar umum, sah-sah saja bila disertai harapan akan tindakan nyata pemberantasannya—sebuah keberpihakan penulis akan anti-korupsi. Tapi bila topik yang sama diletakkan dalam konteks berbeda, misalnya jurnal statistik yang sifatnya murni data, tentulah satu paragraf singkat berupa harapan tersebut jadi out-of-place.

Jadi, lagi-lagi, yang penting adalah konteks dan tujuan penulisannya.

Let’s start exploring!

Bila memang diperlukan sikap obyektif, menurut saya tidak ada yang lebih penting dari memasukkan sudut pandang sebanyak-banyaknya. Dan kita tidak boleh lupa bahwa setiap sudut pandang mungkin masih punya dua sisi mata uang yang berbeda.

Untuk membuat sebuah tulisan tentang ‘Love’ yang obyektif, menurut saya sih hampir nggak mungkin, ha..ha… just kidding 🙂

Dalam tulisan singkat ini, saya hanya akan mencoba mengemukakan sudut pandang penulisan ‘love’ sebatas apa yang ada di persepsi saya.

Pertama, mungkin yang bisa dipertanyakan dan dibahas adalah tentang love atau cinta itu sendiri. Is there such thing as ‘love’, or isn’t there? OMG! Baru mikirin ngebahas topik ini aja udah bikin sakit kepala, he..he… ini adalah sudut pandang optimistik vs pesimistik dari keberadaan cinta itu sendiri.

Kedua, dengan asumsi bahwa love ada (ini aja udah subyektif, lho, walaupun menurut saya sih masih termasuk kategori ‘mild’ 🙂 ), saya mungkin akan tergoda untuk menulis tentang indahnya cinta. But wait a sec! Cinta bisa juga sangat menyakitkan….. bandingkan perasaan orang yang sedang jatuh cinta dengan yang baru putus cinta.

Ketiga, mungkin tulisan bisa ditekankan pada obyek cinta itu sendiri, yang variasinya bukan hanya seputar romansa pria-wanita: ada kisah cinta sejenis, ada jenis cinta dari orang tua ke anak, ada cinta antara seseorang dengan hewan peliharaannya, ada juga cinta ke pekerjaan, ada juga cinta ke Tuhan. Secara ringkas, ada cinta ke obyek makhluk dan ada cinta ke Tuhan. Ini saja sudah dengan pendapat subyektif penulis bahwa Tuhan itu ada 🙂 >> di Indonesia mungkin hal ini tidak ‘mengganggu’, tapi bayangkan kalau kita menulis di negara lain dengan editor seorang atheist ….. we will definitely be scrutinized!

Keempat, bisa juga dibahas tentang ‘kemurnian’ cinta: cinta yang murni vs cinta yang tidak murni. Tapi saya yakin kalau kita mau mengeksplorasi topik ini, kita sulit sekali menghindar dari subyektivitas. Yang melintas di benak saya barusan dengan kata-kata ‘cinta yang murni’ ada dua, yaitu cinta Tuhan dan cinta orang tua. Yang pertama lagi-lagi sudah berdasarkan premis bahwa Tuhan ada. Sementara pendapat yang kedua (cinta orang tua) akan langsung pupus bila tulisan dibaca oleh anak-anak yang ada di penampungan karena kekerasan dan penyiksaan yang dilakukan orang tua.

Saya yakin masih banyak lagi sudut pandang yang dibisa dieksplorasi tentang cinta. Dan eksplorasi semacam ini tentu bisa dilakukan untuk menulis topik apa saja, bahkan dalam fiksi (terutama ketika membangun plot).

Akhir kata, saya nggak tahu tulisan di atas bisa memuaskan teman penanya atau tidak, atau bahkan apakah relevan dengan pertanyaan atau tidak. Yang jelas, setelah menulis hingga kehabisan nafas ini, saya cukup yakin kalau saya akan memilih menulis fiksi selama-lamanya, ha..ha….

Untuk yang ingin menulis non-fiksi, saya ucapkan semoga beruntung dan selamat bekerja keras 😉

Leave a comment

Filed under Clio talks..., Writing Process

Terkejut

Kemarin saya diundang oleh BEM FEUI (Badan Eksekutif Mahasiswa) untuk bicara tentang tulis-menulis. Acara ini merupakan salah satu program pengembangan internal yang dilakukan divisi SDM, yang ingin menginspirasi teman-teman di BEM untuk lebih produktif lagi menulis. Yang ada di bayangan saya ketika mengiyakan undangan adalah: datang setengah jam sebelum acara, dengerin pembukaan dari panitia, ngomong dan sesi tanya jawab, trus pulang. Selain apa yang diberitahu panitia (Garin) bahwa peserta yang sekitar 70 orang pakai dresscode batik, saya tidak punya ekspektasi dan bayangan lain tentang acara dan pesertanya, selain bahwa itu adalah acara yang diselenggarakan mahasiswa untuk mahasiswa.

Ketika datang, panitia memberi selembar kertas berisi rundown acara, dan saya pun dibuat terkejut dengan apa yang saya baca pertama: “Menyanyikan lagu Indonesia Raya.” Oh, boy! Saya cinta sekali dengan negri ini, tapi itu bukan berarti saya pede dengan kemampuan diri sendiri menyanyikan lagu kebangsaan, yang terakhir kali dilantunkan oleh saya adalah saat wisuda belasan tahun yang lalu! Pandangan langsung saya arahkan ke kolom PIC yang akan memimpin acara tersebut, dan saya pun mengembuskan nafas legaaaaaaaa ketika melihat saat itu mikrofon masih dipegang oleh panitia 😀

Setelah bisa tersenyum, baru saya membaca lebih detail, dan kembali dikagetkan ketika melihat di akhir acara ada pemilihan peserta dengan baju terbaik. Mungkin ini hal yang biasa, tapi karena saya nggak punya ekspektasi teman-teman BEM bisa sekreatif ini (he..he.. sorry guyzzz….., nothing personal), saya jadi kaget dong. Dan ini bukan hal terakhir yang bikin saya kaget. Teman-teman BEM juga menerapkan sistem reward-n-punishment yang konstruktif dan menarik bagi para anggotanya, yang merupakan salah satu faktor penentu dalam menghadirkan jumlah peserta yang memadai; kehadiran anggota akan menambah poin bagi divisi di mana mereka berada, dan mereka yang tidak hadir diberi hukuman membuat sebuah puisi, yang nantinya akan diikutkan ke sebuah lomba yang memang akan diadakan dalam waktu dekat….. jadi hukuman ini sama sekali jauh dari kesia-siaan.

Selain terkagum-kagum dengan kreativitas teman-teman BEM FE, bagi saya pribadi, sesi itu sangat menarik karena saya seperti mengingatkan diri sendiri untuk rajin-rajin menulis 🙂 Saat mengucapkan kalimat-kalimat berisi ajakan untuk menulis, atau mengenali komponen-komponen saat menulis, saya merasakan sebuah gejolak dalam jiwa. Dan ketika kalimat berikut meluncur dari mulut saya, “…yang penting dalam menulis adalah disiplin…”, saya merasa ada satu kepribadian di diri saya yang pipinya memerah karena malu, duduk diam dengan kepala menduduk seperti sedang diceramahi dan dilucuti,…. pastinya itu si Clio! Ha..ha… tau rasa!

Di akhir acara, kepala saya sudah tidak sabar untuk membenahi plot, menumpahkan isi kepala, dan menyelesaikan hutang-hutang tulisan yang menumpuk, mulai dari buku, blog, jurnal, hingga memutuskan apa moto utama hidup saya…. >> yang terakhir ini juga terinspirasi oleh pemandu acara yang kreatif, yang meminta peserta yang bertanya untuk memperkenalkan diri dengan nama, tanggal lahir, dan moto hidup….. Walaupun pemandangan teman-teman penanya tergagap menjawab adalah hal yang menghibur, pertanyaan itu ikut memicu saya untuk berpikir tentang apa prioritas terpenting dari sekian banyak nilai-nilai yang saya anut dalam hidup.

Terima kasih kepada teman-temang BEM FEUI, yang mengingatkan saya bahwa mahasiswa (dan semua manusia pada umumnya) bisa sangat kreatif kalau memang mau berusaha untuk itu. Semoga semakin banyak acara-acara kreatif lainnya dari anak muda bangsa ini……Dan semoga, apa yang disampaikan kemarin tidak hanya bermanfaat untuk saya, tapi juga untuk mereka yang mendengarkan.

Anyway, kenapa saya jadi melankolis gini ya? Is it perhaps because I miss my time in campus? Well, kalau ingat berbagai acara nongkrong sama teman-teman sih memang jadi kangen, tapi kalau ingat tugas-tugas dan ujian-ujiannya, “Tidak, terima kasiiiiiiiih….” He..he…

4 Comments

Filed under Clio talks...