Monthly Archives: June 2011

Traveling

Saya hampir selalu punya masalah dengan traveling. Keinginan traveling itu biasanya datang secara tiba-tiba, di siang hari bolong atau di malam hari bengong, dan bisa dicetuskan oleh apa saja.

Pencetus yang cukup sering adalah mendengar informasi tentang teman yang traveling ke suatu tempat (ini sebenarnya ngiri.com tapi saya nggak mau ngaku). Tidak semua tempat bisa memicu keinginan traveling saya, dan ketika keinginan itu terpicu pun, tempat yang dipilih tidak berarti sama dengan tempat yang dikunjungi teman tersebut. Sampai detik ini, mendengar kata “Bali” akan membuat saya kelimpungan, walaupun pada akhirnya belum tentu saya pergi ke Bali (bahkan, belum tentu juga akhirnya pergi).

Pencetus lain adalah foto-foto indah seputar tempat pariwisata. Di toko buku, rak bagian traveling adalah musuh besar saya, terlebih bila dipenuhi panduan keluaran DK, Lonely Planet, Frommers, atau buku impor lainnya. Sampul depan buku-buku itu hampir selalu membuat saya ingin menggaruk kepala, dan akhirnya jadi menggaruk aspal begitu ingat biaya yang harus dikeluarkan. Dan ujung-ujungnya, bila saya memutuskan pergi, biasanya pilihan akan jatuh ke ….. Bali.

Masih banyak lagi pencetus traveling bagi saya: melihat baju renang yang dipajang di konter toko (yang sudah pasti akan mengingatkan saya pada Bali), mendengar tukang sayur bicara dengan logat jawa yang kental (beli tiket ke Yogya), melihat desain rumah yang mengambil tema khusus seperti mediterania atau Bali, memandang wajah orang yang identik dengan tempat tertentu, melihat logo penerbangan, beres-beres lemari dan menemukan paspor, melihat tulisan ‘Bandara Soekarno-Hatta’ di papan penunjuk jalan, atau bahkan melihat isi dompet. Anehnya, untuk yang terakhir ini, jumlah yang ada di dompet malah tidak berbanding lurus dengan keinginan; semakin sedikit isi dompet, keinginan untuk traveling biasanya malah lebih kencang, dan tempatnya jadi semakin jauh.

Bila keinginan traveling sudah muncul, biasanya yang terjadi adalah sebuah sikap membabi-buta seperti seorang teroris yang penuh kemarahan dan harus menemukan pelampiasan. Dimulailah berjam-jam waktu di depan komputer untuk mengebrowse tiket, yang jeleknya lagi, belum tentu dimulai dari tempat yang ingin dikunjungi. Rasa penasaran saya seringkali tak berdasar, seperti, “Mau cari tiket ke Yogya, tapi penasaran berapa sih sekarang harga tiket ke Eropa atau Amerika Selatan? Dengan tiket langsung? Dengan transit? Dengan airline A, B, atau C?……..” Pffff, bisa dibayangkan berapa lama waktu yang dihabiskan hanya untuk akhirnya membeli tiket Airasia ke Yogya!

Setelah tiket di tangan, kegairahan membabi-buta itu mendadak raib. Dicari kemana pun nggak bakal ketemu. Dan semakin mendekati hari H, timbullah penyesalan demi penyesalan, dimulai dari gerutuan karena merasa lebih enak tidur-tiduran daripada traveling, hingga masalah klasik keuangan yang pasti bakal semakin menipis.

Gerutuan ini berlanjut biasanya hingga H-1. Saat itu saya dengan panik akan mulai berkemas-kemas, merapikan barang yang ingin dibawa, sambil tetap menggerutu, tentunya.

Dan ketika akhirnya saya duduk manis di kursi pesawat menunggu pesawat lepas landas, semua penyesalan dan gerutuan mendadak raib tanpa pamit, seperti kedatangannya yang tidak diundang.

Berikut tips perjalanan untuk para pembaca, dengan target utama si Clio yang malasnya minta ampun…. Yes, YOU, Clio!”

  1. Dengan adanya penerbangan murah, tiket bisa dibeli jauuuuuh sebelum keberangkatan dengan harga lebih murah. Usul saya, sambar saja dulu, terlepas ketidaktahuan kita bahwa di tanggal yang masih berbulan-bulan ke depan itu kita bisa berangkat atau tidak. Bila akhirnya tiket hangus, kerugiannya tidak sebesar bila kita membeli tiket dengan harga tinggi.
  2. Bila membeli tiket ke luar negeri di saat-saat terakhir sebelum kepergian dan negara yang bersangkutan membutuhkan visa, jangan lupa bahwa pengurusan visa bisa bervariasi, tergantung musimnya. Dan kadang yang disebut ‘musim’ adalah persepsi di negara itu, bukan persepsi kita. So, beware and be prepared.
  3. Siapkan daftar bawaan secara umum, walaupun belum ada rencana perjalanan. Barang yang dibawa dalam perjalanan ke manapun sebenarnya selalu sama; variasinya hanya di jumlah. DAN, yang biasanya ketinggalan saat bepergian adalah barang-barang kecil yang ‘harus’ dibawa. Kata ‘harus’ di sini tentunya relatif, bisa berbeda-beda untuk setiap orang. Untuk saya, contohnya adalah gunting kuku, gunting kecil, charger hp, cotton buds, dan obat alergi. Seorang teman selalu memasukkan lakban ke dalam daftarnya.
    Catatan: perbedaan daftar bawaan baru berbeda secara signifikan bila mengunjungi negara dengan musim yang kontras, jadi sebaiknya buat dua daftar: satu untuk perjalanan musim dingin, satu untuk perjalanan musim panas. Ini berlaku juga untuk daftar obat.
  4. Selain daftar barang bawaan, buat juga daftar dokumen yang perlu dibawa. Paspor dan tiket adalah dua hal yang wajib bila bepergian ke luar negeri. Walaupun tampaknya tidak mungkin tertinggal, tapi bukannya nggak ada lho kasus ketinggalan dua barang ini dan baru tersadar saat di airport 🙂 Untuk kelengkapan daftar, usul saya sih tulis semua dokumen yang diperlukan untuk perjalanan ke luar negeri. Bila nanti perginya ke tujuan di dalam negeri, kan yang lain tinggal dicoret. Contoh daftar dokumen: tiket, paspor, fotokopi tiket, fotokopi paspor, NPWP dan fotokopinya, kartu identitas beserta fotokopinya, fotokopi akte anak, fotokopi kartu keluarga, formulir pemesanan hotel, itinerary atau rencana perjalanan, dsb.
  5. Jangan lupa tinggalkan pesan di rumah tentang rincian perjalanan kita. Dengan kemajuan komunikasi seperti telepon genggam dan internet, komunikasi harusnya tetap lancar. Masalah muncul bila tujuan kita adalah area yang sulit dijangkau, misalnya bepergian ke negara-negara yang sedang konflik, atau ke pedalaman. Pastikan seseorang tahu persis seperti apa jadwal kita, terutama kapan harusnya kita bisa dihubungi kembali, sehingga bila ada hal-hal tak diinginkan bisa segera ditanggapi dengan tepat.
  6. Untuk yang mereka yang terstruktur, sebaiknya informasi tempat-tempat yang ingin dikunjungi selama perjalanan dikumpulkan sebelum berangkat. Untuk yang tidak terstruktur, just sit back, relax, and pray for the best. Kedua tipe ini di atas kertas akan sangat ideal bila bepergian bersama-sama, tapi dalam kenyataannya bisa jadi akan berkelahi sepanjang jalan.
  7. Cek koper dan kuncinya beberapa hari sebelum keberangkatan, dan mulailah mengira-ngira kebutuhan volume berdasarkan daftar bawaan. Ini adalah salah satu keuntungan bila kita mempunyai list barang bawaan. Kadang, hanya dengan mengira-ngira saja, kita merasa cukup dengan koper ukuran sedang, tapi ternyata dengan banyaknya jumlah barang tetek-bengek yang perlu dibawa, ternyata kita sebenarnya perlu koper yang lebih besar. Lakukan proses ini minimal beberapa hari sebelum keberangkatan, supaya masih ada waktu kalau perlu beli koper baru atau kunci baru.
  8. Jangan sampai salah busana saat berangkat. Idealnya, busana yang dipakai saat berangkat harus sesuai juga dengan busana saat tiba di tujuan. Tentu mudah dibayangkan bila kita berangkat dari Jakarta yang panasnya minta maap, menuju Bali yang panasnya minta ampun. Tapi bagaimana dengan berangkat dari Bali yang panasnya minta ampun, ke Hongkong yang ternyata lagi badai dan dinginnya super ancur? Cek laporan cuaca dan siapkan baju ganti di tas jinjing yang dibawa ke kabin, kalau perlu.
  9. Berangkat ke airport. Aktivitas sederhana ini adalah penentu perjalanan. Mulai dari berangkat pada waktu yang tepat dengan mempertimbangkan kondisi lalu lintas, posisi dokumen-dokumen perjalanan, uang tunai untuk pembayaran-pembayaran di airport dan selama perjalanan, kunci koper (kalau masih pakai yang manual), tas jinjing, baju yang mau dipakai (masih kusut hingga perlu setrika lagi),  hingga minum obat sakit perut (kalau lagi sakit perut).
  10. Dengan asumsi sampai di airport dan berhasil check-in dengan selamat, perhatikan waktu boarding atau naik pesawat. Ini terutama sangat penting bila berada di airport canggih dengan deretan toko seperti pusat perbelanjaan. Dan kalau mengecek waktu, jangan kelewat pede menggunakan arloji pribadi, terlepas seberapa mahal arloji itu. Gunakan jam yang terpampang di airport, baru crosscheck ke arloji di tangan. Siapa tahu arloji sudah rusak dan masih sempat beli arloji baru di airport.
Kalau ada yang punya tips tambahan, silakan tulis di komen.

Bon voyage.

 

 

Leave a comment

Filed under Travel

Personal Legend / Passion / Misi Hidup

Paulo Coelho menyebutnya dengan Personal Legend.
Rene Suhardono menggunakan kata Passion.
Banyak orang menamakannya Misi Hidup.

Saya memakai ketiga istilah itu bergantian, karena menurut saya ketiga hal tersebut sama-sama membawa kita hingga tiba pada pertanyaan mendasar: apa tujuan kita ada di dunia ini atau apa maknanya menjadi seorang manusia di muka bumi ini.

Saya pernah menjadi orang yang tercenung saat menerima pertanyaan tersebut bertahun-tahun yang lalu. Saat itu, saya punya kehidupan yang bisa dikatakan mapan dengan pekerjaan tetap di perusahaan multinasional. Yang mengganggu saya hanya satu: kenapa rasanya ada yang ‘tidak beres’? Ada ruang kosong di hati saya yang sedemikian gelisah, seolah-olah kehidupan yang saya jalani itu adalah sebuah ilusi.

Saya lalu mencoba bertanya ke diri sendiri, apakah saya sanggup menjalani rutinitas yang sama hari-demi-hari selama berpuluh tahun ke depan hingga mencapai usia pensiun (bangun jam 5 pagi, berangkat ke kantor jam 5.30, tiba di rumah pukul 18.30, main dengan anak hingga jam 21.00, lalu tidur)?

Pertanyaan itu langsung membuat saya bergidik. Dan reaksi itu langsung membawa saya ke pertanyaan inti: kalau begitu, untuk apa saya melakukan semua itu? Kalau saya tidak bisa menemukan makna dalam apa yang saya kerjakan, apakah saya melakukannya demi selembar slip gaji setiap bulan? Berarti, itukah makna hidup saya, selembar slip gaji setiap bulan?

Jangan salah sangka dengan pernyataan saya di atas. Pertanyaan retoris itu bukan dimaksudkan untuk merendahkan atau menghina mereka yang statusnya pekerja dengan mengatakan bahwa makna hidup mereka hanyalah senilai slip gaji per bulan. Tidak ada yang salah dengan sebuah pekerjaan atau profesi. Sebuah profesi hanyalah bentuk ekspresi, dan sebuah ekspresi tergantung dari orang-orang yang berekspresi. Jadi kalau seseorang tidak bisa menemukan makna dalam sebuah profesi, itu disebabkan karena orang tersebut TIDAK BISA memberikan makna atas profesi tersebut. Dan inilah masalah saya: tidak bisa memberikan makna pada pekerjaan rutin yang saya lakukan.

Pertanyaannya, kenapa tidak bisa?

Saya menemukan jawabannya di buku Paulo Coelho berjudul The Alchemist. Menurut Paulo, setiap orang diciptakan ke dunia dengan ‘Personal Legend’ masing-masing. Bila diterjemahkan secara bebas, Personal Legend atau Legenda Pribadi adalah sebuah misi khusus yang harus dijalankan oleh kita di dunia, yang untuk itulah sebenarnya Tuhan mengirim kita. Dalam lubuk hati yang terdalam, seorang manusia tahu apa misi hidupnya ini, namun karena manusia sudah terdistorsi oleh hal-hal eksternal (keinginan orang lain, ekspektasi lingkungan, ego, dsb), keinginan itu terkubur dalam-dalam.

Dalam The Alchemist yang berformat novel tersebut, Paulo menyatakan bahwa walaupun pada awalnya kita belum sadar atau mencoba mengabaikan suara hati yang meneriakkan Legenda Pribadi kita, pada satu titik jiwa kita akan berteriak dan mencoba menggugah kesadaran kita akan keberadaannya. Saat itulah kita akan mengalami pemberontakan jiwa — sebuah perang batin antara teriakan hati dengan kekuatan logika pikiran.

Dan, bila kita memilih untuk mengubur Legenda Pribadi itu, kita akan berubah menjadi manusia-manusia penuh kepahitan hidup, yang tidak bisa menemukan kebahagiaan sejati.

Seorang teman pernah bertanya, bagaimana menentukan apakah kita sudah menemukan Passion itu atau belum? Apakah pekerjaan yang dilakukannya adalah passion-nya atau bukan?

Saya meminta teman tersebut untuk membayangkan dirinya melakukan pekerjaan tersebut bertahun-tahun ke depan… hingga ajal menjemput. Adakah penyesalan? Apakah dia bisa merasakan cinta akan terekspresikan dalam apa yang dia kerjakan itu? Mampukah dia mencurahkan segalanya untuk apa yang dia lakukan, baik emosi, pikiran, perasaan?

Saya percaya bahwa Personal Legend atau Passion atau Misi Hidup tak lain dan tak bukan adalah ekspresi cinta dalam sebuah lakon di muka bumi, yang bisa dilihat baik secara vertikal maupun horisontal.

Dalam tingkatan yang tertinggi, sebuah Misi Hidup bisa membawa kita pada kesadaran akan keberadaan Tuhan bersama kita, karena dalam wujudnya yang paling murni sebuah cinta merupakan manifestasi kehadiran Tuhan lewat sifat pengasih dan penyayang (hubungan vertikal).

Dalam tingkatan di bawahnya, kesadaran itu akan terekspresikan dalam kehidupan lewat pekerjaan, lewat orang-orang yang disayangi, lewat alam, dan dalam setiap aktivitas kita di bumi (hubungan horisontal).

Jadi Personal Legend atau Passion atau Misi Hidup, menurut saya, bisa diartikan secara luas hingga menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia, yang tentunya unik untuk setiap orang. Ada yang di antara kita mempunyai misi hidup membesarkan anak-anak di rumah tangga, ada yang menaungi anak jalanan, ada yang mengobati orang sakit, ada yang menjadi pengusaha, ada yang membangun sistem di sebuah korporasi, dan lain sebagainya. Apapun itu, selama cinta eksis di dalam apa yang kita kerjakan, dan kita sadar bahwa semua adalah manifestasi dari sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang, maka kita sudah ada di jalan menuju kebahagiaan sejati.

No regret.

And will always be grateful for being human, until the last drop of blood or the last breath of life.

2 Comments

Filed under Clio talks..., Contemplation

Hening

“Dalam hening ada damai

Damai ingin diraih hati
Namun pikiran enggan berdamai dengan hening

Karena hening menyiratkan sendiri
Dan sendiri identik dengan sepi

Padahal DIA hadir dalam hening
Jadi sepi hanya ilusi

Dan manusia senantiasa tak sendiri”

Saya tidak tahu tulisan di atas masuk ke kategori apa. Sebuah lintasan pikiran dalam sepersekian detik, ketika mendadak ada sebuah keheningan menyergap di antara bunyi mikrolet, bajaj, dan teriakan orang lalu lalang di jalan samping rumah. Jaman dahulu kala saat masih kecil (jadul abis), saya diberitahu bahwa awkward silence seperti itu adalah pertanda ada makhluk gaib yang lewat 😮 Tapi sekarang, setelah kebanyakan nonton berbagai tayangan film horor, termasuk The Sixth Sense dan The Ring (*hiiiiiii…atuuuuut), dan sudah yakin bahwa dimensi gaib selalu ada bersama kita (hanya kitanya yang tidak ‘sadar’), postulat tersebut jadi tidak berlaku.

Karena sudah tidak punya postulat yang bikin saya celingak-celinguk saat terjadi keheningan aneh seperti itu, saya menganggap momen itu sebagai penanda untuk menarik nafas panjaaaaaaang….. lalu membuangnya perlahan sambil menikmati ketenangan sesaat.

Dan, tetap saja saya masih belum tahu tulisan tersebut masuk kategori apa. Tapi, setelah dipikir-pikir…..apa pentingnya untuk tahu kategorinya apa? Well, just a thought.

Leave a comment

Filed under Contemplation

Obyektivitas dalam Menulis

Judul di atas adalah salah satu pertanyaan yang diajukan ke saya di acara penulisan BEM FEUI. Teman yang bertanya memberikan contoh pengalamannya sendiri saat menulis tentang topik ‘Love’ di satu acara penulisan jurnalistik. Ketika tulisan dievaluasi, teman ini mendapat masukan bahwa tulisannya masih subyektif.

Tulisan ini saya buat karena saya masih ‘tergelitik’ setelah menjawab pertanyaan secara lisan saat acara berlangsung. Aturan umumnya adalah: bila setelah lewat dari dua puluh empat jam sebuah topik sama masih menggelayuti pikiran, itu saatnya untuk berpikir lebih serius dan mengeksplorasi hal-hal yang (sudah pasti) ada yang terlewati oleh pengamatan selama ini. Dan ketika saat masak mi instan barusan pertanyaan itu masih menari-nari di kepala, jadilah si Clio sekarang duduk manis di depan komputer 😀

Sebelum membahas tentang ‘Love’ atau cinta yang sudah dibahas sejak pertama kali manusia ada di bumi dan sampai sekarang belum kelar juga (*so help me, God… :p ), ada satu pertanyaan yang perlu klarifikasi.

Perlukah sikap obyektif dalam menulis?

Karena pengalaman saya adalah menulis fiksi, agak sulit untuk menjawab hal itu. Ketika karakter saya adalah dua tokoh pria yang mencintai satu wanita, pada satu titik saya sudah harus memutuskan apa yang akan terjadi. Dan itu berarti saya sudah memasukkan pertimbangan pribadi yang sudah pasti subyektif.

Sikap obyektif adalah tantangan yang lebih nyata dalam tulisan non-fiksi. Tentu saja tantangan itu bukan hal  yang mutlak dalam semua tulisan non-fiksi, karena semua berpulang kepada tujuan yang ingin dicapai dan pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca. Sebuah laporan tentang korupsi di surat kabar umum, sah-sah saja bila disertai harapan akan tindakan nyata pemberantasannya—sebuah keberpihakan penulis akan anti-korupsi. Tapi bila topik yang sama diletakkan dalam konteks berbeda, misalnya jurnal statistik yang sifatnya murni data, tentulah satu paragraf singkat berupa harapan tersebut jadi out-of-place.

Jadi, lagi-lagi, yang penting adalah konteks dan tujuan penulisannya.

Let’s start exploring!

Bila memang diperlukan sikap obyektif, menurut saya tidak ada yang lebih penting dari memasukkan sudut pandang sebanyak-banyaknya. Dan kita tidak boleh lupa bahwa setiap sudut pandang mungkin masih punya dua sisi mata uang yang berbeda.

Untuk membuat sebuah tulisan tentang ‘Love’ yang obyektif, menurut saya sih hampir nggak mungkin, ha..ha… just kidding 🙂

Dalam tulisan singkat ini, saya hanya akan mencoba mengemukakan sudut pandang penulisan ‘love’ sebatas apa yang ada di persepsi saya.

Pertama, mungkin yang bisa dipertanyakan dan dibahas adalah tentang love atau cinta itu sendiri. Is there such thing as ‘love’, or isn’t there? OMG! Baru mikirin ngebahas topik ini aja udah bikin sakit kepala, he..he… ini adalah sudut pandang optimistik vs pesimistik dari keberadaan cinta itu sendiri.

Kedua, dengan asumsi bahwa love ada (ini aja udah subyektif, lho, walaupun menurut saya sih masih termasuk kategori ‘mild’ 🙂 ), saya mungkin akan tergoda untuk menulis tentang indahnya cinta. But wait a sec! Cinta bisa juga sangat menyakitkan….. bandingkan perasaan orang yang sedang jatuh cinta dengan yang baru putus cinta.

Ketiga, mungkin tulisan bisa ditekankan pada obyek cinta itu sendiri, yang variasinya bukan hanya seputar romansa pria-wanita: ada kisah cinta sejenis, ada jenis cinta dari orang tua ke anak, ada cinta antara seseorang dengan hewan peliharaannya, ada juga cinta ke pekerjaan, ada juga cinta ke Tuhan. Secara ringkas, ada cinta ke obyek makhluk dan ada cinta ke Tuhan. Ini saja sudah dengan pendapat subyektif penulis bahwa Tuhan itu ada 🙂 >> di Indonesia mungkin hal ini tidak ‘mengganggu’, tapi bayangkan kalau kita menulis di negara lain dengan editor seorang atheist ….. we will definitely be scrutinized!

Keempat, bisa juga dibahas tentang ‘kemurnian’ cinta: cinta yang murni vs cinta yang tidak murni. Tapi saya yakin kalau kita mau mengeksplorasi topik ini, kita sulit sekali menghindar dari subyektivitas. Yang melintas di benak saya barusan dengan kata-kata ‘cinta yang murni’ ada dua, yaitu cinta Tuhan dan cinta orang tua. Yang pertama lagi-lagi sudah berdasarkan premis bahwa Tuhan ada. Sementara pendapat yang kedua (cinta orang tua) akan langsung pupus bila tulisan dibaca oleh anak-anak yang ada di penampungan karena kekerasan dan penyiksaan yang dilakukan orang tua.

Saya yakin masih banyak lagi sudut pandang yang dibisa dieksplorasi tentang cinta. Dan eksplorasi semacam ini tentu bisa dilakukan untuk menulis topik apa saja, bahkan dalam fiksi (terutama ketika membangun plot).

Akhir kata, saya nggak tahu tulisan di atas bisa memuaskan teman penanya atau tidak, atau bahkan apakah relevan dengan pertanyaan atau tidak. Yang jelas, setelah menulis hingga kehabisan nafas ini, saya cukup yakin kalau saya akan memilih menulis fiksi selama-lamanya, ha..ha….

Untuk yang ingin menulis non-fiksi, saya ucapkan semoga beruntung dan selamat bekerja keras 😉

Leave a comment

Filed under Clio talks..., Writing Process

Terkejut

Kemarin saya diundang oleh BEM FEUI (Badan Eksekutif Mahasiswa) untuk bicara tentang tulis-menulis. Acara ini merupakan salah satu program pengembangan internal yang dilakukan divisi SDM, yang ingin menginspirasi teman-teman di BEM untuk lebih produktif lagi menulis. Yang ada di bayangan saya ketika mengiyakan undangan adalah: datang setengah jam sebelum acara, dengerin pembukaan dari panitia, ngomong dan sesi tanya jawab, trus pulang. Selain apa yang diberitahu panitia (Garin) bahwa peserta yang sekitar 70 orang pakai dresscode batik, saya tidak punya ekspektasi dan bayangan lain tentang acara dan pesertanya, selain bahwa itu adalah acara yang diselenggarakan mahasiswa untuk mahasiswa.

Ketika datang, panitia memberi selembar kertas berisi rundown acara, dan saya pun dibuat terkejut dengan apa yang saya baca pertama: “Menyanyikan lagu Indonesia Raya.” Oh, boy! Saya cinta sekali dengan negri ini, tapi itu bukan berarti saya pede dengan kemampuan diri sendiri menyanyikan lagu kebangsaan, yang terakhir kali dilantunkan oleh saya adalah saat wisuda belasan tahun yang lalu! Pandangan langsung saya arahkan ke kolom PIC yang akan memimpin acara tersebut, dan saya pun mengembuskan nafas legaaaaaaaa ketika melihat saat itu mikrofon masih dipegang oleh panitia 😀

Setelah bisa tersenyum, baru saya membaca lebih detail, dan kembali dikagetkan ketika melihat di akhir acara ada pemilihan peserta dengan baju terbaik. Mungkin ini hal yang biasa, tapi karena saya nggak punya ekspektasi teman-teman BEM bisa sekreatif ini (he..he.. sorry guyzzz….., nothing personal), saya jadi kaget dong. Dan ini bukan hal terakhir yang bikin saya kaget. Teman-teman BEM juga menerapkan sistem reward-n-punishment yang konstruktif dan menarik bagi para anggotanya, yang merupakan salah satu faktor penentu dalam menghadirkan jumlah peserta yang memadai; kehadiran anggota akan menambah poin bagi divisi di mana mereka berada, dan mereka yang tidak hadir diberi hukuman membuat sebuah puisi, yang nantinya akan diikutkan ke sebuah lomba yang memang akan diadakan dalam waktu dekat….. jadi hukuman ini sama sekali jauh dari kesia-siaan.

Selain terkagum-kagum dengan kreativitas teman-teman BEM FE, bagi saya pribadi, sesi itu sangat menarik karena saya seperti mengingatkan diri sendiri untuk rajin-rajin menulis 🙂 Saat mengucapkan kalimat-kalimat berisi ajakan untuk menulis, atau mengenali komponen-komponen saat menulis, saya merasakan sebuah gejolak dalam jiwa. Dan ketika kalimat berikut meluncur dari mulut saya, “…yang penting dalam menulis adalah disiplin…”, saya merasa ada satu kepribadian di diri saya yang pipinya memerah karena malu, duduk diam dengan kepala menduduk seperti sedang diceramahi dan dilucuti,…. pastinya itu si Clio! Ha..ha… tau rasa!

Di akhir acara, kepala saya sudah tidak sabar untuk membenahi plot, menumpahkan isi kepala, dan menyelesaikan hutang-hutang tulisan yang menumpuk, mulai dari buku, blog, jurnal, hingga memutuskan apa moto utama hidup saya…. >> yang terakhir ini juga terinspirasi oleh pemandu acara yang kreatif, yang meminta peserta yang bertanya untuk memperkenalkan diri dengan nama, tanggal lahir, dan moto hidup….. Walaupun pemandangan teman-teman penanya tergagap menjawab adalah hal yang menghibur, pertanyaan itu ikut memicu saya untuk berpikir tentang apa prioritas terpenting dari sekian banyak nilai-nilai yang saya anut dalam hidup.

Terima kasih kepada teman-temang BEM FEUI, yang mengingatkan saya bahwa mahasiswa (dan semua manusia pada umumnya) bisa sangat kreatif kalau memang mau berusaha untuk itu. Semoga semakin banyak acara-acara kreatif lainnya dari anak muda bangsa ini……Dan semoga, apa yang disampaikan kemarin tidak hanya bermanfaat untuk saya, tapi juga untuk mereka yang mendengarkan.

Anyway, kenapa saya jadi melankolis gini ya? Is it perhaps because I miss my time in campus? Well, kalau ingat berbagai acara nongkrong sama teman-teman sih memang jadi kangen, tapi kalau ingat tugas-tugas dan ujian-ujiannya, “Tidak, terima kasiiiiiiiih….” He..he…

4 Comments

Filed under Clio talks...