Monthly Archives: May 2011

The Guest House (by Rumi)

For the past two days I have been joining sessions held by Beshara organization in Jakarta. In short, Beshara is an organization that promotes the education of self-knowledge in order to bring spiritual orientation to life. After all, life is a spiritual journey in itself, whether we realize it or not.

During the sessions we discussed the writings from Rumi and Muhyiddin Ibn ‘Arabi. Although I found all thoughts and writings presented in the sessions very interesting, one poem by Rumi had successfully caught my attention more than the others.

The Guest House

This being human is a guest house
Every morning a new arrival
A joy, a depression, a meanness, some momentary awareness comes
as an unexpected visitor.
Welcome and entertain them all!
Even if they’re a crowd of sorrows, who violently sweep your house
empty of its furniture,
still, treat each guest honorably.
He may be clearing you out
for some new delight.
The dark thought, the shame, the malice,
meet them at the door laughing,
and invite them in.
Be grateful for whoever comes,
because each has been sent
as a guide from beyond.

I think the analogy of ‘guest house’ to describe our existence as human being is very very very genius. Yeah, I am very aware that we’re talking about the great sufi master and poet Jalaludin Rumi here, but hey, more praise to the big man won’t hurt, right? 🙂

In this poem, the separation of ‘the-real’ self from ‘the-perception’ of self is so explicitly described, that even my mind that has not been educated enough with the art of poetry can grab the idea with clarity.

The-real-self or the-true-self is stated as the owner of the house, while emotions, be it negative or positive, are described as guests, who will only be temporary visitors in the house. In other words, Rumi tried to say that we need to be in constant alert and ‘watch’ our emotions with full awareness. In fact, it is very interesting how Rumi mentioned that we even need to ‘entertain’ the guests. Frankly speaking, for now I can’t imagine I would be able to consciously open my heart, welcoming sorrows and depressions with such joy and excitement before they are coming…. but hey, who knows I would be able to do that in the next 70 years or so :p

The last three lines are the most powerful of all, at least in my opinion. Rumi was reminding us that things have been arranged by the higher power so that we can gain experiences and be able to learn from them coz every single thing points only one way, which is to God. What we need to do is to become aware of this very fact, then watch and listen carefully to the silence of our heart, so that we would know when ‘these guides’ come and what message God conveys to us through them.

Leave a comment

Filed under Contemplation, Poems

Dead or Not Dead?

Salah satu ekskul yang saya ikuti saat sekolah menengah adalah Palang Merah Remaja. Setelah saya coba ingat-ingat, ada satu topik di materi PMR yang membahas tentang cara menentukan apakah korban sudah meninggal dunia atau belum…. Iya dooong, kan berabe kalau kita mau menolong korban, tapi kita nggak tau dia masih hidup atau sudah meninggal 😀 Selain meraba nadi leher, cara lain yang saya ingat adalah memeriksa nafas di hidung korban. Yang terakhir ini, supaya vonisnya akurat, dianjurkan untuk memakai cermin atau kaca; kalau berembun berarti korban masih bernafas.

Naaah, pembahasan paragraf pertama saya relevan banget ya sama judul di atas….. *two thumbs up for Clio*

Tapiiiii…. yang mau saya bicarakan sebenarnya bukan penentuan Dead or Not Dead yang seperti itu…. ha..ha.. ketipu (btw, kalau paragraf nggak penting begini ditemukan Mbak Donna di dalam naskah, baik tulisannya maupun penulisnya dijamin nggak selamat :p *sori mbaaaaak……).

Yang mau saya bicarakan sebenarnya adalah ‘mematikan’ sebuah karakter dalam cerita. Yup. Saya rasa teman-teman pembaca ‘Eiffel, Tolong!’ atau FPTE sudah bisa menebak siapa yang saya maksud: The Legendary Andrew McGallaghan. Suit suiit…. *eh, kenapa juga suit suit ya*

Kalau menurut logika sih, harusnya tidak sulit mematikan seorang karakter, apalagi yang antagonis. Toh mereka hidup di atas kertas dan pembunuhan seperti ini bukanlah kejahatan dengan hukuman serius. Eh, ralat deng, …. bisa juga jadi serius, kalau yang dimatikan adalah karakter kesayangan mayoritas pembaca. Saya cukup yakin pengucilan dan demo yang mengarah ke anarkis akan menimpa saya kalau yang dimatikan adalah Kent :p

Logika ‘tidak sulit mematikan karakter antagonis’ tersebut tentu saja langsung diserang habis-habisan oleh Clio. Bukan hanya karena Clio nggak pernah kenal logika, senang menanyakan hal nggak penting dan suka membantah hal-hal yang belum dimengerti, tapi lebih karena…………dia sudah jatuh cinta sama sang karakter…. hiks…..hiks….

“Haaa?? Clio jatuh cinta sama Andrew?”

Ehm. Sebenarnya sih bukan cinta seperti kisah roman antara pria dan wanita gitu, walaupun si Clio itu pasti nggak keberatan juga dituduh seperti itu. Tapi lebih kepada keterlibatan emosional antara Clio dengan karakter, yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Di salah satu tulisan saya pernah cerita kalau keseluruhan kisah ini berawal dari khayalan masa kecil. Bayangkan berapa tahun hubungan Andrew dengan Clio sudah terjalin, hiks…..

Dan akhirnya, saya tetap harus memutuskan, karena dengan keputusan ini, plot akan berubah arah dan mengambil cabang cerita yang berbeda. Selain ceritanya itu sendiri, keputusan ini akan menentukan banyak hal:
– seberapa dalam saya akan mengupas sejarah Andrew
– cerita yang berkaitan dengan kematian orang tua Fay
– intrik yang terjadi di McGallaghan dan COU
– etc
dan yang terakhir, berapa episode buku lagi yang diperlukan untuk menamatkan cerita.

Jadi, apa keputusannya?

*keringat dingin*

Hmm…. tunggu dulu ya, perlu bertapa dulu kayaknya…. hasilnya antara dua: (1) Clio bertangis-tangisan haru dengan Andrew yang setuju untuk pergi dan pindah ke lain hati, atau (2) Clio pucat pasi dimarahi (or digebukin) Andrew. Let’s see…..

9 Comments

Filed under Writing Process