Monthly Archives: April 2011

Poem: Oneness

This is what would happen if one was listening to lots and lots of Josh Groban at 1.30 AM (and finished at 3.00 AM). An unavoidable consequence.


I miss the life I once had
Which I don’t remember ever had

Echoed by the moving cloud
The reminiscense stabbed my heart

O The Greatest, lift the veil in me
Tear the cloak of ignorance from me

Slit wildly to open the skin of my soul
Let my tears sooth what has rotten and full of mould

Bring back the moments I once had
When you are imminent in my heart

Where there exists no universe
Only Oneness


Filed under Contemplation

The Day of Prayers (or Quotes)

I think this day can be categorized as ‘The Day of the Prayers or Inspirational Quotes’. Within the last two hours, I have found two quotes that can also function as prayers (or, prayers that can function as quotes?).

This one was from an article, which was originated from a book titled ‘Thoughts in Solitude’.

“My Lord God,

I have no idea where I am going.
I do not see the road ahead of me.

I cannot know for certain where it will end.
Nor do I really know myself, and the fact that I think I am following your will does not mean that I am actually doing so.

But I believe that the desire to please you does in fact please you.
And I hope I have that desire in all that I am doing.

I hope that I will never do anything apart from that desire.
And I know that if I do this you will lead me by the right road, though I may know nothing about it.

Therefore I will trust you always though I may seem to be lost and in the shadow of death.
I will not fear, for you are ever with me, and you will never leave me to face my perils alone.”

{by Thomas Merton}

The following was taken from Paulo Coelho blog (

“Let me not pray to be sheltered from dangers,
but to be fearless in facing them.

Let me not beg for the stilling of my pain,
but for the heart to conquer it.

Let me not look for allies in life’s battlefield,
but to my own strength.

Let me not crave in anxious fear to be saved,
but hope for the patience to win my freedom.

Grant that I may not be a coward,
feeling Your mercy in my success alone;

But let me find the grasp of Your hand in my failure.”

{by Rabindranath Tagore}


Leave a comment

Filed under Contemplation

Excerpt from the Introduction of ‘The Secret of Secret’

I found an interesting passage in a book titled ‘The Secret of Secret’.

The Secret of Secrets

Before we discuss the content of the book, I just want to say that this book is one of the example where I couldn’t refrain myself from clicking the magical ‘Add Cart’ button in Amazon. *sigh*

I was sitting nicely reviewing some nice emails from friends, with my credit card safely sit in my wallet, untouched, while suddenly I spotted an email from Amazon, which said, “Hi Clio, you might be interested in these books…” At almost the same time as my eyes digesting what I read, my ears heard something else: a touching cry from my wallet, “Please, use me….” *double sigh*

Well, at this moment, I just count on the old saying that knowledge is a precious stone. And judging from what I read so far, I don’t regret my decision to buy it (although it would be better if a generous n handsome prince donates it to me…..).

Anyway, the interesting passage that I mentioned talks about how human has the responsibility to understand the true purpose behind his/her creation. God has created each human as a unique individual with specific gifts and potentials. Thus, each one of us will be held accountable for that, personally, in front of God.

What I found interesting is to know that the knowledge of ourselves will finally bring the realization of God in our heart.

Here we go……

“It is necessary for each individual to understand the nature and range of his potential gift. Only then can he know his actual relationship with the universe and his Creator and fulfil his trust, the function of viceregency (*khalifah) that he has accepted. And only then can he realize the true meaning and significance of the divine ordinances brought by the Holy Prophet.

Without this understanding, there is a danger that the teachings of religion may remain only an external dress, to be adhered to outwardly but not activated inwardly. When this happens, the practice of religion turns into a rule of customs and conventions and the presence of Allah within the heart is not realized.”

That was just part of the introduction, by the way. I just started reading it, so I guess it will be a loooong read…..

Leave a comment

Filed under Spirituality

Menulis Novel

Di tulisan ini saya tidak akan membahas tentang tips penulisan novel karena saya pun masih bergelimangan pusing saat menulis. Selain cara menulis saya sama sekali tidak terstruktur sehingga kadang banyak lompatan emosi yang nggak nyambung, saya seringkali kesulitan menemukan ekspresi yang tepat untuk menyampaikan maksud.

Tapi, ada tiga pertanyaan yang seringkali saya terima yang menurut saya bisa tercakup dalam judul di atas, jadi akan saya coba jawab sebisanya di sini –> yup, the title can be considered inappropriate since it doesn’t reflect the content, but that’s all I can think right now…. let’s see whether I can come up with a better title at the end of this article.

Pertanyaan pertama: bagaimana cara jadi penulis

Jawaban saya: “Just write, guyz….”  Oke, memang kedengarannya jawaban saya nggak berbobot banget, tapi ya mau gimana lagi, kan saya udah bilang kalau sulit menemukan ekspresi yang tepat untuk menyampaikan maksud ha..ha..

Seriously, menulis kan hanya mengutarakan apa yang ada di pikiran, menuliskan apa yang ingin disampaikan, menyampaikan maksud yang ingin diutarakan…lha, mbelit kan. Penulisan pastinya dimulai dari ide, dan dari ide itulah segala sesuatunya dikembangkan sesuka si penulis dengan memperhatikan kadar-kadar dan ketentuan penulisan.

So, if anyone would like to write, just sit down, think, feel and write.

Nah, setelah saya bilang seperti itu, kita akan masuk ke pertanyaan selanjutnya.

Pertanyaan kedua: tips menulis

Oops… saya pribadi tidak punya cara paten untuk menulis dan masih mencari bentuk yang nyaman untuk menstrukturkan tulisan. Tapi jangan khawatir, karena di internet sebenarnya banyak sekali artikel tentang tips menulis, baik dalam bahasa Indonesia ataupun Inggris. Saya biasanya pakai keyword, ‘writing tips’, ‘how to write novel’, ‘tips writing fiction’, dan yang sejenis-jenis itu di google.

Kalau mau tips paten yang keluar dari pengalaman asli editor, coba baca blog Mbak Donna:

Pertanyaan ketiga: bagaimana supaya tulisan bisa diterbitkan

Ini adalah proses yang termudah: tinggal cari informasi penerbit mana yang kamu incar (alamat, format naskah yang diinginkan oleh penerbit, proses penerbitan, dsb), print sesuai format, lalu kirim deh. Untuk hasil, tentunya banyak-banyak berdoa 🙂

Aktivitas utama dari proses ini adalah mencari informasi penerbit (nomor telepon), beserta segala informasi yang berkaitan dengan pengiriman dan seleksi naskah. Jangan ragu-ragu untuk menelepon langsung ke nomor telepon penerbit dan menanyakan cara pengiriman naskah. Sebagai gambaran, informasi yang bisa ditanyakan adalah:

  • format naskah –> kertas, font, jumlah halaman maksimal, dan kelengkapan naskah lain (misalnya sinopsis, biodata, dsb)
  • alamat pengiriman naskah –> ditujukan ke siapa
  • nomor kontak yang bisa dihubungi untuk menanyakan hasil dan kapan bisa dihubungi
  • apa proses selanjutnya bila naskah ditolak (apakah naskah dikembalikan, kalau iya, syaratnya apa)

Fiuh, untuk sementara ini dulu yaa…. nanti kalau kepikiran hal lain saya tambahkan lagi. Selamat menulis!

ps: I can’t find a better title, so let’s learn to live with it, shall we?


Filed under Writing Process

Tentang Bahasa Prancis

Banyak sekali teman-teman yang menanyakan apakah saya bisa bahasa Prancis. Jawabannya adalah, ‘I wish I can….’

Interaksi pertama saya dengan bahasa Prancis adalah tepat sebelum perjalanan ke Paris, saat saya masih kuliah. Saya sebelumnya sudah diberitahu bahwa orang Prancis jarang sekali mau bicara bahasa Inggris, walaupun mereka bisa, jadilah saya menyempatkan diri membeli buku panduan bahasa Prancis yang dilengkapi satu kaset (kalau nggak salah terbitan Berlitz), di salah satu peron kereta api di London.

Dan waktu kaset itu saya setel di perjalanan, saya terperangah. Ungkapan perasaan Fay di ‘Eiffel, Tolong!’ sebenarnya adalah ungkapan saya saat mendengar kaset itu 🙂 Bagaimana tidak bengong kalau yang tertulis sama sekali tidak bisa di’korelasikan’ dengan apa yang saya dengar? Saya sampai mengulang kaset berkali-kali untuk mengetahui pelafalannya.

Kalau di kereta saya baru kenal dengan bahasa Prancis, saat tiba di Paris, saya pun jatuh cinta dengannya (*jatuh cinta bukan berarti bisa lho ya…). Mendengar bahasa itu dilantunkan oleh orang Prancis seperti mendengar tumpahan perasaan, bukan sekedar kalimat berita biasa. Walaupun kalau kalimat yang diucapkan panjang-panjang kedengarannya jadi seperti luberan air tak bertepi, tetap saja bagi saya bahasa itu indah.

Sampai di Jakarta, saya melupakan cinta saya itu hingga saya kerja di perusahaan multinasional berbasis Prancis, thus, banyak orang Prancis bertebaran di sana-sini. Menurut saya, bukan hanya bahasa Prancis terdengar semakin indah saat diucapkan mereka, tapi aksen mereka ketika berbicara bahasa Inggris juga unik, dan entah kenapa tetap terdengar indah …. ha..ha.. subyektif banget ya, tapi begitulah kalau orang lagi jatuh cinta.

Akhirnya, saya memberanikan diri belajar di CCF Salemba, ikut kelas intensif selama dua sesi. Hasilnya waktu itu sih oke juga….. tapi kendalanya ada dua: pertama, prakteknya sulit karena di Indonesia bahasa Prancis tidak membumi, dan yang kedua, bosan. Alhasil, bahasa itu menguap dari otak saya, pindah ke lain hati juga karena ngambek dengan status hubungan yang nggak jelas dengan saya….(*eh, ini lagi ngomongin bahasa ya, bukan pacar? 🙂 )

Jadi, kalau sekarang saya ditanya, jawaban saya ya itu tadi, ‘I wish I can….’ Sekarang, walaupun niat untuk bisa masih ada, tapi saya tahu diri karena waktu tidak mengizinkan. Kecuali tentunya, kalau ada yang mau kasih kursus gratis dengan guru privat sekeren Reno atau secakep Kent, datang ke rumah pula ……. Yippieeee, count me in!

Akhir kata, untuk teman-teman yang punya kesempatan (waktu & biaya), tidak pernah ada kata ‘rugi’ untuk belajar bahasa. Sekedar ilustrasi, saat saya dulu iseng-iseng tanya ke kedutaan Swiss tentang beasiswa, pertanyaaan pertamanya adalah, “Bisa bahasa Prancis atau Jerman?” Oops…. lagi-lagi kalimat andalan yang keluar, “I wish I can…” 🙂

Bahasa adalah jendela dunia, salah satu titik awal dari kesempatan untuk melihat realitas yang lebih besar dari yang kita ketahui saat ini. So, let’s learn about the world and see how we can actively participate as the world’s residence!


Filed under Paris