Monthly Archives: December 2013

Pekan Kondom Nasional? Aih…..

Bila di negara ini ada perhelatan berjudul Pekan Kuliner Nasional (adakah?), bisa dipastikan kepala kita berimajinasi dengan tebaran piring berisi makanan yang menggugah selera. Di tengah-tengah perayaan Pekan Kuliner Nasional, sebuah kata ‘kuliner’ akan menerbangkan kita ke gerobak-gerobak jajanan dan piring-piring berisi kekayaan kuliner tanah air, disusul dengan suapan-suapan nikmat yang memuaskan saraf-saraf perasa dan menggugah selera, hingga air liur menetes. Sluuurrpp….. Mak Nyus.

Sementara, Pekan Kondom Nasional?

Judulnya saja sudah memicu kontroversi. Bayangkan, dari judul itu, seakan selama satu minggu negara ini merayakan banjiran dan lungsuran kondom dalam suka cita. Apa yang diharapkan untuk diimajinasikan kepala dengan judul Pekan Kondom Nasional?  Karet-karet seperti balon, beraneka rupa dan warna? Dengan judul itu, kondom seakan menjadi sebuah perayaan dan perhelatan nasional, di mana penyebutan kata ‘kondom’ diharapkan membawa imajinasi kepada sebuah negara yang berkelimpahan kondom. Negara kaya kondom. Sumber devisa, mungkin?

Aih…..Depkes.

Sayang sekali. Padahal saya bisa mengerti kebutuhan di balik keluarnya inisiatif program ini. Ancaman HIV sangat nyata di tengah-tengah seks bebas. Pembagian kondom tak salah, walaupun diperlukan kampanye tambahan, yaitu anti-seks-bebas. Dan masyarakat pun tak perlu menolak ajakan berkondom. Pekan Kondom Nasional adalah inisiatif murni, sebuah ajakan untuk lebih memperhatikan kesehatan anak-anak negeri, bukan dorongan untuk merusak moral.

Saya setuju, karena moral sudah seperti apa adanya. Di masyarakat yang bernaung di bawah payung agama-agama dan didasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa, yang namanya moral (dalam kaidah agama) tetap saja beragam, sesuai kondisi jiwa.

Ada golongan pertama, yang penolakannya terhadap seks bebas bahkan sudah bukan karena pertimbangan dosa lagi, tapi karena mereka sudah mengerti bagaimana sakralnya sebuah persetubuhan dalam balutan cinta Ilahi. Ada golongan ke dua, yang menolak seks bebas karena ancaman neraka dan/atau ingin menegakkan dan menjalankan aturan agama. Ada golongan ke tiga, yang percaya seratus persen bahwa seks bebas adalah dosa besar menurut kaidah agama, tapi mengintip takut-takut karena penasaran. Ada golongan ke empat, yang dibesarkan dengan kaidah yang sama, tapi sekarang sudah cuek bebek dan melakukannya. Ada golongan ke lima, yang tak peduli lagi dengan kaidah agama atau ajaran dan norma, dan melakukannya sekehendak jiwa sesuai tuntutan nafsu. Ada golongan ke enam, yang menganggap seks adalah mata pencaharian.

Di manakah sasaran Pekan Kondom Nasional ini? Harusnya adalah golongan ke empat, lima, dan enam. Ada atau tidak ada Pekan Kondom Nasional, aktivitas seks bagi mereka yang ada di tiga golongan ini tidak berubah. Awareness tentang kondom penting bukan untuk mendorong aktivitas, tapi untuk mencegah dampak dari aktivitas tersebut, yang bisa menjalar ke banyak hal dan bahkan bisa menyentuh tiga golongan lain.

Jadi, pembagian kondom? Silakan saja, bagi mereka yang membutuhkan, ke mereka-mereka yang dengan atau tanpa kondom akan tetap berhubungan secara bebas.

Saya pribadi percaya, yang dibutuhkan oleh negara ini adalah sesuatu yang bersifat lebih jangka panjang, bukan sesuatu yang reaktif seperti penolakan program Depkes ini.

Negara ini perlu pendidikan tentang moral, di mana topik seks adalah salah satu di dalamnya. Saat ini topik seks sudah mulai dibahas di sekolah-sekolah dalam sebuah program ‘Pendidikan Seks’ yang sayangnya sebagian besar diadopsi dari sekolah-sekolah yang ada di Barat. Kita sepertinya lupa bahwa dunia modern cenderung untuk memisahkan Tuhan dengan kehidupan, sementara negara ini dibangun berlandaskan keTuhanan. Lagi-lagi, judulpun saya permasalahkan. ‘Pendidikan Seks’ punya marwah yang beda dengan ‘Pendidikan Moral: Seks’. Di judul yang pertama, seks seolah menjadi sesuatu yang netral, bila tidak terkesan didorong dan memicu keingintahuan. Sementara di judul ke dua, ada sedikit self-restraint atau pengendalian diri, bahwa seks berhubungan dengan moral. Dan moral, terkait dengan norma berTuhan.

Jadi, kalau Depkes membagikan kondom, bukankah Departemen Agama dan Departemen Pendidikan bisa menyebarluaskan ‘Pendidikan Moral: Seks’ ke seantero negeri?

Oke, mungkin saya berharap terlalu banyak dari negara yang sedang bergelut dengan masalah moral lain, korupsi.

Tak masalah bila negara tak mau mengambil alih urusan moral—saya cukup bersyukur karena negara ini setidaknya sudah mulai mengambil alih urusan kesehatan, walaupun banyak yang masih salah kaprah.

Semua yang masih bermoral bisa memikul tanggung jawab secara pribadi, dimulai dari diri sendiri (saya), kemudian diperluas ke lingkungan sekitar. Pekerjaan rumah saya kelihatannya jadi lebih banyak daripada bapak-bapak dan ibu-ibu berseragam pegawai negeri di Departemen Agama (dan Departemen Pendidikan), tapi tak mengapa.

Saya akan mengajarkan ke anak saya, apa artinya dilahirkan sebagai seorang wanita, dan seorang pria. Juga, apa makna cinta dalam nama Tuhan di Asmaul Husnah, dan kenapa cinta merupakan hal yang mendasar dalam hidup manusia. Selain itu, akan saya terangkan apa hakekat persetubuhan, kaitannya dengan cinta dan nama Tuhan, dan kenapa agama melarang melakukannya dengan semena-mena. Mungkin berikutnya saya akan memperkenalkannya dengan alat-alat kontrasepsi, termasuk kondom, dan memberi pengertian kenapa tak boleh sembarangan mengenakannya. Saya juga akan mengajarkan, apa artinya kehormatan seorang wanita, keteguhan seorang lelaki, dan kenapa keduanya harus menjaga diri masing-masing sebelum diperbolehkan untuk saling menjaga ketika dewasa nanti.

Dan itu semua, adalah pekerjaan rumah yang baru saya sadari ternyata harus saya lakukan sebagai seorang ibu, setelah kontroversi Pekan Kondom Nasional. Luar biasa cara Tuhan bekerja. Terima kasih, Depkes, karena telah membuka mata saya (walaupun saya tetap akan mengusulkan judul lain untuk program ini).

 

Leave a comment

Filed under Clio talks...