Monthly Archives: March 2011

Fakta dalam Fiksi

“The difference between fiction and reality? Fiction has to make sense.” — Tom Clancy

“It’s no wonder that truth is stranger than fiction. Fiction has to make sense.” — Mark Twain

Ada satu hal yang ‘aneh’ tentang fiksi bila dibandingkan dengan kejadian nyata: kejadian nyata bisa saja terdengar tidak masuk akal, tapi yang namanya fiksi harus masuk akal. Tentu saja yang dimaksud fiksi di sini adalah yang non-fantasi, walaupun bisa diterapkan juga secara lebih sempit untuk jenis fiksi fantasi.

Dulu saya mengerutkan kening ketika membaca quotes ini. Bukankah di dalam kisah fiksi banyak hal yang tidak masuk akal? Dan bukankah di situlah keasikan membaca sebuah fiksi, ketika kita masuk ke alam khayal yang dalam dunia nyata hampir tidak mungkin terjadi?

Setelah saya mulai menulis, sedikit demi sedikit saya mulai mengerti makna quotes tadi. Semua hal di dunia harus berhenti pada titik keseimbangan, di tengah-tengah sebuah dualisme, tidak terkecuali sebuah novel fiksi. Ha? :p

Penjelasan sederhananya seperti ini:

Karena kekuatan fiksi ada pada kreativitas khayalan yang di dunia nyata hampir tak mungkin terjadi, maka hal itu harus diimbangi oleh ‘kemasuk-akalan’ unsur lain dalam cerita, yang bisa jadi berupa detail, plot, karakter, atau lainnya. Coba kita ambil contoh novel seri Jason Bourne karangan Robert Ludlum. Di novel tersebut, Jason Bourne digambarkan sebagai seorang super-agent yang selalu selangkah lebih maju daripada musuh-musuhnya, yang adalah agen-agen khusus CIA. Di dunia nyata, tentu sosok se-manusia-super seperti Jason Bourne tidak ada (atau jaraaaaaang banget :p ). Untuk mengimbangi kemustahilan tersebut, Ludlum membuat detail-detail yang menggambarkan kegigihan dan ke-super-an Jason Bourne, sehingga akhirnya kemustahilan itu sendiri pupus. Atau dengan kata lain, pembaca dibuat percaya bahwa sosok Jason Bourne terasa sangat nyata dan kisahnya pun jadi masuk akal.

Akhirnya, sampailah saya pada bagian yang menyebalkan dari temuan ini: untuk membuat sesuatu yang mustahil jadi terasa masuk akal, diperlukan pemaparan detail-detail dalam cerita, dan itu berarti….. PENGUMPULAN FAKTA! OMG!

*”Aaaarrrrgggghhh……!”*

Dari semua kegiatan penyusunan cerita yang membuat saya stress, aktivitas pengumpulan fakta adalah bagian yang paling menyebalkan dari semua! Saya lebih suka membayangkan tokoh-tokoh saya ciuman (Kent dan Fay…. Kent dan Clio… ‘eh, fokus‘…. Kent dan Fay… Andrew dan Clio… ‘STOP, Clio!‘) atau berkelahi, daripada harus nongkrongin komputer berhari-hari suntuk (bukannya semalam suntuk lagi!) untuk melototin peta dan mencari detail nama jalan, mengebrowse ratusan gambar dan foto hingga mata belo, sipit, dan belo lagi hanya untuk mendapatkan dua baris deskripsi yang memuaskan, atau membaca berita berlembar-lembar hanya untuk mendapatkan informasi tentang satu tempat, yang akhirnya cuma jadi satu paragraf saja!!!

Sebagai ilustrasi, hanya untuk mendapatkan nama beberapa stasiun metro di buku ‘Eiffel, Tolong!’, saya harus mendownload peta subway, lalu mencoba mencari informasi area-area yang ada di peta tersebut di google. Bagaimanapun juga, saya harus tahu—bagaimana kalau saya bilang stasiun terdekat dengan rumah Fay di A, padahal aslinya stasiun A berada di tengah daerah industri dan tidak ada perumahan sekitar itu?

Di buku ‘From Paris to Eternity’, saya butuh waktu lamaaaaaaa sekali hingga berhasil menemukan deskripsi yang (mudah-mudahan) pas untuk menggambarkan Fontainebleau. Mulai dari download peta istana, peta daerah, browse kiri-kanan tentang artikelnya, hingga melototin foto-fotonya. Belum lagi kalau informasi yang saya cari (biasanya tag atau informasi yang tertulis di foto) dalam bahasa Perancis, euuurrrrgghhh…. usahanya jadi dua kali lipat karena saya harus mencari dulu artinya di kamus French-English.

Kedengarannya menyebalkan ya? Tentu saja! *awas, si Clio lagi sensi

But hey, life goes on and somebody’s gotta do the dirty job. Karena yang udah kebagian berasik-asik mengkhayal adegan ciuman adalah si Clio, tentu si Clio juga yang harus kebagian pekerjaan nggak enak mencari fakta sampai error. Memang, hidup hanya terasa adil kalau dilihat dari kacamata orang lain. *keluhan nggak penting sok filosofis

Tentu saja saya tidak berhak mengeluh, karena ini hanyalah sebagian dari proses penulisan yang memang harus dilalui, bukan hanya oleh saya, tapi oleh semua penulis lain. Walaupun detail menyebalkan (bukan hanya untuk yang menulis, tapi kadang untuk yang membaca), tetap harus ditampilkan sambil berharap porsinya ‘cukup’ sehingga lebih-kurangnya bisa diterima. Itu juga kadang-kadang kita bisa menemukan ‘hole’ dalam fakta di sebuah novel—sudah pasti kesalahan penulis akibat kurang akuratnya fakta yang ditampilkan. Tapi yah, kalau sebuah novel sudah diterbitkan, yang bisa diharapkan oleh penulis adalah kesalahan tersebut tidak fatal (*kalau fatal harusnya sudah ‘tertangkap’ mata editor-editor yang jeli), dan pintu maaf yang sebesar-besarnya dari pembaca 😀

Dan akhirnya, tidak ada yang lebih melegakan daripada melihat wajah editor (Mbak Donna & Mbak Vera) yang tersenyum dan mengatakan kata ajaib itu, “Oke. Nggak perlu revisi lagi, tinggal diedit.” Horeeeeeee…… ! Terbayar lah sudah semua kerja keras pengumpulan fakta. Capek? Enggak tuh…. siapa bilang? Lha, tadi katanya bete? Masa’ sih…. ah, salah ngerti kali 😉

4 Comments

Filed under Writing Process

Buku/Penulis Favorit

The Alchemist

Di akhir tahun 2008, saya membaca sebuah buku dari Paulo Coelho berjudul The Alchemist, dan sejak itu, baik buku maupun penulisnya ada di posisi teratas dari daftar buku/penulis favorit saya.

Bagi saya, buku ini adalah pembuka mata, hati, dan pikiran, yang mengarahkan saya pada hidup yang bermakna. Buku ini mengajarkan saya tentang pentingnya menghidupkan ‘mimpi’ atau cita-cita dalam relung hati terdalam, dengan kemurnian seorang balita yang melihat dunia dengan mata binar penuh harapan. Seorang anak yang ditanya tentang cita-citanya akan dengan mudah menjawab tanpa pretensi. Jawaban ‘astronot’, ‘polisi’, ‘balerina’, ‘tukang jamu’ (*yes, teman saya ada yang menjawab seperti ini :p ), dikeluarkan tanpa rasa khawatir akan persepsi orang lain, kesulitan dan tantangan yang dihadapi saat mencoba melakoninya, ketakutan dari sisi finansial, atau dari pertimbangan baik-buruk dari sisi akal semata. Perhatikan binar seorang anak kecil saat mengatakannya — yang ada hanya harapan dan kebahagiaan.

Di masa remaja, jawaban itu sudah mulai terdistorsi oleh lingkungan. Harapan orang tua, persepsi lingkungan, tekanan sosial, dan keuntungan/kerugian finansial (yang biasanya juga hasil pemikiran dan pertimbangan orang yang lebih tua), biasanya menjadi faktor dalam mempertimbangkan pilihan masa depan. Bila pertimbangan itu tidak berseberangan dengan keinginan hati, tentu tidak masalah. Tapi seringkali, pertimbangan-pertimbangan itu tidak mengikutsertakan yang bersangkutan — jadilah kita, yang harusnya menjadi subyek aktif, dalam hal ini menjadi obyek penderita.

Bila obyek (baca: kita) sudah menyadari dari dini apa yang diinginkan, kemungkinan pada masa-masa ini akan mengalami konflik klise: “I want A, but my parents prefer I choose B.

Bila obyek (baca: kita) tidak punya kesadaran dini apa yang kita inginkan dalam hidup, kemungkinan hanya akan ada anggukan pasrah: “Oke lah… pilihan itu juga nggak jelek kaaan….”

Apapun kondisinya, pada akhirnya bila jalur yang dipilih (atau dipilihkan) memang ‘sesuai’ dengan jiwa kita, pekerjaan rumah kita sebagai manusia sudah selesai satu 🙂

Masalah akan timbul bila jalur yang dipilih (atau dipilihkan) ternyata diketahui belakangan tidak ‘sesuai’ dengan jiwa kita, dan jiwa kita pun dengan nekad dan nggak tau diri berontak pula :p Dan ini yang diyakini oleh seorang Paulo Coelho, yang dinyatakan baik secara eksplisit atau implisit dalam buku-bukunya (The Alchemist, Veronica Decides to Die, The Pilgrimage, dsb): jiwa kita cepat atau lambat akan memberontak terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan panggilannya, karena panggilan itu sesungguhnya ditorehkan oleh Sang Maha Kuasa di jiwa kita. Ho..ho..ho…. this stuff is getting serious.

Pemberontakan yang diredam oleh diri sendiri dengan alasan ‘terlanjur’, tapi tidak bisa diikhlaskan dengan sungguh-sungguh (yang dimaksud di sini bukan lip service seperti “ya udah deh, gue ikhlas kok…”, tapi lebih kepada keikhlasan hati untuk menerima apa sedang dijalani), akan menghasilkan manusia-manusia yang dipenuhi kepahitan saat menghadapi hidup (yang digambarkan dengan sempurna, menurut saya, dalam buku Veronica Decides to Die). Untuk itu, seseorang perlu melihat kembali ke dalam dirinya untuk menemukan jati dirinya sendiri dalam hati yang terdalam, yang selama ini sudah tertutup, dan menanyakan pertanyaan mendasar, “What is my passion? How can I serve my purpose in this life?” Bidang atau pekerjaan apakah yang bisa dilakoni dengan gairah dan cinta, sehingga hidup setiap harinya menjadi bermakna dengan berkarya di jalanNya?

Pertanyaan ini mungkin tidak mengusik semua orang, tapi dua tahun lalu ini mengusik saya BANGEEEEET 🙂

Secara singkat, pertanyaan berikut mungkin bisa memberi gambaran seperti apa perjalanan hidup saya hingga sampai harus terusik oleh pertanyaan ‘standar’ seperti itu:
– SD: “Ngapain ya harus belajar susah-susah?”
– SMP: “Habis SD ke SMP, trus abis dari sini masih ada SMA, abis itu masih kuliah pula…. Kok sekolah melulu ya…. kapan selesainya?”
– SMA: “Emang apa pentingnya ya tau apa yg dipelajari sekarang sampai sesak nafas begini?”
– Kuliah: “What the hell am I learning??”
– Kerja: “What the hell am I doing? So, I should be doing this for the next 35 years, then get a pension, then die?? What’s the point of having a life—-can I even call it a life?? What does God want from me?!”

Saya sampai menulis email langsung ke Paulo Coelho, menanyakan tentang hal ini. Dan percaya nggak percaya, surat saya dimuat di blog beliau keesokan harinya, dan dijawab langsung. OMG, I was speechless for days!

Jadi, sejak saat itu saya mencari. Saya ingin tahu untuk apa saya ada di dunia. Saya ingin membuktikan ‘tagline’ terkenal di The Alchemist: “When you want something, the universe will conspire to make it happen.” Atau, terjemahan bebasnya: “Bila kamu menginginkan sesuatu, maka alam semesta akan berkonspirasi untuk membuatnya terjadi.” Wow, so powerful, isn’t it?

Tentu saja jalan pencarian itu tidak mudah. Dan akhirnya setelah tersandung kiri-kanan-depan-belakang-atas-bawah (*sampai jungkir balik), saya percaya Tuhan Maha Pemurah. Seperti yang disebut dalam Al-Quran, Tuhan tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan; jadi apapun yang Dia minta kita lakukan, pasti sudah Dia berikan kemampuan itu kepada kita sebagai bekal.

Hmm…. sebenarnya saya cuma mau bilang kalau buku ini adalah favorit saya, mungkin sepanjang masa. Tapi kok jadi panjang begini ya… ? He..he..

Anyway, mudah-mudahan berguna.

5 Comments

Filed under Inspiring Books, My Reading

Tentang Paris

Eiffel Tower Sketch

Dengan setting cerita Fay di Paris, banyak sekali yang bertanya apakah saya pernah mengunjungi Paris. Saya tentunya tersanjung doong dengan pertanyaan itu, he..he.. Menurut interpretasi ge-er saya, dengan diajukannya pertanyaan itu, berarti deskripsi saya tentang Paris cukup meyakinkan sehingga teman-teman pembaca bisa larut dalam suasana kota Paris.

Jawaban saya atas pertanyaan itu, “Iya, saya pernah ke Paris lebih dari dua belas tahun yang lalu selama tiga malam, mengunjungi seorang Tante yang tinggal di Paris karena mengikuti suaminya yang ditugaskan di KBRI.”

Lalu, apakah pengalaman tiga malam itu cukup untuk mengetahui seluk beluk kota Paris? Jawabannya tentu saja ‘tidak’. Saya sudah puluhan tahun tinggal di Jakarta dan sampai detik ini pun pengetahuan saya tentang jalan-jalan kota Jakarta hanya seputar tempat tinggal, sekolah, mall (hanya yang sering dikunjungi), tempat kerja, dan jalan-jalan protokol saja. Pengalaman selama tiga malam tidak bisa menangkap detail kota Paris, tapi dari pengalaman singkat itu saya bisa menangkap suasana kota Paris. Setiap kota mempunyai energi yang berbeda, hasil perpaduan antara budaya, kebiasaan, sejarah, ‘prototipe’ penduduk kotanya, dan banyak hal lainnya. Sampai saat ini, saya tidak bisa melupakan ‘crowd’ yang ada di jalan-jalan sekitar Eiffel, termasuk perasaan saya saat melintasi jalan dan mendengar percakapan dalam bahasa Perancis yang tidak saya mengerti sama sekali, dengan pemandangan Louvre atau Eiffel sebagai latar belakang.

Jadi, bagaimana saya bisa tahu detail jalan-jalan tidak hanya di Paris, tapi bahkan di Fontainebleau yang bahkan belum pernah saya kunjungi?

Jawabannya adalah: keajaiban internet! Saya harus angkat topi kepada para perintis penelitian internet di tahun 50-60-an di Universitas Cornell, Amerika (kalau tidak salah ingat pelajaran sejarah komputer) :p Berkat mereka, semua informasi sekarang begitu mudah didapat, hanya dengan modal koneksi, tekad baja untuk menemukan informasi yang tepat, secangkir (atau dua cangkir) kopi untuk menemani begadang, dan kacamata silinder supaya saya tidak pusing 🙂

Nah, jadi sudah terjawab yaaaa…… 🙂

5 Comments

Filed under Paris